SMP dan SMA Lokon St. Nikolaus berasrama, masih menerima siswa baru
Berita Terbaru :

Tim Losnito Juara 2 Journalistic Competition Honda DBL 2016

Best Photographer (Holly Maria Lala) dan Champion 3X3 Loop Competition DBL 2016

Seleksi OSN SMP Se-Tomohon

"Setiap sekolah mengirimkan tiga siswa terbaiknya dalam bidang Matematika, IPA dan IPS" kata Kepala Sekolah SMP Lokon, Bp. Marthinus Senduk, SS, M.Si.

LKTD Kelas X SMA Lokon

"Pelaksana LKTD, bukan hanya pengurus OSIS tetapi seluruh siswa angkatan 13, Bravery" ujar Rachelindo, salah satu tutor LKTD yang aktif..

Pesta Emas Perkawinan Ronald Korompis dan Mary Wewengkang

Mensyukuri usia perkawinan ke 50 tahun. Begitulah yang dirasakan oleh pasangan suami istri Om Ronald Korompis dan Tante Mary Wewengkang.

Ini Daftar Prestasi SMA Lokon 2015

SMA Lokon St. Nikolaus memacu prestasi siswa-siswinya dengan mengikuti berbagai Lomba di tingkat kota/kabupaten, Propinsi dan Nasional.

30 April 2012

X-pressi Party, Hanya Jawara di Mading dan Handmade



"Dress", itulah judul hadmade yang dibuat oleh Ni Made Wulandari dan Serlia Bawan, Kelax XI, SMA Lokon dalam ajang kompetisi X-presi Party 27-28 April 2012 di Manado Town Square (Mantos). Dewan Juri memberi penghargaan Juara I Handmade, bukan tanpa alasan.

Dua siswa Losnito ini merancang busana dengan menggunakan bahan dasar koran bekas. Memang, limbah sampah menjadi syarat utama dalam lomba ini. Pemanfaatan limbah sampah diusung untuk merangsang kreativitas siswa dalam menterjemahkan "go Green". Juri terpesona terhadap kerja detail dua siswa Lokon ini yang tingkat kesulitannya tinggi di bandingkan dengan "Payung" dari peserta lain.

Berikut hasil raihan SMA Lokon dalam ajang X-pressi Party 2012:
  1. 10 besar Lomba BAND, by Ninety Nine
  2. 10 besar Modeling Putra, by Reynaldi Rumetor
  3. Juara 1 Handmade, by Ni Made Wulandari, Serlia Bawan
  4. 5 besar Mading, by Lokon II team
  5. Juara 1 Mading by Lokon II
  6. 10 besar Speech Competition, by Eunike Karamoy


Ajang X-pressi Party ini tak hanya tingkat SMA tetapi juga SMP. Lomba-lomba lain yang belumberhasil diraih oleh SMA/SMP Lokokon adalah
  1. Jurnalistik SMP
  2. Mading SMP
  3. Karya Tulis
  4. Best Foto (Fotografi)
  5. Jurnalistik SMA
  6. Modeling Putri
 Semoga tahun depan bisa disiapkan lebih baik. Unyuk juara umum Xpressi 2012 ini diraih oleh Benzar, sama seperti tahun lalu.

Foto BW Pendidikan Nasional (Liputan Character Building)



Entah mengapa. Setiap kali teman-teman Kamprets berbicara tantangan foto BW (Hitam Putih), pikiran saya selalu tertuju pada pendidikan di Indonesia. Apakah karena menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei nanti (dua hari lagi)? Atau karena perasaan saya saja yang ingin mengatakan bahwa bukan hanya foto yang BW tetapi dunia pendidikan kita pun juga ada BW-nya?

Yang jelas aroma Hardiknas sudah terasa di sekitar saya. Jumat dan Sabtu kemarin saya diminta untuk mengisi session “Character Building” bagi 112 siswa kelas X, Angkatan 10th, SMA Lokon berasrama. Dalam dua hari itu, saya disuruh untuk membentuk karakter para remaja itu dengan sebaik-baiknya. “Pokoknya terima beres”, kata salah satu guru BK sekolah itu.

Bukan tanpa alasan kalau sekolah menunjuk saya untuk “mengisi” kegiatan Character Building. Mulai dari angkatan 5 hingga angkatan 9, saya bersama tim selalu mendampingi dalam setiap kegiatan outbound dari pagi hingga sore. Seakarang mereka minta untuk dua hari. Siang, sore dan malam harus ada kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter.

Ketika sedang menjamu guru BK dan Wakasek Bidang Kesiswaan itu, tedengar dari kejauhan suara marching band yang sedang latihan. “Nah, suara marching band itu menjadi tanda bahwa Hardiknas makin dekat. Biasa, setiap Hardiknas ada pawai pendidikan. Siap-siap marching band, drum band, musik bambu, kolintang dan tarian tradisional dari setiap sekolah, ikut pawai” kata pak Tommy,  Wakasek Bidang Kesiswaan, saat ketemu dengan saya untuk acara Character Building.


Apakah kegiatan Character Building ini juga dalam rangka untuk memperingati Hardiknas? Yang jelas memang dari segi waktu berdekatan dengan Hardiknas, 2 Mei.  Setelah mereka pulang, lalu saya mulai berpikir tentang materi pembentukan karakter bagi 112 siswa sekolah berasrama itu.

Kemudian saya ingat ada seorang dosen filsafat yang mengatakan bahwa “Hidup yang berhasil itu berbeda dengan hidup yang bermakna. Lazimnya keberhasilan seorang diukur dari apa yang dicapai dan diperoleh. Sedangkan seseorang hidupnya bermakna terletak pada kemampuannya untuk memberi. Jadi, seorang guru yang sejati adalah seorang pribadi yang ingin memberikan dirinya agar hidup orang lain (siswa) menjadi bermakna”.

Tak jauh dari arti itu, pepatah dalam bahasa Latin menyebutnya, “Non scholae sed vitae discimus” (saya belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup). Karena itu, pemaknaan tentang pendidikan tak hanya untuk meraih prestasi setinggi mungkin di bidang akademis, (termasuk lulus UN 100%) tetapi aspek budi pekerti, etika moral, spiritual dan fisik termasuk dalam ranah intelgensia yang penting untuk pembentukan kepribadian siswa.



“Pendidikan memang harus diprioritaskan oleh negara. Saat ini yang dibutuhkan adalah revitalisasi persekolahan dan pendidikan secara umun untuk kembali pada tujuannya.  Karena itu, ada tiga syarat agar negara ini bisa maju. Yang pertama, pendidikan. Yang kedua, pendidikan dan yang  ketiga pendidikan.” kata Om Ronald, owner sekolah berasrama. “Mengapa pendidikan? Karena esensi dari pendidikan itu adalah pembentukan anak cucu bangsa yang utuh dan berkualitas serta takut akan Tuhan. Kalau pendidikannya saja tidak berkualitas, mana bisa membentuk manusia secara utuh dan berkualitas sebagai penerus bangsa ini?” lanjutnya dengan nada sedkit menggerutu terhadap sikon pendidikan di Indonesia dewasa ini.

Referensi itu, lalu saya jadikan bahan dasar untuk membuat materi pembentukan karakter selama dua hari itu. Hari pertama peserta yang terbagi dalam 10 kelompok, saya ajak untuk mengikuti Mahawu Jungle Trekking di hutan kaki Gunung Mahawu. Dalam trekking itu, setiap kelompok harus melalui 10 pos dan di setiap pos setiap kelompok mengerjakan tugas seperti asah otak, jembatan manusia, kapal pecah, estafet balon, menara air dll.

Dalam kegiatan itu, metode learning by doing atau sering disebut juga Experiential Learning kami pakai karena dengan cara itu, peserta bisa belajar banyak hal seperti leadership, kekompakan, team work, kecepatan memecahkan masalah, kepedulian, kebersamaan, motivasi, kreativitas, bela rasa dll. Sejauh pengamatan saya, saat mereka mendapatkan tugas di pos, setiap kelompok bisa menunjukkan sebagai team work dan leadership yang bagus.

Sebelum makan malam, diadakan pengayaan dan refleksi atas kegiatan trekking, di ruang meeting. Tema “Global Warming” dipilih terkait dengan kegiatan pengalaman perjalanan mereka di hutan. Kemudian benang berah trekking dan global warming diolah dan diekspresikan pada sebuah lukisan di atas karton Manila yang sesudah makan malam dipresentasikan. Monitoring pembentukan karakter dilakukan dengan cara menayangkan lewat proyektor foto-foto kegiatan mereka tadi.



Hari kedua , kegiatan berfokusn pada pembentukan karakter berbasis angkatan, bukan kelompok-kelompok lagi. Di Amphiteater terbuka, semua kegiatan seperti oposite, Pedang Samurai, Maju Mundur, Bangun bersama, Komunikasi, Folding Carpet, Labirin, dll dilaksanakan hingga sore hari.

Malam harinya kami adakan api unggun untuk menilai Yel-yel terbaik dan pementasan setiap kelompok. Hadiah bagi yang terbaik sudah kami siapkan dan kami beritahu sejak awal untuk memotivasi mereka bahwa fun games itu sebuah permainan namun tidak main-main.  Sebelum api unggun, dikumpulkan di ruang meeting untuk merefleksikan melalui foto-foto kegiatan pagi hingga sore hari. Sesudah itu, saya mengajak mereka untuk bergandengan sambil menyanyikan lagu-lagu kebersamaan.

Proses pembentukan karakter itu tidak semudah membalik tangan. Menjadi sebuah tantangan besar ketika saya mengetahui bahwa asal-usul siswa berasal dari Timika, Kaimana, Jayapura, Manado, Maluku, Makasar, Palu, Kotamobagu, Bitung, Sangir Talaud, Jawa, Kalimantan. Dalam pluralitas itulah pembentukan karakter harus dijalankan agar mereka paham bahwa untuk menjadi seorang pemimpin mereka harus bisa memimpin dirinya sendiri kendati keanekaragaman budaya, ekonomi,  bahasa, watak itu berbeda-beda.

Saya pun terpaksa dengan nada marah menggertak siswa-siswa yang berbicara sendiri ketika temannya sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Masuk melalui telinga kiri keluar dari telinga kanan, dan tidak peduli serta kurang berpatisipasi terhadap setiap kegiatan, sudah saya pikirkan sejak awal seiring dengan perkembangan keremajaan mereka yang masih labil dan emosional.



Cerita pendidikan ini rasanya tak sesuai bagi mereka yang karena miskin lalu tidak bisa bersekolah. Miris memang jika mendengar bahwa sekolah itu mahal, sementara jumlah orang miskin makin bertambah seiring dengan minimnya lapangan pekerjaan.  Kendati ada istilah arisan pendidikan, namun toh bukan solusi instan. Lebih ironis, apabila diketahui, subsidi pendidikan yang seharusnya untuk memajukan pendidikan dan memberikan pendidikan gratis bagi yang tidak mampu, ujung-ujungnya dikorupsi. Hati siapa yang tak galau ketika tersiar kabar dana BOS dipakai untuk plesiran ke luar negeri oleh segelintir wakil rakyat? (trilokon)

15 April 2012

Menuju Prestasi Olah Raga ke Tingkat Propinsi


Tomohon, Manajer Pak Rommy Datu melaporkan bahwa hari ini (11/4) sudah berlangsung pertandingan di mana SMA Lokon menjadi tuan rumah. Pertandingan: Lari 100 meter, lompat jauh, bulutangkis, tenis meja, karate Setiap sekolah boleh mengirim tiga orang dan tiga pemenang akan mewakili kota Tomohon.

Hasil yang bisa dilaporkan:
1. Lari 100 meter putra: Lokon juara I dan II.
2. Lari 100 meter putri: Lokon juara 1 dan II.
3. Lompat jauh putra: Lokon juara I dan III.
4. Lompat jauh putri: Lokon juara 1
5. Bulutangkis putra: Lokon juara 1
6. Bulutangkis putri: Lokon kalah
7. Karate: tidak ada wakil Lokon. Tidak tahu karate.

Jadi, Lokon berhak mengutus 8 orang untuk menjadi wakil Tomohon dalam pertandingan di propinsi nanti.

11 April pukul 16:15 | Info dari Bp. Ferry Doringin, PhD, Kepsek SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon

14 April 2012

Contact


Yayasan Pendidikan Lokon:
SMP Lokon St. Nikolaus
SMA Lokon St. Nikolaus


Alamat
Jl. Perlombaan No. 99
Kakaskasen II, Tomohon Utara
Kota Tomohon,
Sulawesi Utara 95416

Telpon
SMP :  0431.354578, 0431.351660
SMA : 0431.3158695, 0431. 351929

Fax
SMA - 0431 3158695
YPL - 0431.351240

Website
www.smalokon.com
www.smplokon.sch.id

E-mail
contact@smplokon.sch.id

Facebook:
SMA Lokon St. Nikolaus
SMP Lokon St. Nikolaus

Twitter:
@smalokon 
@SMPLokon



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More