Tes Masuk siswa baru SMP LOKON & SMA LOKON berasrama Tahun Pelajaran 2017/2018 telah dibuka.

Konjen Australia dan Akbar Tanjung ke Lokon

"Konsulat Jendral Australia Richard Mathews, dan Akbar Tanjung bersama ibu-ibu Yayasan Warna-Warni Jakarta.

SMA Lokon Koleksi Prestasi 2016

The Best Design Themes TIFF 2016, Juara III Basket Putra Rex Mundi Cup 2016, Juara II Tim Journalist Rex Mundi Cup.

Lokon School Chinese Site

Sesuai dengan MOU YPL dan CI (Confucius Institute), kami akan mengirim guru pengajar Bahasa Mandarin dari Tiongkok.

Dari Festival Panas Bumi

Pemkot Tomohon menggelar Festival Panas Bumi, Tomohon Linow Lake, Tournament of Flowers, Festival Kuliner, Fashion Flower Carnival dalam rangka TIFF.

KKN UGM Memotivasi Siswa Lokon

Kedatangan para mahasiswa KKN PPM (Kuliah Kerja Nyata dan Pembelajaran Pengabdian Masyarakat) pos Kakaskasen dan pos Leilem, Tomohon.

30 September 2010

Semiloka Internasional: "INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DAN PROSPEKNYA DI INDONESIA"

Sekolah-sekolah yang berlabel RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) saat ini sedang menaruh nasibnya pada pemerintah apakah akan diresmikan menjadi SBI (sekolah bertaraf internasional) atau tereliminir dari SBI. Betapa tidak. Seakan berlomba, 1.110 sekolah RSBI SD, SMP. SMA dan SMK di Indonesia memacu diri untuk memenuhi standard SBI yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Bantuan dana milyaran rupiah demi peningkatan kualitas pendidikan itu telah digelontorkan oleh pemerintah melalui Diknas, Pemda, Pemkot dan block grant. Maka tidak heran kalau setiap sekolah RSBI memoles diri dan berbenah untuk memenuhi Kriteria SBI: SNP, Guru, Kepala Sekolah, Sarpras, Kurikulum, Pembelajaran, Manajemen (berbasis TIK dan ISO), Evaluasi (daya saing Internasional), Lulusan, Kultur Sekolah, Pembiayaan.

Yang menarik diperbincangkan adalah kecenderungan sekolah untuk membeli lisensi internasional dari pemasok sistem pendidikan luar negeri. Lisensi ini dibeli dan diadopsi ke sistem pendidikan agar siswa mendapatkan kemudahan untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Yang paling banyak dipakai di sekolah-sekolah RSBI adalah IB, Cambridge dan Australian Curriculum. Akibat dari pembelian lisensi ini, sekolah harus siap dengan sarpras, biaya operasioanal dan sdm (tenaga pendidik dan kependidikan). Bahasa yang dipopulerkan tentang sistem pendidikan RSBI adalah SPN + X. Maksudnya adalah menggunakan Standard Pendidikan Nasional plus X (adopsi dan memakai lisensi kurikulum luar negeri).


Semiloka Internasional yang berlangsung di Kampus UKSW Saltiga, 29-30 September 2010 bertujuan untuk memberikan gambaran sistem pendidikan di Australia (satu negara OECD) dan memahami konsep tentang SBI dan aplikasinya serta mencari solusi atas kendala-kendala pelaksanaan SBI di daerah. Di samping itu, peserta dibuka paradigmanya tentang pendidikan dari para pakar pendidikan.

Peserta Seminar berjumlah 125 yang kebanyakan berasal dari Sekolah-sekolah RSBI di daerah Jawa Tengah seperti Temanggung, Kudus, Magelang, Salatiga dan dari Sulawesi berasal dari Makasar, Tomohon, Papua Barat (Sorong, Manokwari).

Hari Pertama (29 Sept) peserta diajak untuk mengikuti Seminar:
  1. Sistem Pendidikan di Australia dan Internasionalisasi Pendidikan di Indonesia oleh Prof. Mervyn Hyde, PhD & DR (HC) Willi Toisuta, PhD
  2. Pengalaman dan Tantangan Penerapan Kebijakan SBI di Indonesia dan SBI di Indonesia Aplikasi dan Kendalannya oleh Prof. Dr. Slameto, PGSD FKIP UKSW Salatiga.
  3. Model Peningkatan Kapasitas Guru di Indonesia dan Australia, oleh Suzanne Burford dan Ir. Eka Simanjutak, MM
Hari Kedua (30 Sept), peserta diajak untuk kunjungan ke sekolah SBI
  1. Kunjungan ke SMAN 1 Salatiga
  2. Presentasi dari Kepala Sekolah Mountainview ICS Salatiga dan Kepala Sekolah SMAN 1 Salatiga tentang pengalaman dan tanatangan Penerapan Kebijakan SBI
Selama seminar berlangsung, peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk memperhatikan dan memperdalam tentang penerapan kebijakan SBI. Beberapa hal yang terus menjadi perbincangan adalah:
  • Sumber Daya Manusia: kendala yang dihadapi kapasitas guru untuk berbicara dalam bilingual, memenuhi standard 30 % guru yang S2, applicable in ISO
  • Kurikulum: lisensi sistem pendidikan luar negeri yang mahal, ISO selain mahal juga mendapat tantangan budaya kualitas sdm, tidak mudahnya mendapatkan sister school,
  • Pembiayaan: sumber dana mulai terbatas dan dibatasi
  • Sarana Prasarana: menciptakan sekolah yang green dan clean school
Meski menghadapi tantangan-tantangan itu, banyak peserta menyadari bahwa meningkatkan kualitas pendidikan  di Indonesia harus dimulai dari sekarang. Apapun tantangan, hambatan dan kendala dalam mewujudkan sekolah menjadi SBI, tetap harus memiliki keyakinan dan semangat bahwa kelak di kemudian hari siswa-siswa kita akan semakin maju dan tidak kalah pandainya dengan sekolah-sekolah Internasioal di luar negeri.

Beberapa Catatan
  1. Antusiasme dari para utusan sekolah-sekolah dalam upaya untuk "Internasionalisasi Pendidikan" di sekolahnya, tampak bersemangat meski menghadapi tantangan manajemen, sarpras dan beaya yang besar.
  2. Sister school atau membangun kemitraan dengan Sekolah di Luar Negeri, sangat diperlukan dalam upaya menjaga bobot "internasional" sekolah. UJntuk itu, sekolah dianjurkan proaktif menjalin komunikasi dan koordinasi dengan sekolah-sekolah luar negeri supaya bisa dijadikan sister school.
  3. Double Sertifikat/Degree (Standard Pendidikan Nasional dan Standard Luar Negeri) menjadi "ciri khas" bahwa sekolah di Indonesia memang berstandard Internasional.
  4. Pengembangan profesional bagi guru-guru SBI bisa kerjasama dengan University of the Sunshine Coast, Queensland, Australia. Hal ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Papua Barat dengan mengirim guru-guru sekolah negeri ke program ini selama 8-13 minggu.


Opini: INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN INDONESIA, MAJU KENA MUNDUR JUGA KENA?

Menurut data Education Development Index (EDI) yang diterbitkan UNESCO pada 2007, peringkat Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 58 menjadi peringkat 62 dari antara 130 negara.  Skor EDI Indonesia adalah 0,935 yang lebih rendah daripada Malaysia (0,945) dan Brunei Darusalam (0,965). Hal ini mendorong para penanggungjawab dan pelaku pendidikan di Indonesia untuk berupaya mendesain berbagai program dan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik.

Salah satu kebijakan pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia adalah penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) [Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003  pasal 50 ayat (3) dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 61 ayat (1)]. Kebijakan SBI diharapkan dapat menjadi faktor pendorong bagi Pemerintah Pusat dan Daerah (Propinsi dan Kabupaten) guna meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di Indonesia.

Di Indonesia, sekolah bertaraf internasional diawali dengan didirikannya sekolah-sekolah yang disiapkan khusus untuk menampung siswa-siwa asing, yang orangtuanya bekerja sebagai diplomat asing ataupun bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional seperti Jakarta Internasional School (JIS), yang didirikan tahun 1951. Sejak itu, mulai bermunculan berbagai sekolah bertaraf/berstandar internasional di Indonesia, baik yang didirikan oleh kantor-kantor Kedutaan Besar asing maupun oleh lembaga-lembaga swasta (domestik dan asing) yang bergerak di bidang pendidikan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional mendefinikan SBI sebagai satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu Negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya (X), yang dirumuskan :SNP + X

Walapun berbagai peraturan terkait SBI telah diterbitkan, namun belum ada panduan operasional yang jelas untuk mencapai standar tersebut. Dibangunnya faktor ’X’ oleh masing-masing SBI yang ada di Indonesia mengakibatkan sistem dan model yang dianut oleh masing-masing sekolah jadi berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, yang akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan dan lulusan yang tidak seragam.

Saat ini di seluruh Indonesia sudah terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah bertaraf internasional dengan menggunakan sistem yang berbeda-beda. Kurang lebih ada 3 (tiga) sistem yang paling banyak digunakan oleh sekolah-sekolah bertaraf internasional di Indonesia yaitu Internasional Baccalaureate (IB), Cambridge, dan Australian Curriculum

Bagi lembaga-lembaga swasta, membeli lisensi dari lembaga-lembaga pemasok sistem pendidikan sekolah internasional bukanlah hal yang sulit. Namun untuk sekolah-sekolah milik pemerintah (negeri), lembaga-lembaga sosial atau keagamaan, biaya lisensi merupakan masalah besar. Selain mahal, pemilik lisensi menetapkan prasyarat yang tinggi bagi guru dan fasilitas yang harus dimiliki sekolah. Tidak heran jika harga sekolah bertaraf internasional yang memiliki lisensi di Indonesia sangat tinggi sehingga hanya bisa diakses oleh golongan masyarakat tertentu saja. Oleh sebab itu, sekolah bertaraf internasional sering dinilai sebagai bentuk dari kastanisasi pendidikan. Menyikapi tingginya harga lisensi sistem pendidikan internasional, Pemerintah Indonesia berencana untuk membeli lisensi salah satu sistem pendidikan internasional untuk digunakan secara luas di Indonesia. Namun demikian, tindakan ini tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah penyelenggaraan SBI di Indonesia karena di samping lisensi, harus disiapkan juga sistem lain seperti sarana dan prasarana, biaya operasional, dan sumber daya manusia.

Bertolak dari kondisi tersebut di atas, dalam rangka Dies Natalis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ke-54, maka Yayasan Bina Dharma (YBD) dan Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia-Universitas Kristen Satya Wacana (PSKTI - UKSW) bekerjasama dengan Willi Toisuta and Associates (WTA) dan University of the Sunshine Coast (USC)-Australia, mengadakan Seminar dan Workshop dengan tema ”Internasionalisasi Pendidikan dan Prospeknya di Indonesia”. Melalui Seminar ini, diharapkan para pelaku pendidikan di Indonesia dapat memahami konsep SBI yang diperkaya dengan gambaran sistem pendidikan di Australia sebagai salah satu negara OECD, serta tantangan dan pengalaman membangun sekolah bertaraf internasional di berbagai daerah di Indonesia.  

22 September 2010

Mengunjungi "Boarding School" di Jawa Tengah

Hari Senin ini, 20 September 2010 saya kunjungan ke sekolah berasrama yang sudah terkenal di Jawa Tengah dan Indonesia.

Yang pertama, ke SMA "berasrama" Taruna Nusantara di Magelang yang lokasinya berdekatan dengan Akademi Militer (AKMIL). Yang kedua saya akan datang ke SMA "berasrama" Van Lith di Muntilan di kaki Gunung Merapi. 

Saya berangkat dari Semarang jam 7 pagi, ketika para pelajar mulai masuk sekolah setelah lebih dari seminggu menikmati liburan lebaran yang penuh berkah dan saling bersilaturahmi. Perjalanan menuju ke kota Magelang berjalan dengan lancar.

Jam 9.30. Tampak langit tidak begitu bersahabat. Hujan lebat ketika mobil memasuki kota "gethuk" Magelang. Tapi setelah memasuki jalan utama kota, hujan reda. Sinar matahari siang mulai terasa panas. Saya langsung turun dari mobil dan melapor pada secuirty yang menjaganya.

"Mau ketemu siapa pak?" Jawab saya, "Kepala Sekolah, bisa?" Petugas dengan mengenakan baju biru laut dan celana biru doger bertanya pada saya, "sudah ada janji?" Lalu saya jawab. "belum". Tanpa panjang lebar saya disuruh meninggalkan KTP di pos sekuriti dan dipersilakan masuk dan bertemu dengan Bagian Humas Sekolah.

Saya berjalan menuju ke ruang Humas. Di ruang itu saya menyerahkan surat tugas saya dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan saya. Dengan ramah, akhirnya Pak Us, bagian Humas mengatakan, "silakan besok Rabu datang ke sini". Saya mengangguk dan langsung pamit meninggalkan kampus SMA Taruna. KTP saya ambil di sekuriti. Lalu, melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah berasrama Van Lith di Muntilan.

Tidak kurang dari 30 menit saya sudah sampai pintu gerbang sekolah berasrama "Van Lith" Muntilan. Kembali saya berhadapan dengan sekuriti. Sekali lagi KTP saya diminta dan ditukar dengan tanda pengenal bertulis kan "tamu" yang kemudian saya kalung-kan di leher saya. Dengan tanda ini saya diarahkan menuju ke TU Sekolah. Sesampainya di TU saya serahkan surat tugas dan saya dipersilakan duduk di kamar tamu sambil menunggu Kepsek. Tidak lama kemudian petugas TU mempersilakan saya menuju ke kantor Kepsek. 

Maksud dan tujuan kedatangan saya sampaikan kepada Bruder Warto FIC. Lalu saya ditawari untuk wawancara singkat dengan Kepala Asrama Putri.

Singkatnya besok atau hari Selasa saya disuruh datang lagi jam 10 di sekolah ini. Setelah janji pertemuan ini lalu saya pulang kembali ke kota Semarang. Tak lupa KTP saya ambil di sekuriti ditukar dengan tanda 'tamu" yang tadi saya pakai.

SMA Van Lith sudah ber ISO 9000:2008
UNIT ASRAMA PUTRI VAN LITH
Selasa, 21 September 2010, pukul 9.30 wib saya sudah berjumpa dengan sekuriti dan kemudian diarahkan menuju ke asrama putri di luar kampus sekolah jaraknya 500 meter dari sekolah. Sr. Karina CB, Kepala Asrama Putri SMA Van Lith menyambut kedatangan saya di ruang tamunya.

Di ruang tamunya saya banyak bertanya dan Suster dengan senyum menjawab pertanyaan yang saya ajukan tentang pengelolaan asrama putri.

"Boleh saya berkunjung ke asramanya?" tanya saya kepada Suster. Dari raut wajahnya Suster agak keberatan, (mungkin karena saya laki-laki) meski akhirnya Suster menemani saya mengunjungi unit-unit asrama putri. Pertama saya diajak ke unit Putri kelas X. Masuk ke salah satu unit yang dihuni 20 siswa. Meja makan dan meja belajar satu tempat. Tempat tidur susun ada sepuluh untuk 20 siswa. Locker-locker berada di gang luar. Tempat sepatu dan sandal ada di luar rumah.

Kemudian saya diajak suster ke belakang di unit Rumah Baru yang dihuni oleh siswi kelas XII. Unit ini memang bangunan baru dengan perlengkapan yang lebih tertata rapi dibandingkan dengan unit lain.

Saya juga mengunjungi ke asrama putra yang letaknya terpisah dengan asrama putri. Bangunan asrama putra menyatu dengan sekolah. Di sini saya diantar oleh Pak Goro. Bruder Warto yang merangkap juga sebagai kepala Asrama Putra sedang ada meeting di Diknas Semarang. Di asrama putra, saya diantar untuk melihat kamar tidur, locker, kamar mandi dan juga bangunan baru untuk siswa kelas XII yang sudah dilengkapi dengan ruang belajar.

Oh ya, sama dengan asrama putri, Asrama Putra juga mempunyai lapangan basket. Cuma sayang peminat basket tidak terlalu banyak, kata Suster dan disetujui oleh Pak Goro.


SMA Taruna Nusantara, Magelang Jawa Tengah
Rabu, 22 September 2010, pukul 09.00 wib saya sudah masuk di kantor Humas SMA Taruna.Saat saya menunggu pak Us, saya inisiatif sms pak Agung, yang eks-guru bahasa Indonesia di Lokon. Sambil menunggu Bapak Us saya bercerita dengan pak Agung. Tidak lama kemudian Pak Adri bergabung dengan kami. Rupanya pak Agung memberitahukan tentang kedatangan saya di SMA Taruna. Tidak hanya pak Adri, Pak Yo dan Bu Andrias juga diberi tahu, Saya kenal beliau karena pernah memberi bimbingan belajar kepada para siswa di SMA Lokon.

SMA Semesta Semarang

Setelah meninggalkan KTP di sekuriti saya dipersilakan menuju ke Ruang Kaca yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Sekuriti. Setibanya di ruang kaca saya langsung menuju ke front office yang letaknya masih ke dalam dari ruang tamu. Saya utarakan maksud dan tujuan kedatangan saya dan saya dipersilakan menunggu di ruang tamu.

Sementara menunggu, saya kagum dengan ruang kaca ini, Interior ruangan ini sangat bagus. Dinding-dinding ruang ini dipenuhi dengan tanda penghargaan dan medali yang diraih oleh para siswa. Lemari kaca yang berisi piala-piala kejuaraan lokal, nasional dan dunia berukuran cukup besar diletakkan di sisi kanan-kiri ruang ini. Siapa pun yang melihat piala, piagam, sertifikat yang dipasang dengan rapi di ruang tamu akan langsung merasakan aura prestasi sekolah ini.

Tak lama kemudian Bapak Moh Haris menyambut saya. Dengan  ramah dan senyum yang khas beliau bercerita tentang bagaimana perjuangan sekolah Semesta ini  diakui prestasinya oleh semua pihak. SMP/SMA Semesta adalah sekolah boarding school. Sekolah ini bekerja sama dengan NGO dari Turki yang sungguh moderat. Meski kerja sama dengan NGO Turki tapi, sekolah ini nasional dan multi agama.




02 September 2010

Foto-foto: LOMBA ANAK BANGSA, HUT Kemerdekaan RI ke 65 th

Ibu Guru ikutan Lokon Idol...

Pak Guru seperti Ariel

Vocabulary Building

Ekspresi peserta Lokon Idol..!!

Lokon Idol