SMA Lokon Sabet Juara Umum Atletik Tomohon

"Kejuaraan ini bertujuan untuk mencari bakat-bakat anak muda di bidang atletik untuk diperhatikan dan dibina oleh PASI Tomohon.

Champion DBL 2017 Roadshow Keliling Tomohon

Empat mobil "double cabin" dan bis dipasang banner merah bertuliskan "Champion" dan "Runner UP" DBL Manado 2017.

Berebut Alpha Zetizen Sulut ke New Zealand

"SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon Sulawesi Utara menjadi salah satu sekolah yang beruntung nih karena kedatangan Duta Besar New Zealand!

SMA Lokon Raih Empat Kali Champion DBL

Tim Putra-putri Losnito menghadapi lawan-lawannya dengan penuh percaya diri dan akhirnya lolos ke final setelah mengkandaskan lawan-lawannya.

Kendaraan Hias Bunga YPL dan Marching Band

Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) ikut tampil dalam gelaran akbar Tomohon International Flower Festival yang ke 7 (8/8/2017).

19 November 2013

SMA Lokon Raih Prestasi Lagi


LOSNITO - SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon kembali meraih berbagai prestasi yang membuat bangga seluruh civitas Akademica Losnito, sebutan populer SMP/SMA Lokon.

November 2013
  • (19/11) Juara I Pra-Olimpiade Fisika, UNIMA 
  • (19/11) Juara II Pra Olimpiade Fisika, UNIMA
  • (19/11) Juara Harapan Pra Olimpiade Fisika, UNIMA
  • (9/11) Jawara Basket Putra pada YPKM Cup 2013, setelah mengalahkan tim putra SMANSA Manado
  • (9/11) Juara ketiga Tim Basket Putri pada YPKM Cup 2013
  • (9/11) Pada YPKM Cup yang sama, Tim Basket Putra SMP menjadi jawara setelah mengkandaskan SMP Airmadidi
Oktober 2013
  • Juara I Lomba Audio Visual Editing di Universitas De La Salle, Manado 2013, Tim A
  • Juara II Lomba Audio Visual Editing di Universitas De La Salle, Manado 2013, Tim B
  • The Best Dance terbaik Junior Baskeball Manado Series 2013, untuk tim Dance SMP Lokon
  • Juara IV Tim Basket Putra, Smansa Cup ke 53
  • Juara II Tim Basket Putri, Smansa Cuo ke 53
2013
  •  Juara II, Lomba Kebersihan Sekolah Tingkat SMA-SMK Hut Kota Tomohon 2013

sumber: sekolah

16 October 2013

The IX Asian-Pacific Astronomy Olympiad


LOSNITO - Para peserta APAO 2013 mulai mendaftarkan diri. Tercatat negara-negara yang sudah mendaftar adalah China, Kasakhstan, Korea Selatan, Rusia, Bangladesh (21/9). Setiap negara ada yang mengirim hingga 10 peserta. Tapi ada yang datang hanya sebagai observer saja.

Rencananya APAO IX kali ini akan diikuti oleh 10 negara Asia Pasific. Selain yang disebut di atas, negara-negara yang akan hadir adalah Kyrgyztan, Lamboja, Nepal, Singapura, Siberia dan Thailand. SMA Lokon St. Nikolaus ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan The IX Asian Pacific Astronomy Olympiad, 23 November hingga 2 Desember 2013. Karena itu, paniia lokal sudah menyiapkan diri menyambut kedatangan para peserta.

Olimpiade Astronomi tingkat Asia Pasifik pertama kali digelar di Irkutsk, Siberia, 4-11 Desember 2005. Tujuan diadakan APAO antara lain untuk memperkuat peranan Asia dalam olimpiade sains.


Link: http://www.issp.ac.ru/iao/apao/2013/ap13fees.html




Akhir September lalu, Dr. Michael Gavrilov, Presiden Astronomi International dan Dr. Chatief Kunjaya, Presiden of International Olympiade on Astronomy dan Astrophysics datang secara khusus ke SMA Lokon untuk mengecek persiapan APAO.


Selam kehadirannya di Tomohon diadakan seleksi untuk para peserta dari Indonesia yang akan mengikuti APAO. Tak hanya itu, berdua juga mengadakan observasi ke lokasi-lokasi yang nanti akan dipakai untuk fieldtrip.

Lokasi yang direncanakan akan dikunjungi oleh para peserta dan offisial adalah Bukit Doa Mahawu, Puncak Mahawu, Geothermal Lahendong, Danau Linow, Bunaken, Pulau Lihaga dan sightseeing Manado.

Salah satu alasan penting mengapa SMA Lokon menjadi tuan rumah APAO IX karena SMA Lokon memiliki Mt. Lokon Observatory, teropong bintang yang dimiliki oleh satu-satunya SMA di Sulut.

Sumber: The IX APAO



03 October 2013

Kunjungan Yayasan Gembala Baik Ke SMP/SMA Lokon


Mini Theater

LOSNITO - Para Guru TK, SD, SMP Santa Maria Fatima bersama Para Pengurus Yayasan Gembala Baik Jakarta yang dikelola oleh para Suster RGS, Rabu 2 Oktober 2013, mengunjungi Yayasasan Pendidikan Lokon.

"Kami berjumlah 48 orang ingin beranjangsana, berkunjung dan belajar, study banding mengenai pengelolaan Sekolah, sistem belajar, tentang cara-cara menghadapi peserta didik dan melihat sarpras sekolah" kata Suster M. Chatarina RGS, Ketua Yayasan Gembala Baik saat tiba di lobby sekolah.


 Ada sedikit penyambutan tamu di lobby. Mewakili YPL, Pst. Yong MSC mengatakan bahwa YPL kini mengelola SMP/SMA Lokon St. Nikolaus dan sekarang ada pula Lokon Hotel School. Owner sekaligus Ketua Umum YPL, Bapak Ronald Korompis sangat peduli dengan pendidikan bagi anak cucu bangsa Indonesia Timur. Itulah sebabnya mengapa YPL lebih memfokuskan diri pada pendidikan dasar.

"Owner kami sangat peduli dengan pendidikan dasar yang nantinya bisa menghasilkan orang-orang yang baik dan memiliki etika moral yang baik" kata Pastor Yong, sambil menunjuk sekolah berasrama sebagai wajib bagi siswa SMA.



Setelah disambut di lobby, para tamu diajak tour campus dan melihat sarana prasarana sekolah SMP/SMA.



Setelah tour kemudian diadakan pertemuan di Mini Theater. Di ruang itu terjadi tanya jawab dengan pihak SMP dan Yayasan Pendidikan Lokon.

Mengapa YPL mendirikan Observatorium Mt. Lokon?
SMP Lokon sebagai pilot proyect dari Lemlitbang YPL
Bagaimana Pendidikan Karakter Building dikelola di sekolah?

25 September 2013

Nota Kesepakatan Antara YPL dan CGI-EGI Oregon State USA



LOSNITO - Dua siswa SMP Lokon dan tiga siswa SMA Lokon beserta staff YPL sudah menunggu di pintu kedatangan bandara Sam Ratulangi Manado. Menjelang malam tiba, Kamis (19/9) mereka siap menyambut kedatangan delegasi dari Oregon State USA.

Tak lama kemudian setelah terdengar pengumuman bahwa Batik Air baru saja mendarat, rombongan Oregon keluar dari pintu kedatangan. Suasana penyambutan tampak meriah. Owner dan sekaligus Ketua Umum YPL ikut dalam rombongan.

Setelah semua dipastikan masuk ke bus biru, rombongan bergerak ke Restoran Bumi Beringin yang berada di atas bukit dengan view kota Manado.



Acara inti terjadi pada esok harinya, Jumat siang pukul 14.30 wita di minitheatre SMA Lokon. Tim Oregan itu terdiri dari The Cultural Gateways Incoporation (CGI) dan Education Gateways International (EGI).

"YPL dalam mengelola SMP/SMA Lokon, selalu menekankan pendidikan yang terbuka pada dunia International dan ini demi terwujudnya kualitas pendidikan di Sulut" ujar Jimmy Wewekang, Ketua Harian YPL.




"Kemarin 20 September 2013, Yayasan Pendidikan Lokon/YPL dan The Cultural Gateways, Inc (CGI) dan Educational Gateway International (EGI) dari Oregon State, USA menandatangani Nota Kesepakatan untuk pertukaran budaya dan pendidikan. Kerjasama ini memberikan peluang bagi anak anak dan guru guru SMP dan SMA Lokon St Nicolaus untuk dapat mengikuti program pedidikan dan pertukaran budaya baik jangka pendek maupun jangka panjang di high school di Oregon State USA. Kami memang selalu mendorong supaya semua anak anak dibawah naungan YPL boleh mendapat pengalaman international supaya mereka dapat lebih siap untuk bersaing secara global" lanjut Jimmy W.

Monitoring dan Evaluasi Badan Pengurus LPMAK di Manado



LOSNITO - Siang itu, langit di sekitar Gunung Lokon cerah dan terasa menghangat di badan. Sesudah makan siang, tiga bus biru meluncur ke Kalasey, Manado. Dua bus membawa para siswa SMA Lokon dan satu bus membawa khusus untuk siswa SMP.

Masih menggunakan seragam OSIS, para siswa menuju ke Manado untuk mengikuti pertemuan dengan Badan Pengurus LPMAK yang datang untuk mengadakan monitoring dan evaluasi terhadap para penerima beasiswa LPMAK.

Pak Titus Kemong, melaporkan bahwa sampai sekarang ini di kota studi Manado tercatat, “Ada 13 mahasiswa Unima (calon-calon guru), 22 mahasiswa UNSRAT, 20 mahasiswa Unklab, 40 mahasiswa Unika De Lasalle, 72 siswa SMA Lokon, 26 siswa SMP Lokon, 34 siswa SMA Advent Tompaso dan peserta umum 12 mashasiswa”. Kalau dijumlah semuanya menjadi 329 siswa. Dan sebentar lagi (Oktober awal) ada tambahan 14 siswa yang belajar ke SMP Lokon.


Dari jumlah itu, pengiriman siswa SMP baru pertama kali terjadi pada tahun ini. Ke depan program siswa SMP ini akan terus berlanjut hingga suatu saat tidak perlu lagi mengirim siswa tingkat SMA lagi dengan alasan sudah ada siswa yang lulus dari SMP.

Badan Pengurus LPMAK yaang hadir dalam pertemuan itu adalah Bp. Yohanes, Bp. Ferry Robot, Bp. Emanuel Kemong, Bp. Titus Kemong, Bp. Abraham Timang Dan Bp. Lesubun, Sekretaris Bapeda Serta MC Fabian Magal.

Bapak Lesuhun (52 th), menyelesaikan SMP di Kokonao, lalu sekolah SPG di Jayapura, dengan bea siswa Keuskupan melanjutkan diploma musik di Yogyakarta. Setelah lulus diploma, lalu tugas di Wamena untuk mendampingi masyarakat dan menjadi guru. Sambil mengajar, beliau menjadi mahasiswa Universitas Terbuka hingga 1996 di wisuda di Jakarta. Setelah wisiuda lalu menjadi kepala sub pendidikan dasar di P dan K. Setelah 30 tahun di Wamena kemudian minta pindah ke Mimika ke kampung halaman. Sambil bekerja, beliau mengikuti pendidikan S2 di Universitas Cendrawasih, Jayapura untuk meraih gelar Magister Managemen Pendidikan. Dan lulus. 


(1)    If you don’t change, you die. Apabila anda tidak berubah, anda sudah mati. Berubah bagian dari kehidupan, tak ada kemajuan tanpa perubahan.

(2)    Orang yang berhenti belajar, dia pemilik masa lalu. Orang yang terus belajar adalah pemilik masa depan. Tak ada pintu lain selain belajar. Waktu tidak berubah nasib, yang merubah nasib adalah diri kita sendiri. 



Ingat, para siswa mempunyai tanggung jawab berat untuk membangun daerah sendiri dengan cara menjadi siswa-siswa yang produktif. Dari laporan dari berbagai kota studi, tak sedikit para siswa yang mengalami prioritasnya studi telah membias. Berimbasnya prioritas diri ke mana-mana karena pengaruh pergaulan dan lingkungan bisa berakibat gagal dalam menyelesaikan pendidikan.

"Lingkungan dan teman itu seperti cermin. Lihatlah wajahmu dalam cermin itu. Sebaik-baiknya wajahmu, seganteng apapun atau secantik apapun, kalau kau bercermin pada cermin yang rusak maka jadinya bengkok-bengkok. Kau bisa rusak karena lingkungan dan pergaulan. Jika anda gagal krena rusak diri dalam belajar maka betapa mahalnya untuk memperbaiki. Berapa juta rupiah yang terbuang percuma karena ada siswa yang gagal dalam menyelesaikan pendidikan" ungkap motivator.

Trilyun-an rupiah sudah dikeluarkan untuk pendidikan setiap tahun bagi generasi muda Papua. Dan habis dalam waktu lima jam per hari dari jam 7 hingga jam 12. Lalu, 19 jam sisa menjadi ancaman bagi orang Papua. Kami kalah bukan karena akademi tetapi kami kalah karena sistem. Generasi muda harus kita amankan selama 24 jam per hari dengan ada yang bertanggungjawab dan mendampingi. Dan itulah yang dilakukan oleh LPMAK.


Nasehat lain yang perlu diingat oleh dalam belajar, para penerima bea siswa harus jalan terus sampai waktu habis dengan jelas. Kalau lima tahun ya diselesaikan dengan lima tahun jangan diperpanjang. Kalau bisa akselarasi, ya akselerasi untuk mempercepat waktu studi.
Ingat, kita sudah capek ketinggalan dengan yang lain maka selesaikan masa bekajar anda tepat pada waktunya karena persaingan kerja bukan hanya dari Papua tetapi seluruh Indonesia.

Setelah tanya jawab, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan setelah selesai lalu pulang.

15 September 2013

Indahnya Letusan Gunung Lokon



Letusan 10 September 2013 pukul 06.30 wita
LOSNITO - Kejadian meletusnya Gunung Lokon memang harus diwaspadai oleh semua pihak termasuk seluruh Civitas Academica Lokon, sesuai dengan status gunung itu yang saat ini dikategorikan siaga waspada.

Dampak yang paling kuatirkan adalah hujan abu vulkanik yang menimpa di daerah Kakaskasen termasuk komplek persekolahan SMP/SMA Lokon St. Nikolaus. Kendati sudah ada pelatihan tanggap darurat namun kewaspadaan selalu nomer satu dan mengutamakan keselamatan (safety first).


Selama ini hujan abu pernah menimpa kompleks sekolah namun kemudian bisa diatas dengan dibersihkan. Lebih sering dibantu dengan hujan setelah meletus dan mengeluarkan hujan abu. Selama ini belum sampai mengalamai keparahan akibat letusan Gunung Lokon yang jaraknya kurang dari 10 km.

Di sisi lain, setiap kali Gunung Lokon menjadi tontonan yang istimewa dan langka bagi para penghuni kompleks sekolah Lokon dan masyarakat sekitar. Lebih khusus parang "tukang kuti" (fotografer) tak mau ketinggalan untuk mengabadikan peristiwa letusan itu dengan kameranya.

Berikut silahkan melihat foto-foto hasil jepretan trilokon (www.kompasiana.com/losnito)





03 September 2013

Soft Opening LOKON HOTEL SCHOOL (LHS)



LOSNITO -Hujan gerimis disertai udara yang sejuk mengiringi acara Soft Opening Lokon Hotel School, Senin (2/9) di kompleks Lokon Resort Tomohon, Sulawesi Utara. “Hujan bukan menjadi halangan tetapi merupakan hujan berkah?” ujar Pastor Prof. Dr. Jong Ohotimur MSC, menenangkan hati hadirin yang mengikuti ibadah di bawah 4 tenda putih.

Kompleks LHS

“Asal kata Hotel, dari kata bahasa Perancis Hostel, yang berarti menyediakan tempat istirahat bagi para tamu yang akan menginap. Kata Hostel terkait dengan kata Hospitality atau keramahtamahan. Hospitality terkait dengan Hospital (Rumah Sakit), Hostel, dan Hotel. Apapun yang terkait dengan Hospitality, selalu mengedepankan sikap ramah tamah, sikap innerself seseorang. Ramah tamah sendiri muncul karena kebaikan hati orang. Karena itu, Lokon Hotel School tak lain adalah pendiidkan yang berbasis pada kebaikan untuk mencetak tenaga-tenaga terampil di bidang keramahtamahan yang dibutuhkan oleh industri pariwisata dan perhotelan” lajut Pastor Jong.


Acara soft opening LHS siang itu, melibatkan Pemkot Tomohon yang diwakili oleh Kadis Pendidikan, Ibu Dolvien Kawur, Kadis Budpar Bp. Mogi, Polres Tomohon, yang diwakili Kapolsek Tomohon Tengah. Tak hanya itu, Dekot Tomohon, Bp. Andy Sengkey, Bp. Marthen Manoppo dan Owner serta Ketua Yayasan Pendidikan Lokon, Bp. Ronald Korompis juga ikut mendukung berdirinya sekolah perhotelan dan pariwisata LHS yang pertama di Tomohon.

“Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi tinggi kepada Keluarga Korompis Wewengkang yang memiliki komitmen dalam bidang pendidikan. Kehadiran Lokon Hotel School adalah jawaban dan antisipasi nyata untuk menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan terampil dalam mengelola sektor perhotelan dan pariwisata, sehingga anak-anak Tomohon dan Sulut bisa menjadi pemain dalam kompetisi global. Sebab, tantangan global di dunia pendidikan pariwisata bukan akan terjadi melainkan sudah ada di Kota Tomohon” kata Ibu Dolvien Kawur, Kepala Dinas Pendidikan dalam sambutannya sebelum memotong tumpeng tanda dimualai proses pembelajaran LHS.

Simbul Tiga Jari, Simbol Entrepreneur

Lokon Hotel School (LHS) is a unique hospitality training school covering all aspects of from product to service. Profesional and practicioner lecturers such as hotel managers or chef are ready to share their knowledge.

Program yang ditawarkan kepada para mahasiswa ada 4 bidang yaitu, Room Division Program, Food & Beverage Service Program, Food Production Program dan Tourism Business Program.


“Setelah lulus dari LHS, setiap siswa bisa menjadi fornt office, chef, bisa bisnis kuliner sendiri, bisa bekerja di hotel dan restoran dalam dan luar negeri. Tak hanya pandai tetapi yang utama adalah lulusan LHS menghasilkan tenaga yang siap diserap oleh dunia industri perhotelan dan pariwisata” kata Dr. Bambang Hermanto, Direktur Eksekutif LHS sekaigus owner SHS (Surbaya Hotel School).

Dalam kesempatan itu, pak Bambang memperkenalkan staf-stafnya. Direktur Pendidikan atau umum disebut Kepala Sekolah dipegang oleh Nicholaus Sutanto. Sedangkan Direktur Humas dan Umum dipercayakan kepada Ir. Jimmy Wewengkang, MBA dan Ibu Irawaty Irawan memegang Manager LHS dan Lokon Resort.



Mahasiswa Angkatan pertama LHS berjumlah 50 siswa untuk empat bidang program yang akan diselesaikan dalam waktu 6 bulan. Penambahan waktu studi bisa terjadi jika yang bersangkutan diterima untuk training ke luar negeri.

Hari Selasa (3/9) ini adalah kuliah perdana bagi para mahasiswa LHS yang bersemboyan “For a Better Future”. Acara soft opening LHS ditandai dengan pemberkatan ruang kelas dan kompleks oleh Pastor Jong MSC dan Harry Singkoh MSC.


Tarian Maengket dari Kakaskasen Dua dan Unima Choir ikut memeriahkan acara soft opening. 

Ibu Ira dan Pak Bambang, Penggagas LHS

Hadirnya LHS di kota Tomohon akan memberikan kontribusi bagi penuntasan angka pengangguran dan memberikan lapangan kerja yang menarik bagi anak-anak muda di Tomohon. Sebab, setiap insan didik dan dilatih untuk siap bekerja pada bidangnya. “Lokon Hotel School hadir di Tomohon untuk memajukan pendidikan bermutu di bidang perhotelan dan pariwisata, caranya dengan menyiapkan generasi muda yang siap bekerja dengan ketrampilan yang bermutu, “ ujar Jimmy Wewengkang, Direktur Humas dan Umum LHS.

30 August 2013

Bupati Sumbawa Besar, Berkunjung Ke SMA Lokon


Bupati Sumbawa Besar (Baju Biru) dan Yulisa Baramuli (Betenan Hijau)

LOSNITO - Kamis sore (29/8) Bupati Sumbawa Besar, Drs. H Jamaluddin Malik, berkenan mengunjungi kampus SMP-SMA Lokon St. Nikolaus yang berada di kaki Gunung Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara.

Kedatangan beliau yang mendadak itu sempat mengagetkan pimpinan Yayasan Pendidikan Lokon. Bp. Chris Sarangi, Direktur Keuangan/Personalia Yayasan, mengungkapkan rasa kaget dan bercampur senang atas kedatangan Bupati Sumbawa  Besar yang tak disangka-sangka.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Wakil Bupati Minahasa Utara, Yulisa Baramuli yang mendampingi perjalanan Bapak Bupati hingga sampai di Kampus Losnito.


Sebelumnya Bp. Jamaluddin Malik dan rombongan dijamu untuk mencicipi kuliner khas Bukit Doa Mahawu yaitu pisang goreng, ubi goreng yang disajikan dengan sambal rowa. Sambil duduk menyantap dan minum di Cafe Moyaporong, rombongan Bupati Sumbawa Besar ini tampak begitu menikmati alam pegunungan Gunung Lokon yang asri menghijau.

Bukit Doa Mahawu menjadi destinasi rombongan karena lokasi ini menyediakan fasilitas wisata rohani sekaligus wisata alam.






Di Kampus Losnito, rombongan diajak untuk melihat-lihat bangunan SMA Lokon dan SMP Lokon serta asrama. Rasa kagum terpancar dari wajah Pak Bupati setelah mendapat informasi bahwa SMA Lokon memiliki Mt. Lokon Observatory, untuk melihat bintang dan angkasa.


Rombongan juga memuji lingkungan sekolah yang asri dan berbagai prestasi yang diraih seperti dipajangnya trophy dan penghargaan di lobi.

Motivation Training Dari Ibu Coreta Kapoyos



LOSNITO - Orang yang paling miskin, bukanlah orang yang tidak memiliki uang sepeser pun dalam sakunya. Tapi adalah orang yang tidak memiliki impian. Maka berbahagialah kalau ada yang bermimpi untuk menjadi presiden. Menjadi dokter atau menjadi orang sukses.

Demikian kata Ibu Coreta Kapoyos, istri Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Putut Eko Bayuseno, di hadapan 6oo siswa SMP/SMA Lokon, dalam rangka memotivasi siswa untuk menggapai sukses dalam hidup dan kehidupan.

Siang itu (27/8), di Sport Hall Losnito terasa sejuk karena awan tampak kelabu dan angin Barat terasa semilir. Para siswa begitu bersemangat ketika Ibu Coreta memulai ceramahnya dengan terlebih dahulu menyapa para siswa. “Apa kabar semua?” Para siswa membalasnya dengan mengatakan “luar biasa”. Mendengar jawaban spontan itu, Ibu Coreta tampak gembira dan mengapresiasi para siswa dan disambut oleh siswa dengan tepuk tangan yang membahana. Suasana akrab dan tidak mononton seperti itu berlangsung hingga selsesai.


Itulah kepiawaian ibu Coreta menguasai audience yang masih remaja dan gampang bosan mendengarkan ceramah di siang hari pukul 14.30 wita. Tak hanya itu saja, mantan reporter TVRI (1980) dan Ambassador of Indonesian Fashion Contest, mampu menghipnotis para siswa dengan berbagai nasehat segarnya yang membakar semangat para siswa untuk menggapai sukses.

 “Untuk menjadi sukses, siapapun harus memiliki mimpi. Setelah itu membuat target hidup. Itu semua harus dimulai dari diri sendiri. Seberapa jauh sukses itu tercapai tergantung pada seberapa tekun dan kekuatan yang diandalkan hari ini” ujar Coreta Kapoyos.


Mendatangkan penceramah untuk memotivasi siswa dan menyadarkan potensi siswa, sudah biasa dilakukan oleh sekolah Lokon. Tercatat, presiden SBY pernah datang ke Lokon selain meresmikan sekolah juga membagi ilmu dan cara bagaimana bisa menjadi sukses. Berikut, mantan Gubenur DKI, Sutiyoso, mantan Pangdam Wiranto, wirausahawan sukses Johny Andrean, politisi nasional Agung Laksono, dll.

“Jadi orang yang miskin adalah orang yang tidak memiliki impian. Maka dari itu, beranilah bermimpi. Mewujudkan impian atau dream bisa dengan cara, menguraikan kata DREAM menjadi D (Dare to be different), R (Record to the past action) mengecek ulang keberhasilan dan kegagalan di masa lalu, E (empowering) atau memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki, A (Action Plan) bukan NATO, no action talk only, M (Massive Action)”.



Sebagai motivator berpengalaman, istri Kapolda Metro Jaya ini menyampaikan materi dengan enak dan interaktif di hadapan para siswa SMP dan SMA. Tanya jawab juga dalam suasana menyenangkan. Tak sedikit siswa yang aktif bertanya dan mau maju di depan, diberi hadiah oleh beliau.

Mengakhiri motivasi training, Yunike siswa pembawa acara merangkum apa saja yang disampaikan oleh ibu Coreta Kapoyos. Kesuksesan diawali dengan berani bermimpi dan mewujudkan impiannya sesuai dengan kemampuan sendiri. Jadi, mulailah dari diri sendiri dulu untuk menggapai sukses.

25 August 2013

MB Losnito 2013: Display di Plaza SMA Lokon


MB Losnito 2013, dengan pelatih Arwan Pangerang, membuat display yang bertema dan berjudul "Brenti Jo Bagate". Sebuah ekspresi kemerdekaan yang tak sekedar mengutamakan kebebasan tetapi bebas yang bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari termasuk ketika mendapat tawaran untuk miras dan narkoba. Hanya pribadi yang integral dan kuat, bisa mengatasi musuh dari kemerdekaan yaitu bebas yang tak bertanggung jawab.



19 August 2013

Marching Band Losnito, Tampilkan "Brenti Jo Bagate"



LOSNITO - Sabtu kemarin (17/8), setelah Upacara Detik-detik Proklamasi di kantornya, Walikota beserta Kapolres, Sekdekot, para Assisten, bergegas menuju ke panggung kehormatan yang berada di depan pos Sat Lantas, sebelah Bank Mandiri. Kali ini panggung menghadap ke Timur, karena pawai start dari ex-Kantor Walikota Rindam dan finish di patung Tololui, Matani yang berjarak lebih dari 10 km. Tahun lalu, rutenya dari Selatan ke Utara.


Tak seperti saat Pawai Pembangunan yang lalu (15/8), cuaca hari itu cukup cerah dan cenderung panas. Di sepanjang jalan Raya Tomohon yang dilalui oleh para peserta pawai, tampak masyarakat berkerumun dan bersiap-siap menyaksikan pawai. Seperti tahun lalu, SD lebih dahulu jalan dan kemudian yang terakhir dari perguruan tinggi.
Berbagai macam rangkaian bunga hidup yang dikombinasi dengan tanaman hias mendominasi dekorasi panggung kehormatan. Walikota dan pejabat teras Tomohon menempati kusi-kursi di panggung ini. Setiap peserta pawai selain memberi salam kehormatan, juga menampilkan aktraksi yang memukau di hadapan para pejabat dan masyarakat yang sudah menyemut di sekitar panggung sejak pagi tadi. Tak jarang Walikota, Kapolres, Sekdekot mendapat “parcel” bunga dari para peserta. Lumayan nih, panggung kehormatan makin semarak dihiasi oleh bunga-bunga.

Masyarakat serasa mendapat hiburan gratis dari setiap peserta pawai. Tak jarang antar peserta pawai bersaing menampilkan atraksinya sebaik-baiknya bukan karena dinilai tetapi ikut berpartisipasi dalam menterjemahkan arti dan makna kemerdekaan yang kemudian diekspresikan lewat “display”, atraksi dari setiap peserta saat tiba di depan panggung kehormatan.


Karena itu saya semakin tertarik utuk memperhatikan tingkah laku ABG (anak-anak sekolah) yang menjadi peserta pawai meski didampingi juga oleh para gurunya di barisan belakang. Perlu diketahui, dalam setiap pawai 17-an, Tomohon diserbu oleh pengunjung dari luar daerah bahkan wisatawan asing untuk menonton pawai. Bukan tanpa sebab mereka datang untuk menonton “atraksi” dari kelompok Drum Band dan Marching Band.

Brenti Jo Bagate” inilah tema yang ditampilkan oleh Marching Band SMA Lokon di depan panggung kehormatan. Alkisah, Verren siswa yang cantik dan aktif dalam setiap kegiatan sekolah dan mudah bergaul dengan temannya, berpacaran dengan Rizky. Namun hubungan Verren dan Rizky putus karena Rizky selingkuh dengan gadis lain yang tak lain adalah sahabatnya Verren. Kegalauan hatinya itu membawa Verren jatuh dalam pesta miras dan pecandu narkoba. Verren akhirnya jatuh sakit dan terjebak di atas kursi roda. Melihat temannya aktif, Verren berteriak “aku bisa meraih mimpiku”. Sejak sadar dan memberi nasehat pada orang lain, “Brenti Jo Bagate (Berhentilah dari narkoba dan miras).

Cerita itu dikemas dalam sebuah ataraksi Marching Band Losnito dengan dibumbui dengan membuat menara manusia dan kemudian setelah memberi hormat, lalau menjatuhkan diri dan diterima oleh teman-teman. Atraksi bak sirkus ini membuat masyarakat yang menonton berekasi “wouww”. Kuatir kalau terpelest lalu membentur aspal.

Ilustrasi musik yang dibawakan oleh para pemain MB dilatih oleh Arwan Pangeran menghidupkan cerita Verren itu, antara lain mengambil penggalan lagu “Kamu Ketahuan” dari Mata Band. Ada sekitar lima lebih penggalan musik dibawakan oleh para pemain marching band dalam durasi 10 menit.

Selain SMA Lokon, atraksi meriah seperti itu ditampilkan oleh Marching Band SMA-SMP dari Smanto, Smakers, Seminari, Familia, Gonzaga, St. Clara, Kasgoro dan lainnya. Mereka ini bersaing untuk tampil terbaik mulai dari lagu-lagu yang dibawakan marching band saat defile dan display. Tak hanya itu, seragam mereka pun setiap tahun baru. Tarian dari kelompok cheers (gadis pom-pom) yang bergoyang-goyang, menurut saya, semakin kreatif dan inovatif setiap tahunnya. Sungguh menghibur penonton.

Meski demikian masih saja menyisakan kekurangannya. Panitia tidak on time dalam mengibarkan bendera start. Molor hampir satu jam lebih. Akibatnya, upacara penurunan bendera ikut molor karena Walikota masih menunggu peserta terakhir pawai yang sampai di depan panggung kehormatan.

Kegiatan pawai itu juga meninggalkan sampah yang berserakan di sepanjang jalan raya Tomohon. Sampah ini dibuang sembarangan oleh para penonton dan juga para peserta yang makan minum sambil jalan. Namun demikian, setelah selesai pawai, saya melihat para petugas kebersihan dengan sapunya langsung bereaksi cepat membersihkan sampah-samapah agar kota penerima Adipura (2013) untuk pertama kali ini tetap bersih. Sementara itu, para penoton pulang dengan hati senang karena mendapat tontonan gratis yang memukau.

Semoga kekurangan ini tak menjadi tradisi seperti halnya pawai sudah mentradisi di kota Tomohon, kota bunga yang telah beberapa kali menyelenggarakan Tournament of Flower (TOF) berskala International.

23 July 2013

MOS Itu, Awal dari Pembentukan Karakter Lho!


LOSNITO - “Amuba!” teriak salah satu Panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah) kepada para siswa baru yang sedang berbaris. Serentak para amuba merespon dengan menghentakkan kakinya tiga kali dan kemudian dengan tangannya, memberi hormat kepada Senior sambil menjawab “Siappp Kakkk!”


Suara panggilan ke amuba, berikut jawabannya itu terus berlangsung selama sepekan sejak Senin hingga Jumat (19/7). Suasana kampus sekolah SMP/SMA selama sepekan menjadi riuh seru karena penyelenggaraan MOS itu.

Ada korban? Ada bullying? Ada tindakan anarkis? Ada arogansi para senior? Pertanyaan-pertanyaan ini memang dirasakan sangat miris bagi dunia pendidikan. Tak urung, penyelenggaraan MOS menuai pro dan kontra ketika ada peserta yang meninggal dunia saat melaksanakan kegiatan itu.

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana MOS dikelola dengan semangat kekeluargaan dan berkelanjutan di lingkungan sekolah berasrama.

Panitia MOS
Panitia untuk MOS Amuba (siswa baru kelas X) diserahkan ke kakak kelasnya yaitu siswa kelas XII. Atau dua angkatan di atasanya. Seperti kemarin yang menjadi Amuba adalah angkatan XII, sedangkan panitianya dari angkatan X (Excellent).
Dengan cara demikian, tercipta hubungan “kakak-adik” seperti dalam keluarga. Tak jarang dengan model ini terjalin ikatan emosional dan psikologis yang berguna ketika amuba ditempatkan di ruang tidur bersama kakak kelasnya. Oh ya setiap kamar di asrama di isi enam siswa dan setiap kamar ada tutornya (kakak kelas).

Kegiatan MOS
Karena sekolah berasrama (boarding school) maka kegiatan MOS diselenggarakan agak berbeda dengan sekolah yang tak berasrama. Saat MOS, posisi amuba sudah menghuni di asrama dan praktis dibiasakan mengikuti jadwal harian di asrama dan sekolah. Kondisi seperti ini memudahkan untuk menyusun kegiatan MOS yang tak jauh berbeda dengan MOS tahun lalu.

“Saya menekankan bahwa kegiatan MOS itu adalah awal dari proses pembentukan karakter sebagai Siswa Lokon” kata Ignas Gumansalangi, ketua Panitia MOS SMA 2013-2014 yang sekaligus Ketua OSIS.
Karakter yang dimaksud itu, tak lebih dari upaya pihak sekolah melalui panitia MOS untuk membiasakan para siswa baru dengan lingkungan baru yang nantinya akan dia huni hingga tiga tahun ke depan. Karena lingkungan “baru” nya itu lingkupnya luas dan melibatkan hampir 600 orang, maka dibutuhkan pembiasaan-pembiasaan untuk siswa baru agar tidak kaget dengan lingkungan yang dihadapi.
Budaya Menyapa
Tak usah heran, jika anda berpapasan dengan siswa Lokon, anda akan disambut dengan sapaan seperti ini, “Selama Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu. Selamat Pagi Kak”.  
Budaya menyapa ini menjadi awal dari sebuah komunikasi. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk berbicara lebih dahulu. Keberanian inilah yang kemudian dikembangkan menjadi berani berbicara di hadapan umum dan menanamkan dalam diri anak sikap pro aktif dan suka bertanya (bukan sekedar bertanya).
Para tamu sekolah tak jarang merasa senang diperhatikan dengan sapaan ini oleh semua penghuni di kampus. Begitulah kami membangun sebuah budaya.

Kebiasaan Antri
Antri tak lagi dilihat sebagai kondisi giliran saja tetapi sudah menjadi budaya dimana-mana. Dalam kehidupan bersama seperti di asrama dan sekolah, siswa tak jarang harus antri karena situasi menuntutnya untuk antri. Misalnya, saat mengambil makan yang ditata denan model prasmanan, keluar dari ruang pertemuan melalui satu pintu, ujian lisan, dll.
“One line. Jalan berbaris menuju ke ruang makan” teriak salah satu Panitia MOS memberi aba-aba untuk ke dining room, karena waktu untuk snak telah tiba. Baris satu-satu (one line) menjadi salah satu cara untuk menanamkan budaya antri yang baik.

Motivasi Training
Dr. Chatief Kunjaya, Presiden IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysic) memberikan semacam motivation training di hadapan para amuba SMA/SMP di sporthall. Kehadiran Dr. Chatief Kunjaya, yang juga pemangku Obervatoirum Bosscha dan dosen ITB,  ke sekolah Lokon dalam rangka mempersiapkan Olimpiade Astronomi Asia Pasifik (APAO), 23-30 November 2013 yang akan diselenggarakan di kampus Lokon.
Para alumni (Angkatan 9) yang sedang kuliah di berbagai tempat baik di luar negeri dan Indonesia juga hadir untuk sharing pengalaman suka dukanya mengikuti kuliah.  

Outbound
Selain pengenalan berbagai fasilitas sekolah dan asrama serta operasionalnya, siswa juga diajak untuk kegiatan outbound atau aktivitas di luar kampus. Kegiatan outbound merupakan puncak dari fun-games yang diadakan sebelumnya.

Panitia MOS menganggap outbound ini merupakan kegiatan klimaks dari seluruh rangkaian acara MOS selama sepekan. Karena itu, setting acara memang dipersiapkan dengan baik tanpa meninggalkan tujuan utamanya adalah kepemimpinan, kerja sama, kekompakkan, persaudaraan, kekeluargaan, sportifitas dan rekreasi.

Siswa diajak berjalan kaki menuju ke sebuah taman luas yang bisa menampun ratusan orang. Kebetulan kami memiliki taman Kelong yang berjarak sekitar 30 menit dari sekolah. Mereka berjalan berbaris per kelompok.

Sesampainya di Kelong, panitia mengecek fisik setiappeserta. Bahkan diumumkan bagi peserta yang fisiknya kurang sehat, diharap untuk tidak ikut kegiatan dan beristirahat di tenda dalam perawatan tim medis. Kenyataannya, dari 150 siswa peserta MOS hanya ada lima yang tidak ikut berjalan kaki dan ada dua yang tidak ikut outbound dengan alasan sakit. Masalah kesehatan para peserta menjadi perhatian panitia MOS dan berada dalam monitoring tim medis sekolah.

Acara pertama adalah masing-masing kelompok menampilkan Yel-yel. Supaya tidak mononton, biasanya panitia memanggil satu peserta untuk “menghibur” para pendamping. Ini bukan bullying tetapi cara ini adalah salah satu usaha panitia mencari siswa-siswa yang berbakat dalam memimpin. Ada target setelah MOS, akan terpilih satu orang pemimpin untuk angkatannya dan ini sudah diseleksi sejak MOS dimulai.

Yang masuk dalam nominasi biasanya “digoda” dan diplonco untuk menunjukkan keberaniannya, tanggungjawab dan sportifitasnya. “Seorang pemimpin harus berwibawa di hadapan teman-temanya” lanjut Ignas.

Selain yel-yel, masing-masing kelompok menjalani permainan merayap di tanah becek, mencium bumi pertiwi, memindahkan air lumpur dari depan ke belakang. Pakaian menjadi kotor sudah merupakan bagian dari outbound.
Puncaknyanya adalah pembalasan kepada panitia atau seluruh siswa kelas XII yang berkumpul dalam satu tempat dan kemudian diserbu oleh peserta untuk dikotori dengan lumpur. Bagian ini diberi waktu hanya 8 menit saja. Tak boleh lebih. Ini bagian MOS yang paling seru dan setelah itu tak ada lagi balas dendam. Hubungan kakak adik dalam keluarga besar mengunci kegiatan MOS dalam semangat persaudaraan.

Penutupan MOS ini melihatkan para guru, pamong dan staf Yayasan. Bahkan, seluruh siswa kelas XI wajib datang karena tahun depan merekalah yang akan menjadi panitia. Diharapkan, dengan melihat penutuan MOS, mereka bisa merancang kegiatan MOS tahun depan lebih kreatif dan bermanfaat. Suasana penutupan MOS makin menarik dengan kehadiran alumni angkatan 9 (yang dulu memberi MOS buat panitia) juga hadir menyaksikan.

Kegiatan MOS ini menjadi awal untuk kegiatan lanjutan lainnya seperti LKTD, Bakti Sosial, Live-in, dan Retreat. Begitu seterusnya, sehingga MOS menjadi bagian dari program pembentukan karakter.

20 July 2013

Foto-foto MOS Angkatan XII SMA Lokon


















LOSNITO - Semangat "Kurikulum Berbasis Kehidupan" mewarnai kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru Tahun Pendidikan 2013/2014 di Persekolahan SMP/SMA Lokon St. Nikolaus.

Yang mengikuti MOS SMA berjumlah 63 siswa 66 Siswi. Mereka berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Utara, Papua (Jayapura, Manokwari, Sorong, Timika), Maluku, Kalimantan, Makasar dan Bandung.

MOS diselenggarakan oleh OSIS. Tujuan utamanya adalah pengenalan kampus, yang meliputi asrama dan sekolah. Termasuk diperkenalkan tentang laundry, perpustakaan, laboratorium, fasilitas olah raga.

Tak hanya itu saja. Yang cukup seru adalah bagaimana OSIS membentuk karakter para siswa baru sebagai siswa Lokon sejati.

Ciri khas siswa Lokon adalah:
  • siswa diajak selalu menyapa dan memberi hormat lebih dahulu, kepada setiap orang yang dijumpai, (tamu, guru, pamong, karyawan dan pimpinan Yayasan) dengan mengucapkan "Selamat Pagi, Selamat Siang. Selamat Sore, Selamat Malam";
  • siswa diajak menjaga kebersihan lingkungan dengan memungut sampah yang dijumpai dan membuang di tempat sampah yang disediakan;
  • setiap siswa Lokon bagian dari keluarga Losnito yang bersikap saling menolong, saling membantu dan saling kerjasama sebagai satu keluarga;
Yang menarik adalah penutupan MOS di Kelong Garden. Panitia yang telah mendampingi para siswa baru pada acara penutupan mendapat "balasan" dari peserta MOS. Namun, dibalik itu semua ada sebuah nilai-nilai kepemimpinan yang diajarkan, seperti keberanian, kekompakan, kemandirian, mau berkorban demi teman, bersedia dipimpin, sportif, dan banyak lagi.