SMA Lokon Sabet Juara Umum Atletik Tomohon

"Kejuaraan ini bertujuan untuk mencari bakat-bakat anak muda di bidang atletik untuk diperhatikan dan dibina oleh PASI Tomohon.

Champion DBL 2017 Roadshow Keliling Tomohon

Empat mobil "double cabin" dan bis dipasang banner merah bertuliskan "Champion" dan "Runner UP" DBL Manado 2017.

Berebut Alpha Zetizen Sulut ke New Zealand

"SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon Sulawesi Utara menjadi salah satu sekolah yang beruntung nih karena kedatangan Duta Besar New Zealand!

SMA Lokon Raih Empat Kali Champion DBL

Tim Putra-putri Losnito menghadapi lawan-lawannya dengan penuh percaya diri dan akhirnya lolos ke final setelah mengkandaskan lawan-lawannya.

Kendaraan Hias Bunga YPL dan Marching Band

Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) ikut tampil dalam gelaran akbar Tomohon International Flower Festival yang ke 7 (8/8/2017).

30 August 2013

Bupati Sumbawa Besar, Berkunjung Ke SMA Lokon


Bupati Sumbawa Besar (Baju Biru) dan Yulisa Baramuli (Betenan Hijau)

LOSNITO - Kamis sore (29/8) Bupati Sumbawa Besar, Drs. H Jamaluddin Malik, berkenan mengunjungi kampus SMP-SMA Lokon St. Nikolaus yang berada di kaki Gunung Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara.

Kedatangan beliau yang mendadak itu sempat mengagetkan pimpinan Yayasan Pendidikan Lokon. Bp. Chris Sarangi, Direktur Keuangan/Personalia Yayasan, mengungkapkan rasa kaget dan bercampur senang atas kedatangan Bupati Sumbawa  Besar yang tak disangka-sangka.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Wakil Bupati Minahasa Utara, Yulisa Baramuli yang mendampingi perjalanan Bapak Bupati hingga sampai di Kampus Losnito.


Sebelumnya Bp. Jamaluddin Malik dan rombongan dijamu untuk mencicipi kuliner khas Bukit Doa Mahawu yaitu pisang goreng, ubi goreng yang disajikan dengan sambal rowa. Sambil duduk menyantap dan minum di Cafe Moyaporong, rombongan Bupati Sumbawa Besar ini tampak begitu menikmati alam pegunungan Gunung Lokon yang asri menghijau.

Bukit Doa Mahawu menjadi destinasi rombongan karena lokasi ini menyediakan fasilitas wisata rohani sekaligus wisata alam.






Di Kampus Losnito, rombongan diajak untuk melihat-lihat bangunan SMA Lokon dan SMP Lokon serta asrama. Rasa kagum terpancar dari wajah Pak Bupati setelah mendapat informasi bahwa SMA Lokon memiliki Mt. Lokon Observatory, untuk melihat bintang dan angkasa.


Rombongan juga memuji lingkungan sekolah yang asri dan berbagai prestasi yang diraih seperti dipajangnya trophy dan penghargaan di lobi.

Motivation Training Dari Ibu Coreta Kapoyos



LOSNITO - Orang yang paling miskin, bukanlah orang yang tidak memiliki uang sepeser pun dalam sakunya. Tapi adalah orang yang tidak memiliki impian. Maka berbahagialah kalau ada yang bermimpi untuk menjadi presiden. Menjadi dokter atau menjadi orang sukses.

Demikian kata Ibu Coreta Kapoyos, istri Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Putut Eko Bayuseno, di hadapan 6oo siswa SMP/SMA Lokon, dalam rangka memotivasi siswa untuk menggapai sukses dalam hidup dan kehidupan.

Siang itu (27/8), di Sport Hall Losnito terasa sejuk karena awan tampak kelabu dan angin Barat terasa semilir. Para siswa begitu bersemangat ketika Ibu Coreta memulai ceramahnya dengan terlebih dahulu menyapa para siswa. “Apa kabar semua?” Para siswa membalasnya dengan mengatakan “luar biasa”. Mendengar jawaban spontan itu, Ibu Coreta tampak gembira dan mengapresiasi para siswa dan disambut oleh siswa dengan tepuk tangan yang membahana. Suasana akrab dan tidak mononton seperti itu berlangsung hingga selsesai.


Itulah kepiawaian ibu Coreta menguasai audience yang masih remaja dan gampang bosan mendengarkan ceramah di siang hari pukul 14.30 wita. Tak hanya itu saja, mantan reporter TVRI (1980) dan Ambassador of Indonesian Fashion Contest, mampu menghipnotis para siswa dengan berbagai nasehat segarnya yang membakar semangat para siswa untuk menggapai sukses.

 “Untuk menjadi sukses, siapapun harus memiliki mimpi. Setelah itu membuat target hidup. Itu semua harus dimulai dari diri sendiri. Seberapa jauh sukses itu tercapai tergantung pada seberapa tekun dan kekuatan yang diandalkan hari ini” ujar Coreta Kapoyos.


Mendatangkan penceramah untuk memotivasi siswa dan menyadarkan potensi siswa, sudah biasa dilakukan oleh sekolah Lokon. Tercatat, presiden SBY pernah datang ke Lokon selain meresmikan sekolah juga membagi ilmu dan cara bagaimana bisa menjadi sukses. Berikut, mantan Gubenur DKI, Sutiyoso, mantan Pangdam Wiranto, wirausahawan sukses Johny Andrean, politisi nasional Agung Laksono, dll.

“Jadi orang yang miskin adalah orang yang tidak memiliki impian. Maka dari itu, beranilah bermimpi. Mewujudkan impian atau dream bisa dengan cara, menguraikan kata DREAM menjadi D (Dare to be different), R (Record to the past action) mengecek ulang keberhasilan dan kegagalan di masa lalu, E (empowering) atau memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki, A (Action Plan) bukan NATO, no action talk only, M (Massive Action)”.



Sebagai motivator berpengalaman, istri Kapolda Metro Jaya ini menyampaikan materi dengan enak dan interaktif di hadapan para siswa SMP dan SMA. Tanya jawab juga dalam suasana menyenangkan. Tak sedikit siswa yang aktif bertanya dan mau maju di depan, diberi hadiah oleh beliau.

Mengakhiri motivasi training, Yunike siswa pembawa acara merangkum apa saja yang disampaikan oleh ibu Coreta Kapoyos. Kesuksesan diawali dengan berani bermimpi dan mewujudkan impiannya sesuai dengan kemampuan sendiri. Jadi, mulailah dari diri sendiri dulu untuk menggapai sukses.

25 August 2013

MB Losnito 2013: Display di Plaza SMA Lokon


MB Losnito 2013, dengan pelatih Arwan Pangerang, membuat display yang bertema dan berjudul "Brenti Jo Bagate". Sebuah ekspresi kemerdekaan yang tak sekedar mengutamakan kebebasan tetapi bebas yang bertanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari termasuk ketika mendapat tawaran untuk miras dan narkoba. Hanya pribadi yang integral dan kuat, bisa mengatasi musuh dari kemerdekaan yaitu bebas yang tak bertanggung jawab.



19 August 2013

Marching Band Losnito, Tampilkan "Brenti Jo Bagate"



LOSNITO - Sabtu kemarin (17/8), setelah Upacara Detik-detik Proklamasi di kantornya, Walikota beserta Kapolres, Sekdekot, para Assisten, bergegas menuju ke panggung kehormatan yang berada di depan pos Sat Lantas, sebelah Bank Mandiri. Kali ini panggung menghadap ke Timur, karena pawai start dari ex-Kantor Walikota Rindam dan finish di patung Tololui, Matani yang berjarak lebih dari 10 km. Tahun lalu, rutenya dari Selatan ke Utara.


Tak seperti saat Pawai Pembangunan yang lalu (15/8), cuaca hari itu cukup cerah dan cenderung panas. Di sepanjang jalan Raya Tomohon yang dilalui oleh para peserta pawai, tampak masyarakat berkerumun dan bersiap-siap menyaksikan pawai. Seperti tahun lalu, SD lebih dahulu jalan dan kemudian yang terakhir dari perguruan tinggi.
Berbagai macam rangkaian bunga hidup yang dikombinasi dengan tanaman hias mendominasi dekorasi panggung kehormatan. Walikota dan pejabat teras Tomohon menempati kusi-kursi di panggung ini. Setiap peserta pawai selain memberi salam kehormatan, juga menampilkan aktraksi yang memukau di hadapan para pejabat dan masyarakat yang sudah menyemut di sekitar panggung sejak pagi tadi. Tak jarang Walikota, Kapolres, Sekdekot mendapat “parcel” bunga dari para peserta. Lumayan nih, panggung kehormatan makin semarak dihiasi oleh bunga-bunga.

Masyarakat serasa mendapat hiburan gratis dari setiap peserta pawai. Tak jarang antar peserta pawai bersaing menampilkan atraksinya sebaik-baiknya bukan karena dinilai tetapi ikut berpartisipasi dalam menterjemahkan arti dan makna kemerdekaan yang kemudian diekspresikan lewat “display”, atraksi dari setiap peserta saat tiba di depan panggung kehormatan.


Karena itu saya semakin tertarik utuk memperhatikan tingkah laku ABG (anak-anak sekolah) yang menjadi peserta pawai meski didampingi juga oleh para gurunya di barisan belakang. Perlu diketahui, dalam setiap pawai 17-an, Tomohon diserbu oleh pengunjung dari luar daerah bahkan wisatawan asing untuk menonton pawai. Bukan tanpa sebab mereka datang untuk menonton “atraksi” dari kelompok Drum Band dan Marching Band.

Brenti Jo Bagate” inilah tema yang ditampilkan oleh Marching Band SMA Lokon di depan panggung kehormatan. Alkisah, Verren siswa yang cantik dan aktif dalam setiap kegiatan sekolah dan mudah bergaul dengan temannya, berpacaran dengan Rizky. Namun hubungan Verren dan Rizky putus karena Rizky selingkuh dengan gadis lain yang tak lain adalah sahabatnya Verren. Kegalauan hatinya itu membawa Verren jatuh dalam pesta miras dan pecandu narkoba. Verren akhirnya jatuh sakit dan terjebak di atas kursi roda. Melihat temannya aktif, Verren berteriak “aku bisa meraih mimpiku”. Sejak sadar dan memberi nasehat pada orang lain, “Brenti Jo Bagate (Berhentilah dari narkoba dan miras).

Cerita itu dikemas dalam sebuah ataraksi Marching Band Losnito dengan dibumbui dengan membuat menara manusia dan kemudian setelah memberi hormat, lalau menjatuhkan diri dan diterima oleh teman-teman. Atraksi bak sirkus ini membuat masyarakat yang menonton berekasi “wouww”. Kuatir kalau terpelest lalu membentur aspal.

Ilustrasi musik yang dibawakan oleh para pemain MB dilatih oleh Arwan Pangeran menghidupkan cerita Verren itu, antara lain mengambil penggalan lagu “Kamu Ketahuan” dari Mata Band. Ada sekitar lima lebih penggalan musik dibawakan oleh para pemain marching band dalam durasi 10 menit.

Selain SMA Lokon, atraksi meriah seperti itu ditampilkan oleh Marching Band SMA-SMP dari Smanto, Smakers, Seminari, Familia, Gonzaga, St. Clara, Kasgoro dan lainnya. Mereka ini bersaing untuk tampil terbaik mulai dari lagu-lagu yang dibawakan marching band saat defile dan display. Tak hanya itu, seragam mereka pun setiap tahun baru. Tarian dari kelompok cheers (gadis pom-pom) yang bergoyang-goyang, menurut saya, semakin kreatif dan inovatif setiap tahunnya. Sungguh menghibur penonton.

Meski demikian masih saja menyisakan kekurangannya. Panitia tidak on time dalam mengibarkan bendera start. Molor hampir satu jam lebih. Akibatnya, upacara penurunan bendera ikut molor karena Walikota masih menunggu peserta terakhir pawai yang sampai di depan panggung kehormatan.

Kegiatan pawai itu juga meninggalkan sampah yang berserakan di sepanjang jalan raya Tomohon. Sampah ini dibuang sembarangan oleh para penonton dan juga para peserta yang makan minum sambil jalan. Namun demikian, setelah selesai pawai, saya melihat para petugas kebersihan dengan sapunya langsung bereaksi cepat membersihkan sampah-samapah agar kota penerima Adipura (2013) untuk pertama kali ini tetap bersih. Sementara itu, para penoton pulang dengan hati senang karena mendapat tontonan gratis yang memukau.

Semoga kekurangan ini tak menjadi tradisi seperti halnya pawai sudah mentradisi di kota Tomohon, kota bunga yang telah beberapa kali menyelenggarakan Tournament of Flower (TOF) berskala International.