25 May 2012

Liputan Graduation Day 2012, SMA Lokon, Angkatan 8th, Infinity


“Tanyakan kepada saya tiga prioritas utama Pemerintah, dan akan saya katakan, pendidikan, pendidikan dan pendidikan”, ungkap Tony Blair, Perdana Menteri Inggris, 1997-2007. Pernyataan Tony Blair itu sama dengan apa yang dikatakan Julies Michelet, sejarahwan Perancis pada abad ke 19, “Apa bagian   politik? Pendidikan. Yang kedua? Pendidikan. Dan yang ketiga? Pendidikan”.

Di kalangan orang Minahasa, Sam Ratulangi, pahlawan Nasional, dokter matematika dan fisika, Gubenur Sulawesi Utara yang pertama, (1890-1949) menebarkan filosofi pendidikan yang terkenal dengan sebuatan, “Si Tou Timou Tumuo Tuo” (tulisan ini terpateri dengan huruf besar di gedung lobby Bandara Sam Ratulangi Manado). “Memanusiakan manusia”, itulah artinya. “Manusia baru bisa disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia”, tegas Sam Ratulangi.


“Semangat dasar itulah yang kini diwujudnyatakan di Sekolah SMP/SMA Lokon, Boarding School, dengan Kurikulum Berbasis Kehidupan. Ada 4 pilar utama dalam prateknya. Yang pertama, Aku ada karena kita ada, Rajin belajar dan rajin bekerja, berpikir positif, Kerendahan hati dan yang terakhir Takut akan Tuhan, sebagai pilar utama”, kata Ronald Korompis, Ketua Yayasan Pendidikan Lokon sekaligus owner, dalam sambutannya pada Gradution Day, Angkatan 8, di hadapan Walikota, Kapolres, Sekkot, para orang tua/wali, para guru, pemerhati pendidikan dan 113 siswa yang hari ini (Kamis, 24/5/2012) menamatkan sekolahnya selama 3 tahun di SMA Lokon, Sekolah berasrama di bawah kaki Gunung Lokon, 2,5 km dari kawah “berapi” Tompaluan Gunung Lokon.

Prosesi penamatan siswa itu dimulai dari Lobby Utama menuju Sporthall, tempat acara Graduation Day 2012 diadakan. Dress-code untuk cowok mengenakan setelan jas warna hitam dilengkapi dengan dasi. Sedangkan cewek pakai kebaya anggun warna keemasan. Mereka diantar oleh kedua orang  tuanya menuju ke Sporthall. Sementara itu, mini Marching Band mengiringi  barisan langkah mereka dengan musik lagu marching yang indah.


Cuaca siang itu cukup cerah. Memasuki ruang upacara, backdrop banner ukuran besar bertuliskan “Graduation Day 2012-8, Our Friendship is Infinite” berwarna orangedengan foto gedung persekolahan di bagian bawah, menjadi center dan panggung penamatan siswa SMA. Panggung itu yang didekorasi dengan bunga hidup dan tanaman hias, khas kota “bunga” Tomohon, menyejukan suasana akrab dan kekeluargaan yang luar biasa.

Para wisudawan dan orang tua berada di sebelah kiri, sedangkan Para Pejabat dan Tamu Undangan, Kepala Sekolah, Para Guru, Ketua dan Staff Yayasan bersama siswa-siswi kelas X, XI, menempati sebelah kiri. Diperkirakan sekitar 750 orang memenuhi Sporthall siang itu. Acara dimulai tepat  jam 8 pagi hingga jam 13.30. Sepanjang waktu itu diisi dengan berbagai macam sambutan dan performance art sebagai selingan di antara sambutan itu, selain acara pokok “mewisuda” 113 siswa angkatan 8 menjadi tamat dan kemudian menjadi alumni almamaternya.

“SMA ini sudah menjadi  brand image kota Tomohon. Berbagai prestasi di tingkat Dunia (ada siswa yang juara Fisika IPhO), Nasional dan Propinsi, pernah ditorehkan oleh sekolah ini. Namun, prestasi  seperti itu memang membanggakan, tapi yang lebih penting lagi adalah menjadi barometer pendidikan di kota Tomohon.  Karena, sekolah ini menganut sistem “friendship” yang tak terbatas ruang, waktu dan kesempatan, seperti yang dikatakan oleh Kepala Sekolah, Bpk. Ferry Doringing, Phd dan Gracia Theno, wakil siswa wisudawan, yang juga mantan Ketua OSIS tahun lalu. Bukan sekedar “brotherhood” (persaudaraan) tetapi siswa diajarkan bagaimana bisa belajar untuk hidup dalam semangat persahabatan satu sama lain” kata Walikota Jimmy F Eman SE, dalam sambutannya yang kemudian disambut meriah oleh para hadirin.


Bagi saya, angkatan 8 (infinity) tidak asing lagi. Mendampingi mereka saat masuk pertama kali (kelas X) di asrama bukan hal yang mudah. Gejolak diri mereka sebagai remaja yang ingin sepenuhnya menjadi manusia dengan kegalauan masa kini dan kemudian diasramakan, tak urung membuat saya sering berhadapan dengan orang tua atau wali mereka yang berasal dari 18 propinsi di Indonesia. Awalnya lebih dari 113 watak dan karakter siswa yang berbeda suku, ras dan agama serta latar belakang hidup yang homogen, saya hadapi bersama staff pamong lainnya. Suka dan duka pembinaan di asrama dan sekolah saya anggap sebagai sebuah upaya pembentukan karakter yang pada akhirnya membuat mereka cukup untuk beranjak menjadi dewasa.

“So, mo lanjut kuliah di mana?” tanya saya kepada beberapa siswa. Mereka ada yang menjawab dengan menyebut kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.  Bahkan, saat saya konfirmasi kepada orang tua yang saya jumpai saat itu, ada yang bilang mau kuliah ke China, Chicago, Swiss, Singapore, Australia. “Kalau saya ke UNSRAT pak, yang dekat. Ikut program tes penyaluran bakat.” kata salah satu siswa. “Saya lagi nunggu pengumuman dari ITB”, ungkap salah satu siswa yang kemarin mendapat medali perunggu OSN 012, di bidang Matematika. “Kami memang bukan Angkatan terbaik di @smalokon. Tapi kami akan menjadi Alumni terbaik di @smalokon”, tulis Lokon 8th Gen dalam twitternya seudai acara penamatan itu. Kicauan ini ditujukan untuk adik-adik kelasnya dan para alumni.


Suasana graduation siang itu, memang penuh dengan asa. Yang menarik adalah tradisi “Prime Capsul” menanam barang-barang mereka yang dimasukkan dalam peti besi yang entah kapan akan dibuka oleh angkatan mereka. Tradisi turun temurun sejak angkatan pertama ini dilakukan untuk memotivasi dan mensupport mereka yang lulus agar selalu memaknai arti pendidikan yang mereka dapat selama tiga tahun di almamater. Nilai-nilai kehidupan (living value) yang mereka peroleh hendaknya senantiasa mensupport langkah kehidupan mereka berikutnya. Begitulah tradisi itu dilanjutkan sebelum kelulusan UN 2012 diumumkan kepada mereka.


Graduation Day, adalah tradisi sekolah yang menjadi ajang pembuktian asa bahwa pendidikan itu hak setiap manusia. Karena itu peran dan tugas pemerintah, orang tua bahkan swasta (Yayasan Pendidikan) untuk senantiasa memprioritaskan pendidikan di atas kebijakan populis lainya. “Mencerdaskan anak-cucu bangsa Indonesia, terutama Indonesia bagian Timur (hingga Papua) agar sejajar kualitas dan kemajuan pendidikannya seperti Indonesia Barat, menjadi panggilan kita semua khususnya yang berada di Sulawesi Utara, Manado dan Tomohon” kata Ketua Yayasan menggarisbawahi arti diadakanya Gradution Day hari ini yang dihadiri oleh para pejabat pemerintah kota khususnya Walikota Tomohon, Bapak Jimmy F Eman, SE.

0 comments: