SEKOLAH LOKON ST. NIKOLAUS SD-SMP-SMA : pembinaan

Losnito Com

Advertorial

Dibuka Siswa Baru SMP-SMA Lokon 2023-2024

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP-SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon TA. 2023-2024 TELAH DIBUKA

Raih Medali Perunggu Kebumian OSN 2024

Raih Perunggu Kebumian OSN 2024. Emily mendapat pujian dari Sekolah dan teman-temannya.

Siswa Lokon sabet Juara di STIBA

Juara 1 Pidato Bhs Inggris, Juara 2 Puisi Bhs Inggris dan Juara 2 Siswa Teladan Iven STIBA 2024

6 Siswa Raih Medali Perak di Ajang GYIIF 2025

Tim SMA Lokon meraih Medali Perak di ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 kategori Social Science (Secondary)

Siswa Lokon Raih Banyak Prestasi

Banyak selamat atas prestasi yang diraih siswa/i SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, atau biasa disebut Losnito selama 2 minggu ini

Tampilkan postingan dengan label pembinaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembinaan. Tampilkan semua postingan

05 September 2016

Kapolsek Tomohon Utara Kompol Bartho, Irup Di SMA lokon


Kompol Bartho, Kapolsek Tomohon Utara Irup di SMA Lokon

LOSNITO NEWS - SMA Lokon menjaga kerjasama dan tradisi dengan pihak kepolisian Tomohon, khususnya Senin pagi (5/9/2016) Kapolsek Kompol. Bartho menjadi Inspektur Upacara di hadapan siswa dan guru.

"Siapapun yang berbuat tindak pidana, akan mendapat sanksi. Tidak pandang bulu. Siswa, Guru atau yang lain, kalau melakukan tindak pidana, maka akan mendapat sanksi bisa berupa hukuman atau penjara. Namun, ingat semua itu karena Indonesia adalah negara hukum. Berlaku untuk semua warga Indonesia termasuk yang ada di sekolah ini" tegas Kompol bartho dalam pembinaan saat upacara.


Apa yang disampaikan oleh Kapolsek Tomohon Utara itu merupakan pembinaan hukum kepada para siswa agar lebih fokus belajar dan mengikuti pelajaran daripada berbuat, bertindak aneh-aneh yang intinya merugikan diri sendiri.

"Siapapun yang melakukan tindak pindana, pasti akan diproses secara hukum. Kalau di sekolah atau asrama terjadi tindak pencurian, misalnya, akan diinvestigasi dan pelaku akan diproses secara hukum. Ini saya bukan mengancam atau menakuti, tapi itu hal yang lumrah di negara hukum Indonesia" lanjut Kompol Bartho.

"Ingat jaga nama baik sekolah, orang tua, keluarga dan diri sendiri" imbuh Kapolsek Tomohon Utara.


Kapolsek, Direktur Operasional Pendidikan, Staf Kapolsek


Di ruang BPH, Kapolsek mengusulkan untuk diadakan tes urine terhadap para siswa untuk memeberikan terapi dan pembelajaran bagi siswa. Anak remaja jaman sekarang, rentan terhadap miras dan narkoba. Bahkan demi kehormatan diri tak jarang membully, pacaran yang kebablasan, tindak pencurian daln lainnya. Yang kadang bermotif "beking diri" untuk mencari popularitas dihadapan temannya. "Kejahatan itu selangkah lebih maju dari penangan" kunci Kompol Bartho.


Kapolsek berharap suatu saat diadakan atau diagendakan dialog antara siswa dengan penegak hukum dalam upaya menjaga ketertiban dan keamanan serta membangun karakter yang berkualitas.

10 September 2014

Kode Kehormatan Siswa


Lokon Ambassador

Tomohon, LOSNITO Campus - Mengamalkan janji siswa dan Kode Kehormatan Siswa sudah menjadi kewajiban setiap siswa yang menimba ilmu di sekolah SMA Lokon.

Sekolah memandang setiap siswa adalah generasi penerus bangsa yang dijiwai oleh semangat dan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan 1945.

Karena itu siswa didampingi dan diarahkan untuk mampu memahami karakteristik bangsa dengan membekali diri dengan:
- ilmu pengetahuan
- ketekunan
- etos kerja
- pantang menyerah
- memiliki kepribadian yang luhur yaitu kepedulian, kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat terhdap diri sendiri dan orang lain, memiliki kesehatan rohani dan jasmani yang baik.

Kode Kehormatan Siswa sebagai berikut:
  1. Menjaga dan menjujung tinggi nama baik, martabat dan kehormatan pribadi, keluarga, almamater dan Yayasan Pendidikan Lokon.
  2. Memberi Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun kepada siapa saja.
  3. Hormat kepada orang tua.
  4. Hormat kepada guru, pamong dan karyawan.
  5. Pantang menyontek.
  6. Pantang menipu.
  7. Pantang mencuri.
  8. Pantang berkelahi.
  9. Pantang berbuat asusila.

06 September 2014

Ekskul Softball dan Sepak Bola Sangat Disukai

Setiap Selasa dan Kamis sore ekstra kurikuler sekolah dilaksnakan. Selain basket, sepak bola dan softball menjadi ekskul yang diminati siswa.



"Bola kaki olah raga favorit saya, Bapa" ucap Edgar siswa dari Papua sesaat selesai berlatih dengan teman-temannya di lapangan sepak bola yang menyatu dengan lapangan softball. Secara bergantian mereka bermain sepak bola karena sisiwa yang mengambil ekskul ini cukup banyak.

"Tim yang kemasukan gol, diganti dengan tim yang lain" teriak Steve Pu, pendamping sepakbola yang ikut main juga.



Berbeda dengan softball. Pelatih masih mengajak latihan memukul bola dengan berbagai cara. Bola diletakkan di atas penyangga lalu dipukul. Variasi lain adalah bola dijatuhkan dari tangan pelatih lalu dipukul. Latihan ini untuk membentuk feeling pemukul agar bisa tepat memukul bola pada sasarannya.

"Susah juga ternyata. Dari 15 bola hanya dapat dua bola yang bisa saya pukul" keluh Hengky Omabak ketika mencoba memukul dengan stik softball. 

04 Juni 2013

LPMAK Kirim Siswa Studi Ke Jerman



LOSNITO - Gagasan ikut mencerdaskan insan generasi muda Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Timur, sudah menjadi komitmen Yayasan Pendidikan Lokon.

Sebagai bukti, mulai dua tahun terakhir ini, YPL tak hanya memiliki SMA Lokon tetapi juga SMP Lokon. Tahun 2013, YPL juga sudah menggagas sebuah sekolah lagi yang namanya Lokon Hotel School yang diperuntukkan bagi tamatan siswa SMK/SMA yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Komitmen pendidikan YPL diperkuat dengan kerjasama dengan berbagai pihak seperti LPMAK, Yayasan Harapan Pola, dan IDEA. Kerjasama ini mewujudkan 21 siswa asal Timika dan Jayapura untuk disiapkan studi ke Jerman.

Ini beritanya yang diambil dari Radar Timika, Sabtu, 01 Juni 2013 , 07:04:00 | LPMAK Akan Kirim 10 Siswa Kuliah di Jerman

TIMIKA - Tamatnya 10 orang siswa di SMA Lokon yang merupakan peserta beasiswa Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) bukan menjadi akhir pendidikan yang ditempuh. LPMAK yang merupakan lembaga kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) terus berupaya meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia khususnya pelajar asli Papua dengan memberikan fasilitas pendidikan, yakni melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah ke Benua Eropa, yaitu ke Jerman. Jumat (31/5) bertempat di Kantor LPMAK, di Jalan Yos Sudarso, Timika, dilakukan acara pelepasan terhadap ke-10 siswa yang akan melanjutkan studi ke Jerman. Hadir pada kesempatan itu, Sekretaris Eksekutif
LPMAK, Emanuel Kemong, Direktur Operasional Pendidikan Yayasan Pendidikan Lokon, DR Maximianus Menase Imbang, 10 siswa bersama orang tua.

Program pengiriman siswa ke luar negeri pertama kalinya ini merupakan program LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Lokon. Emanuel Kemong mengatakan pengiriman ke-10 siswa ini tidak pernah direncanakan, namun dilakukan secara tiba-tiba. LPMAK berinisiatif mengikutsertakan 10 lulusan SMA Lokon itu setelah mendengar adanya program kerjasama antara Yayasan Pendidikan Lokon dengan Aachen University di Jerman.

"Tidak ada perencanaan, ini ide gila-gila. Sehingga terjadilah proses pengiriman, test dan lainnya disepakati. Ini yang terjadi muncullah rencana kirim ke Jerman," papar Kemong.
Saat mengikuti test pun, kata Emanuel, dari 10 hanya 6 yang dinyatakan lolos, sementara 4 lainnya belum. Namun pihak LPMAK terus berupaya melakukan berkomunikasi dengan Yayasan Pendidikan Lokon agar 4 siswa tersebut juga bisa diikutkan. "Sehingga kita akan mengirim 10 orang untuk ke luar negeri" terangnya. Dengan pengiriman 10 siswa tersebut maka menurutnya peluang kedepan akan bisa terbuka lagi. Upaya ini terus dilakukan LPMAK untuk meningkatkan kualitas SDM Papua. Investasi SDM menurutnya jauh lebih penting, karena 10 tahun yang akan datang akan menghasilkan orang-orang terbaik yang akan membangun daerahnya sendiri. "Kalau bicara uang, hari ini ya hari ini, tapi kalau bicara pendidikan ini seumur hidup, dan itu yang dikejar oleh kami (LPMAK), supaya semuanya menjadi tuan untuk membangun di negerinya sendiri", tuturnya.

Semua siswa tersebut, lanjut Kemong, akan terus didukung oleh LPMAK melalui Yayasan Pendidikan Lokon. Bahkan sebelum berangkat ke Jerman, semua peserta akan mengikuti pembinaan selama kurang lebih tiga bulan di Jakarta untuk penyesuaian, yang mana semua didukung penuh LPMAK. Lanjutnya, LPMAK telah menjalin kontrak dengan siswa tersebut, sehingga usai melaksanakan pendidikan di Jerman, akan kembali ke Mimika untuk bekerja apakah di Pemerintahan, PTFI atau lainnya. Kita ini mengharapkan, menyiapkan SDM, artinya setelah selesai mereka membangun Papua itu secara umum dan membangun Kabupaten Mimika," ujarnya.

Pada kesempatan itu Kemong juga mengucapkan terima kasih kepada PTFI yang terus memberikan dukungan. Kalau bukan PTFI, menurutnya tidak akan ada program seperti ini. Kita bersyukur kepada Tuhan supaya PT Freeport ini dengan keadaan baik, beroperasi dengan baik, memberikan susu kepada kita supaya kita menjadi gemuk, bukan badan tapi otak. PT Freeport ini memberikan sesuatu yang bermanfaat. Komitmen ini terus dijalankan, makanya kita juga menjaga supaya ini berjalan dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Operasional Pendidikan Yayasan Pendidikan Lokon, DR Maximuanus Menase Imbang mengungkapkan tahun ini peserta beasiswa LPMAK ada 10 orang yang menamatkan studinya di SMA Lokon. Lima diantaranya merupakan program matrikulasi pada tahun 2009, dan 5 lainnya matrikulasi 2010. Anak-anak yang mampu diberi kesempatan untuk bisa langsung pindah ke kelas XI. Rencana melanjutkan pendidikan di Aachen University, Jerman, kata Max adalah kerjasama antara LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon/IDEA. Sebelum berangkat, kata Max, semuanya akan ke Jakarta untuk mengikuti pembinaan selama tiga bulan yang dimulai Juni ini.

Saat ini, kata dia, ada masih ada 52 siswa yang merupakan peserta beasiswa LPMAK yang sedang menempuh pendidikan di SMA Lokon. LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon juga berencana untuk program pendidikan tingkat SMP di SMP Lokon, karena selama ini hanya tingkat SMA. Mewakili orang tua, Leonardus Tsolme mengucapkan terima kasih kepada pihak LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon yang sudah mendidik anak-anak sehingga bisa memperoleh nilai yang baik. Ia berharap dukungan itu terus berkelanjutan dari LPMAK dan PTFI. "Ini adalah langkah awal, mudah-mudahan kedepan akan lebih baik dan kembali membangun negeri. Tidak hanya membawa nama Papua, tetapi anak-anak akan membawa nama baik Indonesia" katanya.(sun)

Nama Siswa yang Akan ke Jerman 1. Yolanda Pinimet 2. Yohana Kemong 3. Yusianta Urumami 4. Magdalena Magal 5. Emelius Aim 6. Pius Kemong 7. Marlien Aypapanae 8. Michaela Turot 9. Welly Tsolme 10. Herlince Maga

Sumber berita: Radar Timika e-mail: radartimika_iklan@yahoo.com
twitter: @radartimika_KM
Fb : Komunitas Muda Radar Timika

07 Maret 2013

Dandim Minahasa, Pembina Upacara di SMA Lokon

LOSNITO -Upacara bendera SMA Lokon, mendatangkan Kapolres Tomohon, AKBP Marlien Tawas sebaga pembina upacara bendera pada Senin 18 Februari 2013. Sedangkan Kodim 1023 Minahasa, Letkol Infantri Theo Kawaru menjadi pembina upacara pada Senin 4 Maret 2013.


Dalam kesempatan itu, AKBP Marlien Tawas menegaskan pentingnya Bintalfisdis (pembinaan mental fisik dan disiplin) bagi para siswa. Pembinaan ini akan berpengaruh positif dalam meningkatkan disiplin dan kualitas sumber daya manusia terutama menangkal pengaruh negatif pergaulan remaja melalui penyalahgunaan narkoba.

Tatap muka dengan Kapolres Tomohon kemudian dilanjutkan dalam tanya jawab di Minitheater. Dalam pertemuan itu, para siswa yang masih remaja diingatkan agar mematuhi tata tertib berlalulintas di jalan raya demi keselamatan pengguna jalan lainnya.


Senin berikutnya (4/3/2013) giliran Letkol Inf. Theo Kawatu Komando Distrik Militer (Dandim) 1032 Minahasa diundang sekolah untuk menjadi pembina upacara bendera di plaza sekolah.  “Ini kesempatan baik untuk memberikan pembinaan kewiraan bagi para siswa. Kewiraan  itu mencakup upaya pembinaan warga untuk semakin cinta dan memumpuk sikap bela negara dan bangsa”.

Pengaruh baik dari Kapolres dan Dandim sebagai pembina upacara di sekolah bagi siswa antara lain mendisiplinkan siswa dalam upacara dan menambah wawasan tentang bela negara dan pemahaman dan berlalulintas dalam hidup bermasyarakat.


19 Februari 2013

Arbain Rambey, “Jurnalis Foto Bisa Wangi dan Bisa Berdarah-darah”



LOSNITO - Lelaki separuh baya berambut cepak beruban itu meletakkan tas dan kamera serta lensa bergelang merah di bawah kursi plastik biru. Sang pemilik kemudian meninggalkan barangnya, menuju ke lokasi pameran buku di sudut pojok Barat gedung  sport hall. Ibu berpakaian motif biru, yang duduk di dekat kursi biru itu lalu menarik kamera dari kolong kursi plastik dan menarik satu kursi plastik kosong dan meletakkan kamera itu di atas kurdi.

Tiba-tiba si pemilik kamera datang dan bilang, “Jangan taruh di atas kursi, nanti kalau jatuh lebih parah. Aman di taruh di bawah kolong kursi di atas lantai”.

Itulah awal pembelajaran dari sang fotografer yang bernama Arbain Rambey, fotografer senior dari Kompas, Digital Camera.

Sabtu (9/2) siang yang cerah Arbain Rambey, Soelastir Soekirno, dkk dari Kompas dan Gramedia datang ke sekolah dalam rangka Pendidikan Latihan Jurnalistik dan Fotografi untuk siswa-siswi se Sulut. Adalah Komunitas Cinta Baca Sulut yang mengorganisir kedatangan mereka. Kehadiran para wartawan itu ditunggu oleh para siswa sejak pukul 10.00 pagi di Sport hall, SMA Lokon, tempat diadakan acara pelatihan.

Tepal pukul 13.00 wita, opening ceromony dibuka dengan sambutan dan perkenalan secara interaktif dengan 350 peserta yang datang dari SMA/SMK Bitung, Minsel, Tondano, Manado dan Tomohon.

Kompas Muda Community diperkenalkan secara apik dengan metode interakif sambil setiap peserta diajak membaca langsung rubrik Kompas Muda yang dibagikan sebelum acara dimulai. Isi handbag yang diberikan secara cum-cuma oleh Tim Kompas Gramedia berisi koran Kompas, Majalah Digital camera, Ballpoint, Tali Flashdisk dan tas. Tak hanya itu, hadiah diberikan bagi yang bisa menjawab pertanyaan narasumber. Selain itu, metode saling tanya jawab antar peserta, berhadiah untuk penanya dan penjawab yang benar.

Pelatihan setengah hari itu juga memberi kesempatan bagi para peserta untuk mengikuti lomba jurnalistik dan fotografi di akhir acara yang langsung dinilai dan diberikan hadiah dari Tim Kompas.

Opening dan closing pelatihan bertempat di sport hall. Sedangkan ceramah dan tanya jawab materi diselenggarakan di Minitheater yang jaraknya hanya 200 meter ke arah gedung perpustakaan.

Cuaca yang cerah dan sedikit gerah siang itu, tak mengurangi minat dan niat 350 siswa untuk mengikuti pelatihan yang memang baru pertama kali diadakan di Tomohon oleh koran nasional Kompas. Apalagi Kompas mengirimkan wartawan seniornya yang saya dengar sudah dua puluh tahun lebih jadi

Soelastri Soekirno dari desk Muda Kompas, bertanya soal  5W+1H. Spontan para peserta menjawab sudah tahu karena masuk dalam pelajaran bahasa indonesia. Kemudian, lebih lanjut dikembangkan dengan gaya penulisan, seperti feature dan hardnews. Feature, kata Soleastri, meski ada newsnya tetapi kalau dibaca tidak kering. “Dalam sebuah feature, harus ada problem yang diangkat. Jangan cerita macam-macam ke sana ke mari” tegas Soelastri.

Peserta Diklat Jurnalistik dan Fotografi


“Yang terpenting dalam penulisan adalah keberanian untuk mengutarakan gagasan dalam bentuk tulisan. Latihan menulis dan sering membaca artikel, terutama feature, akan sangat membantu dalam setiap penulisan. Hanya gaya penulisan yang kaku, kurang menarik bagi pembaca” jelas Soelastri sambil menunjukkan contoh tulisan juara pertama lomba penulisan yang berjudul “400 km pertama jauh dari orangtua” karya Emansyah UGM, yang dimuat di rubrik Muda Kompas.

Arbain Rambey, fotografer senior Kompas, menjadi narasumber ke dua. Paparan foto-fotonya menjadi bahan pembelajaran yang menarik. Foto Agnes Monica seharian berbeda dengan tampilannya saat di atas panggung. Maia Estanty difoto saat berada di dapur, sehabis bangun. Brian Walski, reporter Los Angeles Time (2004), menghebohkan pembaca dengan foto olah digitalnya lewat photoshop, tentang Perang Irak.

Ada juga foto tentang tentara Inggris yang sedang mengencingi seorang tentara Irak (?) yang ditutup kepalanya. Foto ini empat menghebohkan pihak Kerajaan Inggris, namun setelah diselidiki ternyata hanya akal-akalan fotografer saja.

Dari pembelajaran foto jurnalis itu, Arbain Rambey mau mengatakan kepada peserta, “Suatu ketika anda dihadapkan pada realitas yang berdarah-darah, seperti pencuri motor ketika difoto langsung dibakar. Tapi ada juga yang foto enak-enak seperti fashion, artis dan sebagainya. Jadi, kalau anda mau jadi wartawan (foto), jangan mikir jadi kaya, berpikirlah menjadi jurnalis”.

Wajah para peserta tampak serius memperhatikan apa yang diceritakan oleh Arbain Rambey dengan berapi-api. “Kalau anda jadi wartawan, yakinkan diri anda senang dengan dunia jurnalis. Seorang fotografer bisa memilih Jurnalis “wangi” seperti memotret fashion dan cewek-cewek cantik. Bisa juga berdarah-darah karena memotret pencuri yang digebuki massa hingga berdarah, perang, kriminal dan sebagainya. Wartawan foto Kompas siap segala-galanya” kata Arbain mengingatkan para peserta sebelum sesi tanya jawab dimulai.

Akhirnya, para pemenang jurnalis, Juara I, dengan judul “Keindahan Pulau Bunaken Yang tercemar Sampah Kota Manado” karya Jennifer (tanpa cantumkan nama sekolah), Juara II, judulnya “Wisata Bahari Ala Aquino” karya Thalia, SMA Aquino, Manado, Juara III, berjudul “Manado Punya Cerita, Minat Remaja Manado”, Angel Pakasi, SMA Ignatius Malalayang.

Untuk fotografi, Juara I dan II, Kendi Goni, Priscilla dari SMK Kristen 1 Tomohon, juara III, Sri, SMA PGRI Manado. Catatan dari Arbain Rambey yang penting dalam memotret orang adalah ekspresi yang difoto.

Setelah pembagian hadiah, acara pendidikan latihan jurnalis dan fotografi, ditutup dengan sambutan dari Wapemred Kompas Trias Kuncahyono yang intinya seorang jurnalis dituntut untuk banyak membaca dan berlatih untuk menulis dan menulis tanpa kenal lelah.

13 Desember 2012

Mahfud MD, “Butuh Presiden Yang Pintar Otak, Cerdas Watak”



TOMOHON by Losnito -“Orang pinter di Indonesia itu banyak. Bergelar dokter, insinyur bahkan berprofesi dosen juga banyak. Tetapi pinter berkarakter bagus dalam kehidupannya, sangat jarang. Buktinya korupsi di Indonesia dilakukan oleh orang-orang pinter bahkan tak sedikit yang bergelar Doktor, Dosen dan pejabat tinggi” kata Mahfud MD di depan civitas academica Losnito di sport hall Kampus Losnito, Selasa siang kemarin (11/12).

Jadi, sekarang ini yang dibutuhkan adalah orang yang pinter otak dan cerdas watak. Bukan butuh orang yang hanya pinter secara intelektual. Itulah konsep dasar tujuan pendidikan di Indonesia. Memang ada penegasan arti pendidikan dalam UU pasal 31/1999 bahwa pendidikan bukan sekedar pengajaran tetapi pendidikan berkarakter itu mengandung arti “Transform of knowledge and value”.

Pernyataan Prof. Dr. M. Mahfud MD SH SU didengar oleh sekitar 500 siswa SMP, SMA dan para guru serta staff Yayasan Pendidikan Lokon di sport hall SMA Lokon, Tomohon, Sulut. Kehadiran Pak Mahfud MD didampingi oleh Fery Tinggogoy, anggota DPD RI wakil Sulut, Djauhari Kansil, Wakil Gubenur Sulut, Ronald Korompis, owner dan founders SMP-SMA Lokon, juga Diknas Tomohon, Bpk Wendy Kawur.

Sebelum tiba di kampus Losnito, rombongan Bapak Mahfud MD diarahkan ke Taman Kelong untuk jamauan makan siang. Baru beberapa menit duduk di kursi sebelum makan, tiba-tiba Gunung Lokon meletus dengan dahsyat. Suara letusan yang menggelegar terdengar jelas di taman kelong yang jaraknya lebih dari 10 km dari Kawah Tompaluan. Kecemasan terhadap hujan abu di Kampus Losnito sempat muncul. Ternyata tidak, karena angin Timur telah membelokkan arah abu ke desa Woloan, Kayawu dan Tara-tara di sebelah Barat. Peristiwa alam letusan Gunung Lokon berapi ini sempat dikomentari oleh Pak Mahfud MD sebagai berkah atas kedatangannya ke Tomohon. “Semoga saja berkah itu langgeng hingga Pemilu 2014”, kata Dolfie teman saya.

“Menurut UUD 45, tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; untuk memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sedangkan tujuan pendidikan adalah mencerdaskan bangsa. Bangsa yang tidak cerdas tidak ada gunanya. Karena tujuan pendidikan pada dasarnya adalah mendidik manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tekniologi yang berkarakter dan berlandaskan pada keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan” jelas pak Mahfud MD dalam ceramahnya.

Seharusnya dalam pendidikan mendapat perhatian besara tentang pentingnya pendidikan berkarakter. Tak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi berkarakter baik. Dengan mengedepankan pendidikan berkarakter itu, estafet kepemimpinan bangsa tak akan terputus

“Dream it do it” Itulah ringkasan bagaimana mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan. “Sejak tahun 1970 ketika masih usia SD, beliau sudah memiliki orientasi bahwa suatu ketika saya harus bisa menjadi penulis yang terkenal dan bangga diberitakan oleh media massa. Berbekal pada “dream” atau orientasi masa kecil itu akhirnya sejak sekolah selalu mendapat “bea siswa” hingga lulus doktoral.

Di hadapan siswa-siswi SMP SMA Lokon beliau berpesan dan mengingatkan bahwa sekarang ini adalah era globalisasi, Dalam era ini, manusia diajak untuk menguasai Teknologi Informasi yang sifat hubungannya semakin instan saja. Tak hanya itu saja, “orang yang maju adalah orang yang bisa beradaptasi dengan Ilmu Tehknologi dan jangan sampai dikatakan bodoh karena nggak ngerti perkembangan Ilmu Teknologi yang serba instan seperti FB, Twitter…”

Ada tiga hati nurani di era globalisasi ini, kata Mahmud MD dengan seriusnya dan suara yang berwibawa. Yaitu, demokratisasi, perlindungan HAM, lingkungan hidup. Sedangkan persoalan yang sekarang dihadapi bangsa ini adalah pasar bebas, penegakan keadilan dan pemberantasan korupsi.
“Dewasa ini gerakan demokratisasi sudah mengglobal dan susah ditutup salurannya. Aspirasi masyarakat makin mencuat dan memberi peluang besar kepada para pemilih untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan kehendak hatinya. Artinya, pilihlah pemimpin sesuai dengan harapa. Contohnya yang terjadi pada Pilgub DKI” ungkap Pak Mahfud MD.

Persoalan utama bangsa kita sekarang adalah bagaimana dan caranya menegakkan keadilan dan pemberantasan korupsi. Contohnya, pratek jual beli hukum dan keadilan di Indonesia masih terjadi. Ada orang Betawi yang tanahnya telah disertifikatkan oleh orang dan kemudian dijual ke pengembang yang telah kongkalikong dengan aparat dalam penerbitan sertifikat tanah. Akhirnya justru orang Betawi pemilik tanah turun-temurun itu yang dijebloskan ke dalam penjara. Contoh lain kasus tanah Mess AURI di Yogya yang menimpa keluarga Bung Hatta.

“Keadilan ada dalam hati nurani. Jika tidak bisa menegakkan keadilan, itu sama saja membunuh bangsa Indonesia sendiri” tegas Pak Mahfud memberikan contoh betapa pentingnya penegakan keadilan di era globalisasi ini. Pernyataan ini disambut dengan tempuk tangan meriah oleh semua hadirin.



“Solusinya adalah memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan aturan dan mendidik sumber daya manusia menjadi pinter dan berkarakter. “Sekolah bukan mencerdaskan otak saja tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa ini” kata Pak Mahfud MD memungkasi ceramahnya di hadapan civitas akademika Losnito.

Tanya jawab berlangsung dan hanya ada empat siswa yang mendapat kesempatan bertanya mengingat setelah acara ini Pak Mahfud rencananya akan terbang ke Jayapura. Beberapa hal yang ditanyakan para siswa antara lain, bertanya soal mengapa korupsi susah diberantas, minta tips memilih presiden yang baik dan berkarakter karena tahun 2014 mereka menjadi pemilih pemula.

Menjawab pertanyaan siswa itu, kembali pak Mahfud MD menegaskan bahwa “bangsa ini seharusnya memilih pemimpin bangsa (presiden) yang pintar otak dan cerdas watak”.

13 September 2012

Seminar Pendidikan: Akreditasi, BOS, dan Permendikbud No.44 Th. 2012


TOMOHON by Losnito - Ada tiga pembicara utama dalam seminar pendidikan itu yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan Hotel Formosa Manado, 8 September 2012 dihadiri oleh penyelenggara sekolah (Yayasan) dan Kepala-kepala sekolah SD, SMP, SMA dan Madrasah.


BOS

Kepala Diknas Propinsi Sulut, Bp. Drs. J.S.J. Wowor, MSi. menyampaikan tentang kebijakan Pendidikan Nasional terkait dengan upaya sekolah dalam partisipasinya di dunia pendidikan agar tercipta kehidupan bermakna.

Dikatakan, bahwa banyak usia produktif yang menganggur bukan disebabkan oleh dirinya sendiri tetapi karena minimnya suber daya alam dan lapangan pekerjaan di Indonesia. Berbagai krisis seperti krisis intelektual, krisis sosial dan kredibilitas para pemimpin ikut andil dalam menciptakan suasana itu.

Untuk mewujudkan visi Kemendiknas 2010-2014, terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia CERDAS KOMPREHENSIF, maka berbagai upaya sudah mulai dijalankan. Antara lain, memberikan otonomi sekolah untuk improvisasi dan meningkatkan kreativitas dalam menyelenggarakan sekolah.

Pendidikan terkait dengan upaya pemerintah mengurangi kemiskinan. Karena itu, kepsek tak hanya ahli sebagai pengawas dan administrator tetapi sifat entrepreneurnya perlu diwujudkan. Data pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), APK dan APM bisa menjadi acuan untuk mewujudkan insan Indonesia yang cerdas komprehensif melalui pendidikan atau sekolah.

Mindset yang benar tentang pendidikan harus dibangun mengingat belum banyak yang mengetahui bahwa “pendidikan adalah investasi masa depan bangsa”. Karena itu perlu ada perubahan cara pandang, bahwa sekolah bukan pabrik tetapi komunitas. Siswa bukan sebuah gelas kosong tetapi bibit unggul yang beranekaragam sehingga kecerdasan penting.

Direncanakan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) ke depan akan diberikan dengan standard 1 siswa 1 juta rupiah. Pak Star Wowor, demikian nama akrab Kadis Dikbud Propinsi Sulut, mengakhiri ceramahanya dengan sebuah himbaun agar semua saja mempunyai pedoman “KRILANGKUN”, Kritis, Langkah dan Tekun.


Akreditasi Sekolah

Bp. J.O. Bolang, Kepala Badan Akreditasi dan Pengawas Sekolah dan Madrasah (BAP-SM) menegaskan bahwa akreditasi sekolah merupakan akuntabilitas publik secara obyektif, adil, transparan dan komprehensif. Akreditasi untuk persyaratan seleksi calon mahasiswa, persyaratan pindah sekolah lain, persyaratan melamar pekerjaan, penyelenggaraan ujian nasional.

Manfaat Akreditasi Sekolah adalah:
·         untuk peningkatan mutu sekolah dan rencana pengembangan
·         feedback untuk kinerja sekolah
·         membantu untuk penerimaan bantuan pemerintah, investasi dana, donatur
·         bahan informasi bagi masyarakat dalam hal profesionalisme moral, tenaga dan dana.

Permendikbud Nomor 44, Th 2012

Pst. Fred Tawaluyan Pr, Kepala BMPS mengkritisi Permendikbud Nomor 44 tahun 2012, tertanggal 28 Juni 2012 tentang Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar sebagai ganti dari Permendikbud Nomor 60 tahun 2011 Tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan pada SD dan SMP.

“Kewajiban sekolah swasta untuk membayarkan “secara gratis” biaya pendidikan bagi peserta didik yang tak mampu secara finansial dan terkait dengan kebijakan “wajib belajar” hingga SMP, teratasi dengan munculnya Permendiknas Nomor 44 itu. Hal ini melegakan bagi penyelenggara sekolah swasta” kata Pst. Fred mengawali pembahasan peraturan baru itu.

Mengapa melegakan? Secara perhitungan, BOS yang diterima sebesar Rp. 580.000,- untuk anak SD per anak per tahun dan Rp. 710.000,- untuk SMP masih membebani sekolah karena dengan uang sebesar itu belum cukup untuk menggaji guru dan harus ditanggung oleh penyelenggara sekolah. Untuk itu, pungutan (atau lebih populer disebut dengan SPP) menjadi “tumbal” untuk menutupi kekurangan dalam mengatasi biaya pendidikan.

Meski tidak dilarang melakukan pungutan dan sumbangan tetapi Permendiknas No 44 itu telah mengatur ketentuannya seperti yang tersirat dalam pasal 8 yaitu harus didasarkan pada RAPBS, disetujui oleh Komite Sekolah, dan ada pembukuan khusus dan terpisah dari pembukuan dari penyelenggara sekolah.

Agar akuntabilitasnya terjaga, maka pertanggungjawaban dan pelaporan pungutan dan sumbangan (sesuai dengan ketententuan peraturan itu) harus ditujukan kepada orang tua/wali, komite sekolah dan penyelenggara.

 “Sekolah yang sedang menerima BOS, BOM, RKB, dana hibah dari pemerintah/pemda, dapat memungut biaya pendidikan hanya untuk memenuhi kekurangan biaya investasi dan biaya operasional sekolah. Jangan lupa, pembukuannya harus terpisah dari pembukuan penyelenggara” kata Pst. Fred menggarisbawahi soal ketentuan Permendiknas Nomor 44 itu.

“Pemerintah akan memberikan sanksi pembatalan pungutan yang dinilai meresahkan masyarakat” lanjut Pst. Fred sambil mengingatkan agar setiap pungutan hendaknya dimusyawarahkan dulu dengan orang tua/wali siswa supaya tidak timbul keresahan.

Dalam perjalanan pulang, saya dengan teman sekantor sempat mereview apa yang tadi dibicarakan dalam seminar.  Sistem keuangan yang terpisah dari sistemnya penyelenggara sekolah menjadi beban tersendiri dan bisa menimbulkan gap pengelolaan pihak sekolah dengan penyelenggara sekolah. Meski demikian, segala kebijakan dari pemangku sekolah tentu tak lepas dari kebijakan penyelenggara sekolah.

Semoga munculnya Permendiknas Nomor 44 itu, tidak membuahkan “perdebatan” antara sekolah dan yayasan penyelenggara sekolah tentang pungutan dan sumbangan.

Referensi tulisan:
-          Permendikbud No. 44 Th. 2012
-          Permendikbud No. 60 Th. 2011
-          Paper Seminar yang dibagikan





10 September 2012

Tiga Medali Perunggu OSN XI 2012, Sejarah Baru SMA Lokon

Louis Pandi, Bp.Fery Doringin, Wiken Lengkong, Bp. Anton dan Rhesa Tendean (Foto: Michael Pandi)


TOMOHON by Losnito - Berita tentang tiga siswa SMA Lokon meraih tiga medali perunggu dalam ajang OSN 2012, melegakan beberapa pihak. Rasa bangga tampak menyeruak bersamaan dengan tepuk tangan para siswa Lokon, ketika Wakasek Kesiswaan, Bp. Tomy Moga dalam apel pagi (8/9) di Plasa mengumumkan keberhasilan SMA Lokon menyabet tiga medali perunggu.

Tiga perunggu itu disabet oleh Louis Putra Pandy kelas XII (Kimia), Wiken Lengkong kelas XII (Astronomi) dan Rhesa Tendean, kelas X (Fisika). "Yang paling menentukan dapat tidaknya medali adalah kontinuitas dalam pembinaan. Tanpa pembinaan yang serius dan memadai dari Sekolah, raihan perunggu OSN 2012 itu bisa jadi lepas" ungkap Bp. Michael Pandi, yang ikut mendamping putra Louis Pandi berlaga di OSN Jakarta.


Tak hanya Kepsek atau Guru pendamping saja yang ikut mendampingi mereka di Jakarta, tetapi orang tua juga ikut terbang ke Jakarta mendampingi putra-putrinya berlaga. Support juga datang dari para alumni losnito (SMA Lokon) yang menyempatkan diri "baku dapa" di penginapan.

Ketika ditanya tentag apa rencana orang tua setelah mendapatkan medali perunggu, di antaranya menjawab bahwa yang sudah kelas XII yah kosentrasi untuk study lanjut di Perguruan Tinggi. Namun, yang masih kelas X masih ada kesempatan di tahun depan untuk meraih medali emas. "Anak saya akan saya ikutkan dalam pembinaan lanjutan, dengan biaya sendiri" ujar orang tua dari Rhesa.


Kini, 6 siswa Lokon yang menjadi utusan Propinsi Sulut dalam ajang OSN XI di Jakarta sudah kembali dengan selamat. Berbaur dengan temannya untuk rutinitas sekolah sudah mulai sejak Senin ini (10/9).

Selamat buat tiga siswa Lokon, peraih medali perunggu OSN 2012. Ini yang pertama kali terjadi dan tentunya akan tercatat dalam sejarah SMA Lokon bahwa pada tahun 2012 ini SMA Lokon meraih tiga medali perunggu. Sukses dan jangan puas dengan perolehan medali perunggu. Maju terus dengan semangat baru.



03 Agustus 2011

01 Desember 2010

LKTD Angkatan IX SMA Lokon

"Positive - Active - Smart"
Yel-yel kami!!!
LKTD kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaannya pada organisasi penyelenggaraan dan peserta tentunya. Menurut Ketua Panitia, kali ini LKTD diselenggarakan dengan semangat "POSITIVE-ACTIVE-SMART". Semangat ini, tidak hanya digumului oleh para peserta tetapi kepanitiaan bahkan sekolah. Lebih lanjut, Ketua Panitia, Reynaldi Moksidy, menjelaskan bahwa semangat itu berlaku pada saat pemberian materi, team building dan outbound. "Pada akhirnya LKTD mengarah pada pribadi sendiri yang siap memimpin dan dengan kepemimpinannya, ia berhasil dalam kehidupan." sambung sang Ketua Panitia.

Jalannya LKTD
Hari pertama, 4 Nopember 2010
Hari kedua, 5 Nopember 2010
"Ayo bikin huruf pakai badanmu!"
Panitia LKTD kelas XI
Hari Ketiga, 6 Nopember 2010
Pada hari ketiga ini, peserta LKTD diajak untuk mendalami materi kepemimpinan di arena outbound. Setiap kelompok memulai kegiatan di pos pertama di pintu masuk Jalan Salib Mahawu. Masing- masing kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan materi dan sekaligus menampilkan yel-yel yang sudah disiapkan. Kemudian, melanjutkan ke pos berikutnya. Setiap pos diberikan tugas. Yang menarik dari pos itu adalah menggunakan jalur "trekking" melewati perbukitan sehingga masing-masing kelompok harus kerjasama mengatasi rintangan alam secara bersama. Adventure betul, jalur yang dilewati. 
Bagian kedua dari kegiatan outbound adalah Fun Games yang tidak kalah menantangnya. Kelompok harus kompak, tahu siapa yang memimpin, harus tahu siapa yang dipercaya untuk mengendalikan. Permainan outbond bukan sekedar fun saja melainkan ada makna yang diperoleh. 
Instruktur , Pemenang Fun Games dan Yel-yel terbaik
Permainan fun gamesnya adalah "maju-mundur", "lubang maut", "hulahop", "menara air", "air beracun", "kapal pecah", "pipa bocor" dll.



30 September 2010

Opini: INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN INDONESIA, MAJU KENA MUNDUR JUGA KENA?

Menurut data Education Development Index (EDI) yang diterbitkan UNESCO pada 2007, peringkat Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 58 menjadi peringkat 62 dari antara 130 negara.  Skor EDI Indonesia adalah 0,935 yang lebih rendah daripada Malaysia (0,945) dan Brunei Darusalam (0,965). Hal ini mendorong para penanggungjawab dan pelaku pendidikan di Indonesia untuk berupaya mendesain berbagai program dan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik.

Salah satu kebijakan pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia adalah penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) [Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003  pasal 50 ayat (3) dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 61 ayat (1)]. Kebijakan SBI diharapkan dapat menjadi faktor pendorong bagi Pemerintah Pusat dan Daerah (Propinsi dan Kabupaten) guna meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di Indonesia.

Di Indonesia, sekolah bertaraf internasional diawali dengan didirikannya sekolah-sekolah yang disiapkan khusus untuk menampung siswa-siwa asing, yang orangtuanya bekerja sebagai diplomat asing ataupun bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional seperti Jakarta Internasional School (JIS), yang didirikan tahun 1951. Sejak itu, mulai bermunculan berbagai sekolah bertaraf/berstandar internasional di Indonesia, baik yang didirikan oleh kantor-kantor Kedutaan Besar asing maupun oleh lembaga-lembaga swasta (domestik dan asing) yang bergerak di bidang pendidikan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional mendefinikan SBI sebagai satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu Negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya (X), yang dirumuskan :SNP + X

Walapun berbagai peraturan terkait SBI telah diterbitkan, namun belum ada panduan operasional yang jelas untuk mencapai standar tersebut. Dibangunnya faktor ’X’ oleh masing-masing SBI yang ada di Indonesia mengakibatkan sistem dan model yang dianut oleh masing-masing sekolah jadi berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, yang akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan dan lulusan yang tidak seragam.

Saat ini di seluruh Indonesia sudah terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah bertaraf internasional dengan menggunakan sistem yang berbeda-beda. Kurang lebih ada 3 (tiga) sistem yang paling banyak digunakan oleh sekolah-sekolah bertaraf internasional di Indonesia yaitu Internasional Baccalaureate (IB), Cambridge, dan Australian Curriculum

Bagi lembaga-lembaga swasta, membeli lisensi dari lembaga-lembaga pemasok sistem pendidikan sekolah internasional bukanlah hal yang sulit. Namun untuk sekolah-sekolah milik pemerintah (negeri), lembaga-lembaga sosial atau keagamaan, biaya lisensi merupakan masalah besar. Selain mahal, pemilik lisensi menetapkan prasyarat yang tinggi bagi guru dan fasilitas yang harus dimiliki sekolah. Tidak heran jika harga sekolah bertaraf internasional yang memiliki lisensi di Indonesia sangat tinggi sehingga hanya bisa diakses oleh golongan masyarakat tertentu saja. Oleh sebab itu, sekolah bertaraf internasional sering dinilai sebagai bentuk dari kastanisasi pendidikan. Menyikapi tingginya harga lisensi sistem pendidikan internasional, Pemerintah Indonesia berencana untuk membeli lisensi salah satu sistem pendidikan internasional untuk digunakan secara luas di Indonesia. Namun demikian, tindakan ini tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah penyelenggaraan SBI di Indonesia karena di samping lisensi, harus disiapkan juga sistem lain seperti sarana dan prasarana, biaya operasional, dan sumber daya manusia.

Bertolak dari kondisi tersebut di atas, dalam rangka Dies Natalis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ke-54, maka Yayasan Bina Dharma (YBD) dan Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia-Universitas Kristen Satya Wacana (PSKTI - UKSW) bekerjasama dengan Willi Toisuta and Associates (WTA) dan University of the Sunshine Coast (USC)-Australia, mengadakan Seminar dan Workshop dengan tema ”Internasionalisasi Pendidikan dan Prospeknya di Indonesia”. Melalui Seminar ini, diharapkan para pelaku pendidikan di Indonesia dapat memahami konsep SBI yang diperkaya dengan gambaran sistem pendidikan di Australia sebagai salah satu negara OECD, serta tantangan dan pengalaman membangun sekolah bertaraf internasional di berbagai daerah di Indonesia.  

02 September 2010

Foto-foto: LOMBA ANAK BANGSA, HUT Kemerdekaan RI ke 65 th

Ibu Guru ikutan Lokon Idol...

Pak Guru seperti Ariel

Vocabulary Building

Ekspresi peserta Lokon Idol..!!

Lokon Idol

20 Agustus 2010

MENJADI REMAJA YANG EFEKTIF DI SMA LOKON


Jumat, 13 Agustus 2010, pkl 20.00 - 22.00

Sesudah makan malam, siswa-siswi sudah berkumpul di Minitheatre, SMA Lokon. Dua orang Suster dari Cimahi, Bandung Jawa Barat sudah duduk di meja narasumber di hadapan anak-anak. LCD proyektor sudah terpasang. Bapak Anton dan Ibu Senli juga sudah siap menjadi memandu acara Pembinaan bagi siswa-siswi Lokon. Jam saat ini menunjuk pukul 20.30 wita. Tampak minitheatre dipenuhi oleh 250 siswa. Sebenarnya ada 350 an tetapi ada sebagian siswa sedang latihan Marching Band untuk persiapan Pawai 17 Agustus nanti.

Doa pembukaan dilantunkan oleh siswa. Ucapan selamat datang disampaikan oleh Kepala Asrama, Bp. Tri Nugroho. Kemudian acara pembinaan malam ini diserahkan ke moderator acara. Narasumber kemudian diperkenalkan oleh Moderator, yaitu Sr. Gabriela OP, Kepala Yayasan Santo Dominikus, Bandung yang berasal dari Jawa Tengah dan Sr. Fidelia OP, Kepala Sekolah SMP St. Mikael, Cimahi, Bandung yang berasal dari Toraja, Sulawesi. Sepatah dua patah kata disampaikan oleh kedua Suster dalam sesi perkenalan.

Apa kabar teman-teman?, kata Suster Fidelia. "Baik" sahut siswa. Tapi karena tidak semua buka mulut. Kembali Suster menanyakan apa kabar. Serentak dijawab "baiiiiik" oleh semua siswa. Kali ini Suster bilang kalau cuma dijawab baik, tidak ada bedanya dengan yang lain. Lalu, Suster minta dijawab "Luar biasa". Kembali anak-anak ditanya, "apa kabar?" "Luar biasa!!!!", jawab semuanya dengan lantang.

Presentasi di mulai. Suster membawakan presentasinya dengan judul "MENJADI REMAJA YANG EFEKTIF". Dalam presentasinya, siswa diajak paham lebih dahulu kata "remaja". Kalau hanya dimengerti harafiah saja, remaja= gagal. Kalau dipahami seperti ini, rem=aja, maka siswa-siswi bisa efektif menggunakan masa remaja dengan luar biasa. Untuk itu, pergolakan masa remaja harus diketahui baik akibat dan pengaruh psikologis, pengaruh sosial dan keimanan.

Lalu diadakan diskusi. Apa yang anda harapkan pada pamong?

Sabtu, 14 Agustus 2010, pkl 08.00 - 13.00

Hari ini para narasumber memberikan pembekalan bagi para pamong.Judul makalah, (1) Psikologi Remaja, (2) Berbagi dengan pamong Asrama:




17 April 2010

"YOU ARE WHAT YOU THINK ABOUT" REKOLEKSI SISWA KELAS X


MAHAWU - "Siapakah saya? Saya adalah apa yang saya pikir. Dalam bahasa Inggris, you are what you are thinking." Demikianlah, kata Pak Tri, Kepala Asrama Lokon dalam kesempatan membuka Rekoleksi Siswa kelas X SMA Lokon di Alamanda Retreat, di kaki Gunung Mahawu yang sejuk dan berkabut. "Di mana pun, kapan pun, siapa pun, anda berada ada tiga hal yang selalu menempel dalam hidup dan kehidupan manusia. Tiga hal itu adalah EMOSI, PIKIRAN DAN PERBUATAN. Jika kamu sedang sedih, maka pikiran akan menyuruh sikap dan perbuatan kamu yang menunjukkan kesedihan. Wajah menjadi murung, atau kurang senyum. Mudah tersinggung dan tidak ceria. Setiap saat kamu akan menghadapi emosimu sendiri yang bisa jadi muncul dari reaksi atas kata dan perbuatan orang lain.

Oleh karena itu, ingat bagaimana cara kamu mengendalikan emosi-pikiran-perbuatan dalam hidup, itulah dirimu. Kamu boleh pintar atau kurang pintar dalam akademis tetapi kalau kamu tidak cerdas dalam mengendalikan emosi, mengendalikan pikiran dan apalagi mengendalikan perbuatan, maka "apa kata dunia" terhadap dirimu? Rekoleksi adalah kesempatan untuk merenung dan berefleksi atas bagaimana kamu mengendalikan emosi-pikiran-perbuatan. Selamat berekoleksi.

Berbeda dengan Kepala Asrama, Bp. Eldad Tambun, Wakasek HubMas menegaskan kembali bahwa sekolah dan asrama tidak akan henti-hentinya menyampaikan dan mengingatkan tentang aspek sosial, aspek budaya, aspek personal, dan aspek spiritual dalam mengembangkan seluruh potensi siswa. Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan-kecerdasan dalam mengolah seluruh aspek dimensi kehidupan manusia. Maka, anda akan mengenal kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan intelektual, kecerdasan physik, kecerdasan spritual, Semua itu saling berkaitan satu sama lain integral dan holistik.

Sesudah sambutan-sambutan, Bapak Kepala Sekolah, Bp DR. Max Imbang membuka secara resmi rangkaian rekoleksi para siswa kelas X yang kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada Pastor Rhein Saneba Pr dan  para pendamping. Menurut para pendamping, kegiatan rekoleksi ini dilaksanakan dengan metode pendekatan "Cura Personalis (perhatian secara pribadi dan utuh) dan Cura Animarum (perhatian pada Jiwa)" dan pelaksanaannya diwujudkan dalam refleksi dan renungan.

Gelombang Pertama (17-18 April 2010) diikuti 69 siswa gabungan kelas XC, XD dan martikulasi
Gelombang Kedua (24-25 April 2010) diikuti oleh 60 siswa gabungan kelas XA dan XB.