07 December 2009

Selamat karena Alkitab, Ajarkan Siswa Takut Tuhan


Ronald Korompis Pengusaha Sukses Nyiur Melambai
Monday, 07 December 2009 11:22 , Laporan Filip Kapantouw | Manado Post



Tahun 1993, pengusaha sukses Ronald Korompis mengalami cobaan berat tatkala terserang penyakit liver Hepatitis B. Saudara-saudaranya meninggal akibat penyakit itu. Dalam tidurnya, pemilik Yayasan Pendidikan Lokon ini bermimpi membaca Alkitab hingga mendapat keajaiban. Bagaimana kisahnya? RONALD Korompis lahir di Manado 12 September 1943. Ia merupakan anak ke-6 dari pasangan Liem Sioe Bo dan Koh Toh Nio. Ronald yang menikah dengan Maria J Wewengkang pada 1966, dikarunia lima orang anak, yakni Daniel, Solidi, Didi, Dirga dan Daya. Hidupnya semakin lengkap tatkalah dianugerahi sembilan orang cucu. Sebagai pebisnis nasional ‘top level’, ia dikenal sebagai pribadi yang ulet, cerdas, brilian serta memiliki kisah hidup yang menarik.
Kisah kembalinya satelit Palapa-B2 yang gagal mengorbit alias “hilang” selama sembilan bulan di ruang angkasa dan kemudian diluncurkan kembali, tak lepas dari peran pemilik Yayasan Pendidikan Lokon ini. Pada 1990, satelit itu diluncurkan kembali sebagai Palapa-B2R untuk kepentingan telekomunikasi Indonesia.

Bersama satelit Westar 6, dalam sejarah penerbangan luar angkasa Palapa B-2 adalah satelit pertama yang hilang tetapi kemudian berhasil “ditangkap” dan diluncurkan kembali. Semuanya itu, tidak dapat dilepaskan dari usaha gigih dan kerja keras pendiri Jalan Salib Suci Mahawu (JSSM) ini. Namun, pada 1993, lelaki berkacamata ini, mengalami cobaan berat. Saat itu, divonis dokter mengidap penyakit liver Hepatitis B yang sangat akut. “Penyakit itu sangat ditakuti keluarga saya, sebab kakak kandung saya meninggal pada umur 49 tahun karena penyakit itu,” ujar Korompis yang terlahir sebagai keluarga enterpreneur ini.

Hal yang sama dialami kedua sepupunya yang meninggal dengan penyakit sama pada umur 39 dan 41 tahun. Karenanya, terang Korompis, saat itu ia keliling dunia untuk berobat ke Singapura, Tiongkok, Jepang, USA, Belanda, dan bahkan Belgia. Awal 1995, ia berkali-kali mimpi sedang membaca Alkitab. “Saya cerita ke istri saya tentang mimpi tersebut. Saya juga bilang bahwa Tuhan tidak mengenal saya,” kenangnya.


Korompis mengaku, saat itu ia tidak pernah belajar tentang Alkitab. Karena matanya memang sering bermasalah. Jika terlalu lama membaca Alkitab, air matanya langsung bercucuran. “Hurufnya terlalu kecil,” katanya.
Mungkin melihat gelagatnya suami yang mulai menekuni rutinitas baru, yakni membaca Alkitab, sang istri memberi dia hadiah berupa Alkitab yang berukuran lebih besar. “Anak-anak ikut heran melihat papanya membaca Alkitab,” akunya sembari menambahkan, sebuah mimbar setinggi badan akhirnya dibeli supaya Alkitab diposisikan lebih sempurna dan ia lebih nyaman membaca.
Sang istri pun menyarankan kalau membaca Alkitab harus didahului dengan doa dan mengundang pastor. Tapi, permintaan untuk mengundang pastor ia tolak karena khawatir ‘program’ membaca Alkitab terhenti di tengah jalan.

Jadilah Korompis membaca Alkitab dalam keadaan berdiri selama 4 setengah bulan, dari Kejadian sampai Wahyu. “Waktu baca sekali, apa yang saya dapat hanya sedikit,” ungkapnya sembari menambahkan membaca keseluruhan Alkitab hingga 2-3 kali.
Setelah membaca Alkitab secara keseluruhan, ia mengaku mendapatkan pencerahan. Ia kemudian mengambil kesimpulan, bahwa siapa yang bisa mengejawantahkan ayat-ayat suci dengan benar dan diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari, hidupnya akan berhasil dan bahagia dengan damai tertinggi.


Ayat-ayat dalam Alkitab-lah yang membuat sadar, bahwa untuk menciptakan generasi (khususnya anak-anak di Manado) yang berkualitas, semua harus dimulai dari pendidikan. “Sebab Tuhan Yesus menjelma jadi manusia dengan peran utama sebagai guru kehidupan. Dan sebelum naik ke surga, ia meminta murid-muridnya untuk menjadikan semua bangsa menjadi Murid-Nya. “Baik buruknya orang Manado adalah bagian dari pada saya juga,” tambah alumni SMA Negeri II Manado angkatan 1963 ini.

Korompis kemudian membawa misi pendidikan berkualitas hingga ke SMU Lokon Saint Nikolaus, yang saat ini sudah tujuh tahun beroperasi. Sekolah unggulan yang berada di Kota Tomohon ini diajarkan untuk takut akan Tuhan. “Tidak hanya sebatas tahu, mengerti dan menghayati, tapi harus melaksanakan dalam hidup,” terangnya.
Ia menjelaskan, salah satu kurikulum berbasis kehidupan mengajarkan untuk mengambil semua keputusan selaras dengan Firman Tuhan. “Harus dididik setiap anak supaya sadar bahwa anugerah terbesar untuk setiap orang adalah kehidupan,” pungkasnya. (***)



0 comments: