Pameran Pendidikan (LEE 2017) di SMA Lokon akan diselenggarakan Sabtu, 28 Oktober 2017 Pendaftaran 0431.3511929

30 September 2011

Satu Perunggu OSN 2011 untuk SMA Lokon





Lagi-lagi sebuah ironi. Sulawesi Utara sebagai tuan rumah Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke X, 11-16 September 2011, boleh dikata sukses dalam menyelenggarakan iven Nasional. Tetapi, dalam ajang OSN kali ini, Sulut hanya merebut medali perunggu, atas nama Maykel Sondak, siswa SMA Lokon dalam mata pelajaran Matematika. 

Kesuksesan sebagai tuan rumah OSN, sudah diduga sebelumnya. "Berikanlah kenyamanan kepada setiap peserta sehingga mereka bisa berlomba dengan baik. Sulawesi Utara sudah terkenal kerukunannya sehingga beragam kegiatan berskala nasional dan internasional selalu sukses," ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara Star Wowor

Ia menambahkan, untuk OSN tingkat SMA akan dilaksanakan di Kawanua Sahid Hotel, OSN tingkat SD di Hotel Grand Kawanua, dan Olimpiade Sains Guru akan berlangsung di aula Hotel Grand Puri. Selain itu, kata dia, OSN SMA juga akan dilaksanakan di beberapa sekolah menengah atas yang tersebar di Kota Manado dan Kota Tomohon. Di Kota Manado akan dipusatkan di SMAN I, SMAN 7, SMK Eben Haezer, sedangkan di Kota Tomohon berlangsung di SMU Lokon.

Perhelatan OSN sudah usai. Semua berjalan dengan lancar sesuai dengan komitmen tuan rumah. Namun alih-alih OSN 2011 menyisakan cerita pilu di kalangan para pemerhati pendidikan. Intinya, mengapa Sulut hanya memperoleh satu perunggu? Ini kan tidak sebanding dengan Jawa Tengah yang menjadi juara umum dengan perolehan 74 medali terdiri dari 21 Emas, 29 Perak dan 24 Perungu. 




Menanggapi ironi itu, secara spontan, teman saya angkat berbicara, “Seharusnya guru dan siswanya belajar ke Jawa. Minimal mencari tahu bagaimana kok bisa memperoleh medali sebanyak itu. Apa sih rahasianya? Kalau soal intelektual, di mana-mana sama saja. Pasti ada cara-cara yang tidak dibuat di Sulut.” Teman yang lain menimpalinya dengan nada pesimis, “Kalau soal fasilitas gedung dan sarana prasarana pendidikan, sudah cukup memadai.” Lalu ia menujuk Observatorium Astronomi mewah yang dibangun di SMA Lokon. Katanya, satu-satunya SMA di Asia yang memiliki kubah astronomi dengan teropong bintangnya. 

Apa yang dikatakan teman-teman itu ada benarnya juga. Sarana pendidikan dan fasilitasnya sudah memadai namun belum tentu berhasil mencetak siswa yang mampu menyabet medali di OSN. Kemudian, pembicaraan tentang minimnya Sulut memperoleh medali dalam OSN semakin hangat ketika berbicara soal kualitas guru dan sistem pendidikannya. Termasuk dibicarakan soal bagaimana memanage soal itu.

Di lain pihak, pemerintah pun sebenarnya sudah mensupport dan memotivasi kepada sekolah-sekolah dan siswa-siswinya, seperti yang dikatakan oleh Mendiknas. “Kepada para juara, tetaplah mempersiapkan diri karna Olimpiade Nasional ini bukan akhir dari segalanya. Para juara, apakah itu emas, perak atau perunggu nanti akan diseleksi kembali untuk masuk training center untuk dipersiapkan mengikuti Olimpiade tingkat internasional.” kata Mendiknas, Muhamad Nuh, sesaat sebelum pengalungan medali pada upacara penutupan OSN ke X.

Sebelum OSN digelar, pemerintah melalui Kemendiknas, menyampaikan tentang apa tujuan diadakan OSN, “sarana mengembangkan kreativitas siswa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus sebagai sarana menumbuh-kembangkan semangat berkompetisi dan tradisi berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan, dalam kompetisi ada tiga nilai tersembunyi, yaitu nilai untuk berusaha, kejujuran dan ketaatan terhadap norma, serta kreativitas dan prestasi.


13162166261880387585


Teropong Bintang, Praktek Lomba Astronomi OSN X


"Yang menang bukan sekadar bisa, tetapi di samping mampu menjawab pertanyaan di situ ada kreativitas dan inovasi," katanya saat pembukaan. Mendiknas mengatakan, OSN menjadi penting karena bagian dari usaha untuk menumbuhkan tradisi dan budaya keilmuan, serta membangun peradaban. "Sekarang ini yang masih harus didorong lebih kuat yaitu bagaimana mencari bibit-bibit yang tersebar di seluruh negeri. Harus mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan sampai dengan pengembangan. Dari situ tumbuh jago di bidang sain dan seni," katanya.

Barangkali pemerintah Sulut bisa belajar tentang bagaimana mempersiapkan siswa-siswinya menjelang OSN. Berikut ini cerita tersisia dari pembicaraan soal mengapa hanya perunggu yang diraih siswa-siswa Sulut dalan ajang OSN:
  1. 1. Bank Soal: agaknya sekolah belum memiliki sistem terpadu dalam masalah bank soal ini. De facto, guru-guru yang pro aktiflah yang bisa mengumpulkan berbagai macam soal-soal mapel yang dikuasainya. Ada kecenderungan masih mengumpulkan sendiri demi kepentingan pribadi guru bukan dimasukkan dalam bank soal di Sekolah .
  2. 2. Diklat Guru Mapel: agenda untuk diklat guru mapel masih kurang. Diklat seringkali diselenggarakan di Jawa atas undangan instansi di pusat. Itupun tergantung sekolah-sekolah yang diundang secara khusus. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang tidak dianggap khusus tapi memiliki siswa yang pandai?
  3. 3. Training Centre: diberitakan siswa-siswa OSN di Jawa sudah di tc sekurang-kurang sebulan sebelumnya. Penyelenggaraannya bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi . Kepedulian atau kerjasama dengan perguruan tinggi perlu dibangun untuk mempersiapkan berbagai lomba di tingkat nasional dan daerah.
  4. 4. Sesama Guru Mapel: maksudnya sesama guru saling kenal dan saling bekerjasama agar ilmu yang diajarkan kepada siswa adalah ilmu yang terus menerus di update. Sekaligus mengajak siswa-siswanya yang ikut klub sains agar terjadi interaksi ilmiah yang menguat.
  5. 5. Lomba ditingkat Daerah: selama ini penyelenggaran lomba di tingkat daerah dibuat oleh perguruan tinggi selaras dengan acara peringatan tertentu. Berharap dibuat agenda yang lebih sering untuk memicu dan memacu anak didik untuk mengembangkan ilmu yang dipelajari.

“Jer Basuki Mawa Bea” adalah pepatah Jawa Kuno yang berarti segala sesuatu kalau mau baik, membutuhkan dana. Semoga dana pendidikan, tidak menjadi kendala dalam perolehan medali di OSN. Kalau ya, maka minimnya propinsi di luar Jawa memperoleh medali di OSN, apakah karena kurangnya dana pendidikannya? Kalau sudah begini, saya hanya bertanya dalam hari, “Quo Vadis, Pendidikan Indonesia?”

2 komentar: