Pameran Pendidikan (LEE 2017) di SMA Lokon akan diselenggarakan Sabtu, 28 Oktober 2017 Pendaftaran 0431.3511929

19 Agustus 2013

Marching Band Losnito, Tampilkan "Brenti Jo Bagate"



LOSNITO - Sabtu kemarin (17/8), setelah Upacara Detik-detik Proklamasi di kantornya, Walikota beserta Kapolres, Sekdekot, para Assisten, bergegas menuju ke panggung kehormatan yang berada di depan pos Sat Lantas, sebelah Bank Mandiri. Kali ini panggung menghadap ke Timur, karena pawai start dari ex-Kantor Walikota Rindam dan finish di patung Tololui, Matani yang berjarak lebih dari 10 km. Tahun lalu, rutenya dari Selatan ke Utara.


Tak seperti saat Pawai Pembangunan yang lalu (15/8), cuaca hari itu cukup cerah dan cenderung panas. Di sepanjang jalan Raya Tomohon yang dilalui oleh para peserta pawai, tampak masyarakat berkerumun dan bersiap-siap menyaksikan pawai. Seperti tahun lalu, SD lebih dahulu jalan dan kemudian yang terakhir dari perguruan tinggi.
Berbagai macam rangkaian bunga hidup yang dikombinasi dengan tanaman hias mendominasi dekorasi panggung kehormatan. Walikota dan pejabat teras Tomohon menempati kusi-kursi di panggung ini. Setiap peserta pawai selain memberi salam kehormatan, juga menampilkan aktraksi yang memukau di hadapan para pejabat dan masyarakat yang sudah menyemut di sekitar panggung sejak pagi tadi. Tak jarang Walikota, Kapolres, Sekdekot mendapat “parcel” bunga dari para peserta. Lumayan nih, panggung kehormatan makin semarak dihiasi oleh bunga-bunga.

Masyarakat serasa mendapat hiburan gratis dari setiap peserta pawai. Tak jarang antar peserta pawai bersaing menampilkan atraksinya sebaik-baiknya bukan karena dinilai tetapi ikut berpartisipasi dalam menterjemahkan arti dan makna kemerdekaan yang kemudian diekspresikan lewat “display”, atraksi dari setiap peserta saat tiba di depan panggung kehormatan.


Karena itu saya semakin tertarik utuk memperhatikan tingkah laku ABG (anak-anak sekolah) yang menjadi peserta pawai meski didampingi juga oleh para gurunya di barisan belakang. Perlu diketahui, dalam setiap pawai 17-an, Tomohon diserbu oleh pengunjung dari luar daerah bahkan wisatawan asing untuk menonton pawai. Bukan tanpa sebab mereka datang untuk menonton “atraksi” dari kelompok Drum Band dan Marching Band.

Brenti Jo Bagate” inilah tema yang ditampilkan oleh Marching Band SMA Lokon di depan panggung kehormatan. Alkisah, Verren siswa yang cantik dan aktif dalam setiap kegiatan sekolah dan mudah bergaul dengan temannya, berpacaran dengan Rizky. Namun hubungan Verren dan Rizky putus karena Rizky selingkuh dengan gadis lain yang tak lain adalah sahabatnya Verren. Kegalauan hatinya itu membawa Verren jatuh dalam pesta miras dan pecandu narkoba. Verren akhirnya jatuh sakit dan terjebak di atas kursi roda. Melihat temannya aktif, Verren berteriak “aku bisa meraih mimpiku”. Sejak sadar dan memberi nasehat pada orang lain, “Brenti Jo Bagate (Berhentilah dari narkoba dan miras).

Cerita itu dikemas dalam sebuah ataraksi Marching Band Losnito dengan dibumbui dengan membuat menara manusia dan kemudian setelah memberi hormat, lalau menjatuhkan diri dan diterima oleh teman-teman. Atraksi bak sirkus ini membuat masyarakat yang menonton berekasi “wouww”. Kuatir kalau terpelest lalu membentur aspal.

Ilustrasi musik yang dibawakan oleh para pemain MB dilatih oleh Arwan Pangeran menghidupkan cerita Verren itu, antara lain mengambil penggalan lagu “Kamu Ketahuan” dari Mata Band. Ada sekitar lima lebih penggalan musik dibawakan oleh para pemain marching band dalam durasi 10 menit.

Selain SMA Lokon, atraksi meriah seperti itu ditampilkan oleh Marching Band SMA-SMP dari Smanto, Smakers, Seminari, Familia, Gonzaga, St. Clara, Kasgoro dan lainnya. Mereka ini bersaing untuk tampil terbaik mulai dari lagu-lagu yang dibawakan marching band saat defile dan display. Tak hanya itu, seragam mereka pun setiap tahun baru. Tarian dari kelompok cheers (gadis pom-pom) yang bergoyang-goyang, menurut saya, semakin kreatif dan inovatif setiap tahunnya. Sungguh menghibur penonton.

Meski demikian masih saja menyisakan kekurangannya. Panitia tidak on time dalam mengibarkan bendera start. Molor hampir satu jam lebih. Akibatnya, upacara penurunan bendera ikut molor karena Walikota masih menunggu peserta terakhir pawai yang sampai di depan panggung kehormatan.

Kegiatan pawai itu juga meninggalkan sampah yang berserakan di sepanjang jalan raya Tomohon. Sampah ini dibuang sembarangan oleh para penonton dan juga para peserta yang makan minum sambil jalan. Namun demikian, setelah selesai pawai, saya melihat para petugas kebersihan dengan sapunya langsung bereaksi cepat membersihkan sampah-samapah agar kota penerima Adipura (2013) untuk pertama kali ini tetap bersih. Sementara itu, para penoton pulang dengan hati senang karena mendapat tontonan gratis yang memukau.

Semoga kekurangan ini tak menjadi tradisi seperti halnya pawai sudah mentradisi di kota Tomohon, kota bunga yang telah beberapa kali menyelenggarakan Tournament of Flower (TOF) berskala International.

0 komentar: