Pameran Pendidikan (LEE 2017) di SMA Lokon akan diselenggarakan Sabtu, 28 Oktober 2017 Pendaftaran 0431.3511929

16 Februari 2015

Menjadi Guru Untuk Muridku Sebuah Refleksi Mengapa Saya Ingin Menjadi Guru.

Bp. Tomy Moga, Wakasek Kesiswaan
Tomohon, LOSNITO Campus - Berikut tulisan pemenang Lomba "Untukmu Guruku" yang dikompetisikan dalam ajang bergengsi Honda DBL Sulut 2015. Pemenangnya adalah Bp. Tommy Moga, Wakasek Kesiswaan SMA Lokon. Selamat membaca!


Sekali guru tetap guru. Itulah yang  mengilhami beberapa  tahun mengajar di kelas, mendidik siswa, sekaligus mengerjakan tugas negara, selaku guru yang bukan pegawai negeri sipil. Suka dan duka, menjadi guru telah mematangkan saya. Memahami dengan mendidik, jelas berbeda dengan memahami dengan mengamati. Mendidik ada interaksi dengan jiwa guru-siswa sehingga capaian tugas dan pemahaman materi ajar dapat tercapai.


Mari kita kembali ke belakang, sejenak. Ketika Hirosima Jepang hancur berantakan setelah kena bom atom, yang pertama ditanya oleh Raja Jepang, "Berapa orang guru kita yang tersisa (masih hidup)?.  Pertanyaan ini akan sangat aneh, ketika bukan berapa banyak orang pintar bergelar, atau Jenderal Perang, atau profesional lainnya yang ditanyakan.


Rehabilitasi Jepang dengan warganya yang ulet bekerja, bersemangat tinggi, serta memiliki kapasitas pemikiran dan kecerdasan yang luar biasa, sangat singkat. Tak lama meski dinyatakan kalah perang dan angkat tangan dengan sekutu, berkat para Sensei (guru) di berbagai bidang ilmu, mampu menegakkan kepala kembali. Cobalah kita berhitung, berapa banyak Jepang telah menguasai kehidupan semua orang di dunia. Banyak. Mungkin tidak salahnya kalau saya mengatakan bahwa bangsa Jepang bisa sedemikian hebat seperti saat ini karena andil yang sangat besar oleh para guru.


Ini bukti, bahwa profesi guru sangat penting dan berada di posisi puncak kejayaan. Negara lain, masih banyak yang lainnya, umumnya negara yang berkategori maju dan memiliki manusia berilmu, terampil, terdidik, sangat menghargai peran penting guru di negara mereka. Guru, adalah manusia terhormat, didahulukan melangkah dan jadi teladan.


Namun dewasa ini tak banyak orang yang ingin menjadi guru. Terkadang ada yang memilih bekerja sebagai guru karena tak diterima atau tak mendapat pekerjaan di bidang lain.  Padahal, menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk mengabdi. Menjadi guru itu mulai dari hati.  Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia.  Coba bayangkan tentang generasi muda kita 15 tahun kedepan (next generation).  Dengan tantangan zaman yang semakin cepat berubah atau di kenal dengan zaman digital, tentunya kita semua perlu mempersiapkan generasi sekarang yang adalah murid-murid kita, bukan hanya dari sisi kognitif-psikomotorik  saja tapi juga dari sisi etis-moralis.  Jika kita tidak mempersiapkan anak-anak (murid) kita mulai dari sekarang dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta yang paling penting adalah mempersiapkan mereka dari segi mental (moral) dan keimanan, maka tidak mungkin 15 tahun akan datang bangsa kita akan hancur. 


Beberapa alasan saya mengapa ingin menjadi guru, disamping guru adalah pekerjaan yang mulia:

(1) Berbagi Ilmu : Berbagi ilmu itu sangat-sangat istimewa. Ketika kita berbagi sesuatu hal yang bersifat materi, maka materi tersebut bisa saja habis dibagikan. Tetapi jika kita berbagi ilmu, ilmu tersebut tidak akan pernah habis, malah akan semakin banyak.

(2) Salah Satu Sarana untuk Membantu Sesama: Menjadi pendidik juga merupakan salah satu sarana untuk membantu sesama, bagaimana dengan ilmu yang kita miliki dapat dibagi kepada orang lain dan membuat kehidupan mereka menuju arah yang lebih baik.

(3) Salah Satu Sarana untuk Membangun Bangsa: Kunci kemajuan suatu bangsa terletak pada pendidikan.

(4) Salah Satu Sarana Belajar Mendidik Dan Menggali Potensi Anak: Karena potensi ini merupakan sebuah hal yang menarik, karena setiap tahun akan selalu muncul tantangan baru yang diikuti dengan potensi baru untuk sukses. Mendidik lagi bibit-bibit baru dan tentu dengan inovasi dan improvisasi baru dalam cara bimbingan agar dapat menciptakan generasi yang bermutu.

5.            
Pak Tommy Paling Kanan


Mencapai Kesuksesan Murid.
Kesuksesan murid akan membawa pada kelangsungan karier seorang guru. Setiap murid yang tidak mengerti tentang satu hal lalu belajar untuk mengetahuinya lewat bantuan guru , akan memberikan perasaan gembira seorang guru. Dan ketika seorang murid yang telah diprediksikan tidak naik kelas bisa berhasil di tangan guru, maka ini bisa membuat stres yang biasanya datang dalam pekerjaan menjadi hilang.  Bayangkan perasaan yang dirasakan ketika ada seorang murid yang berhasil karena kerja keras guru.


Mendidik anak-anak bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. Mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini, kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup mereka nantinya. Dan ini berarti menanamkan keingintahuan dan rasa cinta belajar seumur hidup, kreativitas, keberanian mengemukakan pendapat dan berekspresi, serta penghargaan akan segala bentuk perbedaan (antar manusia).


Siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru tersebut juga peduli terhadap dirinya. Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya.


(Dengan kata lain, bila guru mengajar agar murid bisa sama pintarnya dengan dia, itu biasa saja. Guru yang hebat adalah yang bisa mendidik muridnya agar jauh lebih pintar dan lebih kritis daripada dirinya sendiri.)

0 komentar: