28 August 2010

MOS Siswa Martikulasi T.P. 2010/2011: PROGRAM PENGENALAN LINGKUNGAN SISWA-SISWI LPMAK SMA LOKON

Berdoa sebelum berangkat
Tomohon - Jumat, 27 Agustus 2010. Cuaca hari Jumat ini tampak cerah. Wajah-wajah 19 para siswa Martikulasi juga tampak cerah. Mengenakan Kaos Olah Raga berwarna kombinasi Putih dan Biru berlogo SMA Lokon, dengan celana jeans dan bersepatu olah raga, 13 siswa putra dan 6 siswa putri tampak berbaris rapih di depan Lobby untuk mendapat pengarahan dari Koordinator Mitra Pendidikan LPMAK - SMA Lokon, Bapak Eldad Tambun, Spd.

Mereka dibagi dalam tiga kelompok. Tiga kendaraan Mikrolet warna biru siap mengantar mereka. Dengan dibuka dengan doa. Rombongan mulai bergerak. Bp. Marselino Datu, Bp. Stephanus Poluan dan Bapak Tri ikut bergabung mendampingi mereka dan masuk dalam masing-masing kendaraannya. Pukul 08.00 lebih sedikit rombongan tiga kendaraan mikrolet plus mobil sekolah bergerak meninggalkan kampus SMA Lokon menuju ke jalan lingkar Timur di Tomohon Utara. Setiap jalan dan tempat dilewati dicatat oleh siswa. Catatan ini penting untuk bahan evaluasi bersama dan sekaligus untuk penyerapan lokasi dan tempat yang dikunjungi.


Pasar Beriman Tomohon
Ikan Mujahir Ikan yang disukai siswa
Berdialog dengan penjual daging
Setelah parkir di terminal, kami foto bersama di terminal dengan latar belakang Gunung Lokon. Kemudian, kami masuk pasar dari sebelah Timur. Masyarakat berjualan buah-buah dan sayur mayur. Berbagai jenis pisang dijual oleh mereka. Sayuran khas pegunungan seperti Wortel, Sayur Paku, Kol, Labu Siam dll banyak dijual di pasar. Selain itu, bumbu-bumbu dapur seperti rica, bawang merah dan putih, dll tidak ketinggalan dijajakan di pasar. Setelah melewati para penjual itu, kami berjalan di los pasar berikutnya yang menjual berbagai macam pakain "cabo" dan perlengkapan rumah tangga seperti sapu, pel, loyang dll. Salah satu siswa putri nampak serius berbicara dengan pedagang pakain. Mungkin dia membutuhkan pakaian.

Di los pasar berikutnya, kami masuk di tempat orang berjualan daging-daging. Istilah masyarakat daging itu disebut ikang. Kami melihat dan bertanya pada para penjual ikang paniki (kelelawar), babi hutan, sapi, rw, mouse, dan daging sapi satu persatu. "Ini apa pak?" "Ini ikan rw yang sudah dipotong-potong. Kalau ini kelelawar atau orang bilang paniki". Siswa yang bertanya sedikit geli melihat barang itu yang darahnya tercecer di sekitarnya. "Kau so boleh makang barang ini kang?" Tanya pembimbing pada para siswa. Mereka tidak menjawab. Hanya senyum kecil mereka tunjukkan. 

Setelah melewati penjual buah, sayuran dan daging, rombongan menyebrang ke penjual ayam dan ikan-ikan tawar seperti mujahir, nike dan ikan laut seperti mobara, mengail, tongkol dll. Kami sempat melihat ikan mobara bintang yang cukup besar dijual di tempat itu. Kami sempat foto di ikan yang berukuran besar ini.

)
Dari pasar tradisional Tomohon, kami melewati jalan lingkar Timur lalu tembus ke jalan Fakultas Ilmu Pendidikan Unima di Wailan. Setelah kami lewati kami melanjutkan perjalanan melalui Perum Atas dan Bawah di Uludano, dan kemudian melewati desa Pangolombian, dan kemudian tembus di PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap) Lahendong. Dari sini. kami menembus hutan kecil lalu sampai di Danau Linow.

Danau Linow
di pinggir Danau Linow
Sesampainya di Danau Linow, kami minum dan snack "biapong uti". Sebelum keliling Danau kami menyempatkan diri untuk foto bersama lagi. Indahnya danau berwarna hijau bergradasi biru dan pantulan sinar matahari membuat para siswa terkagum-kagum. Sempat terdengar, "buat kenang-kenangan di sini." Ada juga yang berbicara dengan teman lainnya, "Boleh jo orang tua kita , besok dibawa ke sini. Pemandangannya indah. Pasti suka mereka." Hampir semua lokasi di pinggir danau dan gasebo tidak luput menjadi tempat untuk berfoto ria. 

Tara-tara
Pukul 11.30 kami meninggalkan danau Linow untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kompleks Walikota, Kapolres di Woloan, dan tembus di Sarongsong kemudian menuju ke kota Tomohon dan ke Tara-tara untuk makan siang. Kami pinjam tempat di Aula Gereja Katolik Tara-tara untuk santap siang. Tidak lama kemudian Bapak Kepsek Bp. Max Imbang, bergabung dengan kami.

Amphiteater Woloan
Di Ampiteater Woloan kadang dipakai untuk upacara adat
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Amphiteater Woloan. Di sini kami mendapat informasi tempat ini sering dipakai untuk acara adat Tombulu seperti penghormatan pada para leluhur. Di tempat ini juga ada musium yang menyimpan piring-piring keramik kuno dan peralatan makan jam dahulu. Di tengah ampiteater kami melihat bekas sesajian buat Opu yang tampak masih baru. Dari tempat ini kami bisa melihat dengan jelas Gunung Lokon dari sisi Barat. Kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di sini.

Makan Tinutuan
Tinutuan adalah makan khas Manado. Lebih populernya adalah bubur manado. Para siswa diajak untuk mencicipi kuliner khas Minahasa di Rumah Makan Parakletos. Citra kuliner juga perlu dikenalkan agar tahu makanan-makanan khas Minahasa.

Setelah itu, kami kembali pulang ke asrama. Pukul 15.00 kami sudah sampai di sporthall dan rintik-rintik hujan mulai membasahi tubuh kami karena itu kami berteduh di teras sport hall.

Program MOS
Program untuk siswa Martiulasi ini sudah dimulai sejak Senin, 23 Agustus 2010 yang lalu hingga Jumat, 27 Agustus 2010. Selama 5 hari itu siswa diajak beradaptasi dan mengadakan orientasi terhadap lingkungan Sekolah dan Asrama. Beberapa materi yang diberikan antara lain, Profil dan Visi-Misi Sekolah, Pengenalan Asrama, Perkenalan dengan OSIS,  Pengenalan kesiswaan, Sarpras, Mars Sekolah, Dialog dengan Martikulasi Senior,  "Participant Presentation and Expectation", dan Pengenalan Wilayah Tomohon.

Program ini berjalan dengan lancar. Bahkan mereka mengadakan kegiatan olah raga bersama dengan kakak kelas melalui sepak bola dan volley bersama setiap sore.





0 comments: