SEKOLAH LOKON ST. NIKOLAUS SD-SMP-SMA : lpmak

Losnito Com

Advertorial

Dibuka Siswa Baru SMP-SMA Lokon 2023-2024

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP-SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon TA. 2023-2024 TELAH DIBUKA

Raih Medali Perunggu Kebumian OSN 2024

Raih Perunggu Kebumian OSN 2024. Emily mendapat pujian dari Sekolah dan teman-temannya.

Siswa Lokon sabet Juara di STIBA

Juara 1 Pidato Bhs Inggris, Juara 2 Puisi Bhs Inggris dan Juara 2 Siswa Teladan Iven STIBA 2024

6 Siswa Raih Medali Perak di Ajang GYIIF 2025

Tim SMA Lokon meraih Medali Perak di ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 kategori Social Science (Secondary)

Siswa Lokon Raih Banyak Prestasi

Banyak selamat atas prestasi yang diraih siswa/i SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, atau biasa disebut Losnito selama 2 minggu ini

Tampilkan postingan dengan label lpmak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lpmak. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2019

Megahnya Sekolah Asrama Taruna Papua





Tomohon, LOSNITO NEWS - LPMAK menunjuk YPL untuk menjadi "operator" penyelenggaraan Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di Timika, Papua mulai Juli 2019 hingga lima tahun ke depan. (Berita selengkapnya klik di sini).

Seperti apakah Sekolah Asrama Taruna Papua itu, silahkan lihat lebih dekat videonya yang dibuat oleh Losnito News beberapa hari yang lalu.

SATP dihadirkan oleh PT Freeport untuk memberi kesempatan kepada pendidikan berkelanjutan bagi generasi muda suku-suku yang ada di Papua. Dengan memperhatikan pendidikkannya, ke depannya tercipta generasi muda Papua yang unggul dan berpendidikan.


Semoga dengan kehadiran YPL, yang sudah berpengalaman menyelenggarakan SMP/SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, SATP hadir sebagai sekolah pilihan yang berkualitas dan diminiati oleh orang tua untuk menyekolahkan anaknya.


10 Oktober 2017

Vice President Freeport Tengok Siswa LPMAK di Lokon


LOSNITO NEWS - Pagi itu (22/9) siswa-siswi penerima beasiswa LPMAK dengan berseragam pramuka, berbaris di sepanjang koridor lobi utama SMA Lokon. Salah satu pejabat tinggi Freeport Indonesia, dikabarkan akan menengok anak-anak LPMAK yang studi di SMP/SMA Lokon.

Tak beberapa lama, sebuah mobil Kijang Inova berhenti di muka lobi. Seorang pria berkacamata, berbadan besar mengenakan baju biru, keluar dari mobil. Dengan senyum khasnya, Klaus Wamafma menyambut tangan Bpk. Ferdinand, Pimpinan YPL yang sejak tadi menunggu kedatangan beliau.
Bp. Klaus Wamafma menyalami para siswa.
Siswa Papua, penerima beasiswa Freeport, menyambut Vice President dengan bertepuk tangan sebagai ungkapan salam penyambutan. Kemudian satu persatu siswa disalami oleh Bpk. Klaus dengan penuh kehangatan. Tak hanya itu, beliau bertanya tentang bagaimana studinya di Lokon.

Foto bersama siswa LPMAK di Plaza SMA Lokon

Secara spontan, siswa yang ditanya menjawab baik-baik saja. “Belajar yang baik jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan. Ini untuk masa depan kalian sendiri” kata Pak Klaus memberi motivasi mereka. 

"Pak Klaus datang ke Lokon dalam rangka mengapresiasi kerjasama Lokon dengan Freeport dalam bidang pendidikan. Termasuk menyemangati para siswa Papua yang mendapat beasiswa belajar melalui LPMAK" imbuh Stephanus Poluan, Kepsek SMA Lokon.

Di antara siswa papua

Foto bersama menjadi momen yang penting mengingat Pak Klaus adalah salah satu pejabat penting Freeport.

Foto Pimpinan YPL dengan Pejabat PT FI di Manado


25 September 2013

Monitoring dan Evaluasi Badan Pengurus LPMAK di Manado



LOSNITO - Siang itu, langit di sekitar Gunung Lokon cerah dan terasa menghangat di badan. Sesudah makan siang, tiga bus biru meluncur ke Kalasey, Manado. Dua bus membawa para siswa SMA Lokon dan satu bus membawa khusus untuk siswa SMP.

Masih menggunakan seragam OSIS, para siswa menuju ke Manado untuk mengikuti pertemuan dengan Badan Pengurus LPMAK yang datang untuk mengadakan monitoring dan evaluasi terhadap para penerima beasiswa LPMAK.

Pak Titus Kemong, melaporkan bahwa sampai sekarang ini di kota studi Manado tercatat, “Ada 13 mahasiswa Unima (calon-calon guru), 22 mahasiswa UNSRAT, 20 mahasiswa Unklab, 40 mahasiswa Unika De Lasalle, 72 siswa SMA Lokon, 26 siswa SMP Lokon, 34 siswa SMA Advent Tompaso dan peserta umum 12 mashasiswa”. Kalau dijumlah semuanya menjadi 329 siswa. Dan sebentar lagi (Oktober awal) ada tambahan 14 siswa yang belajar ke SMP Lokon.


Dari jumlah itu, pengiriman siswa SMP baru pertama kali terjadi pada tahun ini. Ke depan program siswa SMP ini akan terus berlanjut hingga suatu saat tidak perlu lagi mengirim siswa tingkat SMA lagi dengan alasan sudah ada siswa yang lulus dari SMP.

Badan Pengurus LPMAK yaang hadir dalam pertemuan itu adalah Bp. Yohanes, Bp. Ferry Robot, Bp. Emanuel Kemong, Bp. Titus Kemong, Bp. Abraham Timang Dan Bp. Lesubun, Sekretaris Bapeda Serta MC Fabian Magal.

Bapak Lesuhun (52 th), menyelesaikan SMP di Kokonao, lalu sekolah SPG di Jayapura, dengan bea siswa Keuskupan melanjutkan diploma musik di Yogyakarta. Setelah lulus diploma, lalu tugas di Wamena untuk mendampingi masyarakat dan menjadi guru. Sambil mengajar, beliau menjadi mahasiswa Universitas Terbuka hingga 1996 di wisuda di Jakarta. Setelah wisiuda lalu menjadi kepala sub pendidikan dasar di P dan K. Setelah 30 tahun di Wamena kemudian minta pindah ke Mimika ke kampung halaman. Sambil bekerja, beliau mengikuti pendidikan S2 di Universitas Cendrawasih, Jayapura untuk meraih gelar Magister Managemen Pendidikan. Dan lulus. 


(1)    If you don’t change, you die. Apabila anda tidak berubah, anda sudah mati. Berubah bagian dari kehidupan, tak ada kemajuan tanpa perubahan.

(2)    Orang yang berhenti belajar, dia pemilik masa lalu. Orang yang terus belajar adalah pemilik masa depan. Tak ada pintu lain selain belajar. Waktu tidak berubah nasib, yang merubah nasib adalah diri kita sendiri. 



Ingat, para siswa mempunyai tanggung jawab berat untuk membangun daerah sendiri dengan cara menjadi siswa-siswa yang produktif. Dari laporan dari berbagai kota studi, tak sedikit para siswa yang mengalami prioritasnya studi telah membias. Berimbasnya prioritas diri ke mana-mana karena pengaruh pergaulan dan lingkungan bisa berakibat gagal dalam menyelesaikan pendidikan.

"Lingkungan dan teman itu seperti cermin. Lihatlah wajahmu dalam cermin itu. Sebaik-baiknya wajahmu, seganteng apapun atau secantik apapun, kalau kau bercermin pada cermin yang rusak maka jadinya bengkok-bengkok. Kau bisa rusak karena lingkungan dan pergaulan. Jika anda gagal krena rusak diri dalam belajar maka betapa mahalnya untuk memperbaiki. Berapa juta rupiah yang terbuang percuma karena ada siswa yang gagal dalam menyelesaikan pendidikan" ungkap motivator.

Trilyun-an rupiah sudah dikeluarkan untuk pendidikan setiap tahun bagi generasi muda Papua. Dan habis dalam waktu lima jam per hari dari jam 7 hingga jam 12. Lalu, 19 jam sisa menjadi ancaman bagi orang Papua. Kami kalah bukan karena akademi tetapi kami kalah karena sistem. Generasi muda harus kita amankan selama 24 jam per hari dengan ada yang bertanggungjawab dan mendampingi. Dan itulah yang dilakukan oleh LPMAK.


Nasehat lain yang perlu diingat oleh dalam belajar, para penerima bea siswa harus jalan terus sampai waktu habis dengan jelas. Kalau lima tahun ya diselesaikan dengan lima tahun jangan diperpanjang. Kalau bisa akselarasi, ya akselerasi untuk mempercepat waktu studi.
Ingat, kita sudah capek ketinggalan dengan yang lain maka selesaikan masa bekajar anda tepat pada waktunya karena persaingan kerja bukan hanya dari Papua tetapi seluruh Indonesia.

Setelah tanya jawab, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan setelah selesai lalu pulang.

04 Juni 2013

LPMAK Kirim Siswa Studi Ke Jerman



LOSNITO - Gagasan ikut mencerdaskan insan generasi muda Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Timur, sudah menjadi komitmen Yayasan Pendidikan Lokon.

Sebagai bukti, mulai dua tahun terakhir ini, YPL tak hanya memiliki SMA Lokon tetapi juga SMP Lokon. Tahun 2013, YPL juga sudah menggagas sebuah sekolah lagi yang namanya Lokon Hotel School yang diperuntukkan bagi tamatan siswa SMK/SMA yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Komitmen pendidikan YPL diperkuat dengan kerjasama dengan berbagai pihak seperti LPMAK, Yayasan Harapan Pola, dan IDEA. Kerjasama ini mewujudkan 21 siswa asal Timika dan Jayapura untuk disiapkan studi ke Jerman.

Ini beritanya yang diambil dari Radar Timika, Sabtu, 01 Juni 2013 , 07:04:00 | LPMAK Akan Kirim 10 Siswa Kuliah di Jerman

TIMIKA - Tamatnya 10 orang siswa di SMA Lokon yang merupakan peserta beasiswa Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) bukan menjadi akhir pendidikan yang ditempuh. LPMAK yang merupakan lembaga kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) terus berupaya meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia khususnya pelajar asli Papua dengan memberikan fasilitas pendidikan, yakni melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah ke Benua Eropa, yaitu ke Jerman. Jumat (31/5) bertempat di Kantor LPMAK, di Jalan Yos Sudarso, Timika, dilakukan acara pelepasan terhadap ke-10 siswa yang akan melanjutkan studi ke Jerman. Hadir pada kesempatan itu, Sekretaris Eksekutif
LPMAK, Emanuel Kemong, Direktur Operasional Pendidikan Yayasan Pendidikan Lokon, DR Maximianus Menase Imbang, 10 siswa bersama orang tua.

Program pengiriman siswa ke luar negeri pertama kalinya ini merupakan program LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Lokon. Emanuel Kemong mengatakan pengiriman ke-10 siswa ini tidak pernah direncanakan, namun dilakukan secara tiba-tiba. LPMAK berinisiatif mengikutsertakan 10 lulusan SMA Lokon itu setelah mendengar adanya program kerjasama antara Yayasan Pendidikan Lokon dengan Aachen University di Jerman.

"Tidak ada perencanaan, ini ide gila-gila. Sehingga terjadilah proses pengiriman, test dan lainnya disepakati. Ini yang terjadi muncullah rencana kirim ke Jerman," papar Kemong.
Saat mengikuti test pun, kata Emanuel, dari 10 hanya 6 yang dinyatakan lolos, sementara 4 lainnya belum. Namun pihak LPMAK terus berupaya melakukan berkomunikasi dengan Yayasan Pendidikan Lokon agar 4 siswa tersebut juga bisa diikutkan. "Sehingga kita akan mengirim 10 orang untuk ke luar negeri" terangnya. Dengan pengiriman 10 siswa tersebut maka menurutnya peluang kedepan akan bisa terbuka lagi. Upaya ini terus dilakukan LPMAK untuk meningkatkan kualitas SDM Papua. Investasi SDM menurutnya jauh lebih penting, karena 10 tahun yang akan datang akan menghasilkan orang-orang terbaik yang akan membangun daerahnya sendiri. "Kalau bicara uang, hari ini ya hari ini, tapi kalau bicara pendidikan ini seumur hidup, dan itu yang dikejar oleh kami (LPMAK), supaya semuanya menjadi tuan untuk membangun di negerinya sendiri", tuturnya.

Semua siswa tersebut, lanjut Kemong, akan terus didukung oleh LPMAK melalui Yayasan Pendidikan Lokon. Bahkan sebelum berangkat ke Jerman, semua peserta akan mengikuti pembinaan selama kurang lebih tiga bulan di Jakarta untuk penyesuaian, yang mana semua didukung penuh LPMAK. Lanjutnya, LPMAK telah menjalin kontrak dengan siswa tersebut, sehingga usai melaksanakan pendidikan di Jerman, akan kembali ke Mimika untuk bekerja apakah di Pemerintahan, PTFI atau lainnya. Kita ini mengharapkan, menyiapkan SDM, artinya setelah selesai mereka membangun Papua itu secara umum dan membangun Kabupaten Mimika," ujarnya.

Pada kesempatan itu Kemong juga mengucapkan terima kasih kepada PTFI yang terus memberikan dukungan. Kalau bukan PTFI, menurutnya tidak akan ada program seperti ini. Kita bersyukur kepada Tuhan supaya PT Freeport ini dengan keadaan baik, beroperasi dengan baik, memberikan susu kepada kita supaya kita menjadi gemuk, bukan badan tapi otak. PT Freeport ini memberikan sesuatu yang bermanfaat. Komitmen ini terus dijalankan, makanya kita juga menjaga supaya ini berjalan dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Operasional Pendidikan Yayasan Pendidikan Lokon, DR Maximuanus Menase Imbang mengungkapkan tahun ini peserta beasiswa LPMAK ada 10 orang yang menamatkan studinya di SMA Lokon. Lima diantaranya merupakan program matrikulasi pada tahun 2009, dan 5 lainnya matrikulasi 2010. Anak-anak yang mampu diberi kesempatan untuk bisa langsung pindah ke kelas XI. Rencana melanjutkan pendidikan di Aachen University, Jerman, kata Max adalah kerjasama antara LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon/IDEA. Sebelum berangkat, kata Max, semuanya akan ke Jakarta untuk mengikuti pembinaan selama tiga bulan yang dimulai Juni ini.

Saat ini, kata dia, ada masih ada 52 siswa yang merupakan peserta beasiswa LPMAK yang sedang menempuh pendidikan di SMA Lokon. LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon juga berencana untuk program pendidikan tingkat SMP di SMP Lokon, karena selama ini hanya tingkat SMA. Mewakili orang tua, Leonardus Tsolme mengucapkan terima kasih kepada pihak LPMAK dan Yayasan Pendidikan Lokon yang sudah mendidik anak-anak sehingga bisa memperoleh nilai yang baik. Ia berharap dukungan itu terus berkelanjutan dari LPMAK dan PTFI. "Ini adalah langkah awal, mudah-mudahan kedepan akan lebih baik dan kembali membangun negeri. Tidak hanya membawa nama Papua, tetapi anak-anak akan membawa nama baik Indonesia" katanya.(sun)

Nama Siswa yang Akan ke Jerman 1. Yolanda Pinimet 2. Yohana Kemong 3. Yusianta Urumami 4. Magdalena Magal 5. Emelius Aim 6. Pius Kemong 7. Marlien Aypapanae 8. Michaela Turot 9. Welly Tsolme 10. Herlince Maga

Sumber berita: Radar Timika e-mail: radartimika_iklan@yahoo.com
twitter: @radartimika_KM
Fb : Komunitas Muda Radar Timika

01 Oktober 2012

2 Siswa Lokon Menuju Ke RAIMUNA X Di Jayapura

Kontingen Tomohon Siap Berangkat ke Raimuna Tingkat Nasional ke X di Papua

 TOMOHON by Losnito - Pramuka menjadi salah satu ekskul yang cukup diminati oleh siswa karena Pramuka melatih anggotanya dalam bidang kepemimpinan, soft-skill dan team building. Selain itu, keorganisasian Pramuka yang hirarkis hingga Nasional membuat setiap anggota bisa terhubung dengan anggota lain di luar kota/kabupaten se Indonesia.

Apinus Janampa dan Sandra Menajang siswa Lokon kelas X, terpilih mewakili sekolah untuk bergabung dengan Kontingen Pramuka kota Tomohon yang berjumlah 24 orang untuk mengikuti RAIMUNA Tingkat Nasional ke X pada tanggal 8-15 Oktober 2012 nanti di Jayapura, Papua.

Terpilihnya ke dua siswa Lokon melalui seleksi ketat yang dilakukan oleh para Pembina Kwarcab Pramuka  Kota Tomohon.

Bp. Noldy, Sandra (siswa Lokon dari Kaimana), Apinus (Siswa Lokon dari Timika) dan pembina lainnya

Apinus siswa Lokon ini berasal dari Timika yang mendapat bea siswa dari Freeport melalui LPMAK. Sedangkan Sandra adalah siswa Lokon yang mendapat bea siswa dari Pemda Kaimana. Menurut penuturan ke dua siwa ini, terpilihnya mereka setidaknya membuat hatinya senang karena mendapat kesempatan untuk "back to Papua".

Yang menarik, ke dua siswa Lokon dari Papua itu mahir dalam membuat kerajinan tangan khas Papua.

Sumber informasi ini berasal dari media lokal yang memberitakan tentang pelepasan Kontingen Pramuka Tomohon ke Raimuna Nasional di Papua oleh Walikota, Jum'at 28/9/2012.

Selamat ber-Raimuna, teman.

05 April 2012

Menggapai Prestasi Di Clasroom E-Learning, Siswa Papua Itu Tampak Serius






Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Enos dan Eneas, dua siswa asal Timika Papua, yang mendapat bea siswa pendidikan dari Freeport melalui LPMAK untuk belajar di Sekolah Boarding School Lokon, Tomohon. Sekarang dua siswa itu sudah duduk di kelas XII yang dua minggu lagi akan menghadapi Ujian Nasional bersama dengan 111 teman lainnya.

“Rencana mau kuliah ke mana setelah lulus nanti?” tanya saya pada Enos yang masih suka mengunyah buah pinang. “Ke Philipina, pak” jawabnya. Mendengar jawaban ini hati saya sedikit meradang senang. “Sudah daftar?” sambung saya. “Lho pak, LPMAK ada “chanel” dengan salah satu Universitas di Philipina sebagai mitra pendidikannya”.  Mendengar jawaban itu, dalam hati semoga asa Enos tercapai.

“Oh ya saya ada foto kalian berdua sedang mengerjakan soal-soal UAS dengan menggunakan laptop biru bersama teman-teman lain. Kok wajahmu tegang? Tegang apa serius? “ tanya saya lagi sedikit bercanda. “Ah, Bapak. Pokoknya beres. Saya jadi ingin beli laptop sendiri. Dua juta boleh dapat pak?” jawab Enos dan didukung Eneas  yang asyik mengunyah buah pinang .

Kemajuan teknologi informasi bagi anak-anak remaja memang sudah menjadi kebutuhan guna mempermudah metode belajarnya. Dalam obrolan itu saya juga bertanya apa suka dengan facebook dan twitter. Mereka menjawab suka sekali karena bisa berkomunikasi dengan teman-teman lainnya. Apalagi koneksi Wifi di sekolah dan asrama lancar meski dibatasi hingga jam 9 malam.


Di lain pihak, “Sekarang warnet di rumah saya, sebulan hanya mendapat pemasukan kurang dari 500 ribu. Dua tahun lalu saya bisa meraup keuntungan bersih lebih dari satu hingga dua juta. Ini akibat dari kemajuan teknologi. Di mana-mana orang bisa internetan pakai hape. Modem untuk koneksi internet selain murah juga mudah didapatkan. Ya sudah”, cerita salah satu teman komunitas fotografer yang punya usaha warnet di rumahnya.

Kemudahan demi kemudahan untuk “online” terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan kecanggihan perangkat pendukungnya. Tak heran kalau teman saya, Kepala Bagian Sarpras Sekolah, pernah bilang pada saya, “Tahun 2013 nanti, sekolah ini sudah menjadi “Cyber School” untuk mengembangkan kurikulum berbasis internet. Semoga saja 6 koneksi speedy yang tersambung ke sekolah tidak mengalami gangguan. Katanya, dengan kabel serat optik, kinerja koneksi internet bisa bertambah lancar” katanya penuh berharap sekaligus mengeluh jika koneksinya lemot.

Terkait dengan harapan-harapan itu, Agnito Moningka, guru ICT SMA Lokon dan senior trainer dari Intel Education, memberi keterangan pada foto yang diunggah di FB,  “Suasana Ujian Akhir Sekolah kelas XII. Bagi mereka yang membawa Laptop sendiri diadakan di kelas lain sedangkan yang tidak membawa Laptop sendiri melaksanakan UAS dengan mempergunakan CMPC dan dikombinasikan dengan LMS (moodle)”


Caption foto itu membuat saya penasaran apa yang dimaksudkan dengan CMPC dan LMS (moodle). Tak lama kemudian, Agnito menjelaskan bahwa CMPC singkatan dari Class Mate Personal Computer.  Tersedia 30 buah CMPC  berwarna biru dengan ukuran layar 9”, sumbangan dari Intel  Education Indonesia. Sedangkan LMS (Learning Management System) buatan Moodle adalah bagian lain dari Sistem pembelajaran berbasis web dengan mempergunakan software Moodle.

Tulisan ini dimuat di Kompasiana, silahkan klik di sini.
Berdasarkan keterangan itu, lalu saya mencoba mencari pejelasan lebih lanjut tentang LMC di Wikipedia. “Learning Management System (biasa disingkat LMS) adalah aplikasi perangkat lunak untuk dokumentasi, administrasi, pelacakan, pelaporan program pelatihan, kelas dan kegiatan ‘’online’’, program pembelajaran elektronik (e-learning program)”. Ditambhakan juga bahwa dimensi untuk belajar sistem manajemen meliputi ‘’Students self-service’’ (misalnya, registrasi mandiri yang dipimpin instruktur pelatihan), pelatihan alur kerja, penyediaan pembelajaran ‘’online’’ (misalnya, pelatihan berbasis komputer, membaca & memahami), penilaian ‘’online’’, manajemen pendidikan profesional berkelanjutan (CPE), pembelajaran kolaboratif (misalnya, berbagi aplikasi, diskusi), dan pelatihan manajemen sumber daya (misalnya, instruktur, fasilitas, peralatan).

Sedikit untuk melengkapi  bagaimana  alur e-learning itu beroperasi, silahkan lihat gambar di bawah ini.


Pecanangan e-learning atau di dunia pendidikan disebut Kurikulum Berbasis IT, sudah merambah ke sekolah-sekolah di Indonesia. Laporan Wikipedia menyebutkan,” Sekitar 34.628 sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia telah memiliki akses internet, tinggal mereka mau menerapkannya atau tidak.”

“Sekarang sudah dimulai dengan keterbatasannya. Yang paling sulit adalah mempersiapkan guru agar siap dan memahami pedagogi  dan metodologi mempergunakan IT dalam pembelajaran. Akan ada banyak perubahan aturan di sekolah dan asrama. Yang pasti tahun ajaran depan sudah full. Semua siswa baru SMP dan SMA akan mendapatkan CMPC. Satu siswa satu komputer.” tegas Agnito dalam pembicaraan online melalui komentar fotonya yang diunggah di facebook.

Tidak berhenti di situ saja. Saya pun lalu searching di Kompasiana dengan menggunakan kata kunci “e-learning”. Hasilnya memang luar biasa. Rupanya pembicaraan tentang  e-learning menuai pro dan kontra yang serius. Koneksi internet menjadi biang keladi dari kegagalan pengetrapan e-learning di sekolah-sekolah. Sehingga bisa dibayangkan wajah siswa papua tadi akan galau jika jawaban atas soal ujian UASnya yang dikerjakan dengan perangkat CMPC tak terkoneksi. Asa mereka untuk menguasai teknologi demi masa depannya  membangun tanah Papua bisa sirna jika koneksi internet mengalami gangguan.

Pendidikan itu memang mahal. Namun semahal-mahalnya pendidikan, kemajuan teknologi juga harus disikapi dengan bijaksana oleh semua pihak. Tenaga pendidik dan kependidikan perlu memompa diri agar bisa memanfaatkan kemajauan IT untuk mencerdaskan anak cucu bangsa ini melalui kurikulum berbasis IT atau e-learning. Sikap gaptek kiranya mulai dihilangkan demi memajukan kualitas pendidikan  di Indonesia.

Enos dan Eneas serta teman-temannya kini tidak lagi menjawab soal UAS dengan pensil atau alat tulis lain dan kertas. Hanya dengan mengetik jawaban di atas tombol-tombol  CMPC, jawaban Enos dkk sudah sampai di laptop guru. Tak hanya itu, penilaian benar dan salah pun langsung terdeteksi  sehingga tak berapa lama, nilainya sudah diketahui oleh siswa. Sayangnya belum semua guru bisa menyesuaikan sistem LMS  (e-learning) ini. Ini artinya bahwa Silabus dan RPP setiap guru, selayaknya berbenah diri menyesuaikan Kurikulum berbasis IT, agar tak ada siswa yang berani menyebut, “guruku gaptek”. .

Sumber tulisan dari WIkipedia, Intel Education, dan Agnito Moningka, guru IT SMA Lokon. senior trainer Intel Education.  Kontribusi foto dari Agnito Moningka dan koleksi pribadi.

Project Based Learning (PBL): Masalah Riil Diubah Jadi Produk Oleh Siswa


Sporthall, Suasana Penerimaan Rapor, 3 April 2012


Hari Selasa kemarin (3/4/2012), adalah hari penerimaan rapor mid-semester bagi siswa-siswi  sebuah SMA di kaki Gunung Lokon. Tidak seperti biasanya. Penerimaan rapor yang wajib diambil oleh orang tua atau wali, tidak lagi di kelas-kelas.  Semua kegiatan dipusatkan di Sporthall yang sehari-hari dipakai untuk olah raga Basket atau Badminton indoor.

Cuaca cerah. Sporthall hari itu dipenuhi lebih dari 500 orang, termasuk orang tua/wali siswa yang datang mengambil rapor sekaligus menjemput anak dari asrama untuk liburan Paskah selama 1 minggu. Bisa dibayangkan betapa gaduhnya suasana penerimaan rapor saat itu.

Siapapun yang memasuki sporthall pada hari itu, seperti saya, dibuat tercengang melihat gedung olah raga itu disulap menjadi ajang pameran dan performance art dari para siswa. Setiap kelas baik SMP maupun SMA mempunyai  booth atau ruang pamer yang sekaligus tempat pembagian rapor. Tak ketinggalan booth dari OSIS SMP dan SMA. Jadi dalam gedung itu,  berdiri 16 booth dan setiap booth memamerkan karya seni dan kreatifitas para siswa. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Menempati ruang tengah, telah disiapkan meja moderator dan kursi-kursi yang nantinya dipakai untuk mendengarkan ceramah dari  salah satu  anggota DPD RI asal Propinsi Sulut,  Bapak Ferry FX Tinggogoy yang diundang untuk memberikan “motivation training” bagi siswa, guna memicu semangat siswa untuk tekun dan disiplin dalam belajar demi masa depan . Inilah slah satu aplikasi dari kurikulum berbasis kehidupan yang menjadi ciri khas sekolah berasrama ini.

Bp. Tommy Moga, Menyerahkan Rapor Kepada Siswa Timika, Papua, LPMAK

“Penerimaan rapor kali ini merupakan hasil dari PBL dan Performance art” tulis Agnito, salah satu guru ICT dan senior training Intel Corp. yang menyebarkan foto-foto kegiatan di jejaring sosial. Membaca caption-nya, saya bertanya apa itu PBL? Lalu dijawab oleh Agnuto,  PBL singkatang dari Project Based Learning. Bukan Problem Based Learning (Belajar Berdasar Masalah). 

“Bedanya, kalau problem based terserah masalahnya bisa apa saja sedangkan Project Based masalah lebih ditekankan pada masalah riil yang dihadapi sehari-hari oleh peserta didik dan menghasilkan produk yang nantinya akan dipertunjukkan pada siapa saja tergantung stake-holder dalam proses KBM kita. Sama-sama Problem Solving, tapi ada riset terlebih dahulu” demikian kata Agnito yang mendampingi proses PBL siswa.

“Setelah ceramah Bapak Ferry FX Tinggogoy selesai, Kepala Sekolah bersama guru wali kelas mengumumkan siapa yang menjadi juara di kelasnya. Penghargaan diberikan kepada siswa yang meraih rangking juara 1, 2 dan 3 dalam bentuk piagam penghargaan. Di lain pihak, orang tua yang hadir mendapatkan informasi bahwa untuk meraih prestasi belajar siswa harus berkompetisi dengan siswa lain”, demikian sambutan salah seorang guru untuk mengantar acara penerimaan rapor.
Foto Bersama dengan Bp. Ferry  FX Tinggogoy, Anggota DPD RI, dari Sulut

Lalu apa hubungan antara PBL (Belajar Berdasar Proyek) dan semua kegiatan yang diselenggarakan di sporthall itu? Pertanyaan itu membuat saya gundah karena saya belum menemukan jawaban dari manfaatnya metode PBL itu. Apakah orang tua atau wali yang hadir saat itu menangkap pesan di balik keramaian sport hall? Entahlah.

Yang jelas, hasil karya seni kreatifitas siswa yang dipajang di masing-masing booth, ternyata dijual. Yang membeli, ya orang tua dan wali yang datang. Tak ada pembeli lain. Satu dua terlihat ada guru yang tertarik untuk membelinya. “Kami sedang cari duit untuk mendanai iven Lokon Cup yang akan melibatkan seluruh tim Basket se-Sulut bulan Juni yang akan datang. Berdasarkan pengalaman, subsidi tidak mencukupi. Karena itu, sejak awal kami bertekad mencari dana dengan berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan kami. Kami sudah terbiasa menjual pisang goreng atau martabak kepada siswa. Kali ini kami ingin produk kreatifitas kami mampu menghasilkan uang. Keuntungan penjualan itu, untuk menambah pundi-pundi OSIS guna mensukseskan kegiatan akbar nanti.” kata salah satu pengurus OSIS.

Tiga Catatan Penting, Virtus, Veritas dan Fides

Kegiatan di sport hall itu baru gelaran pertama dari sebuah langkah awal yang memberi suasana gembira kepada orang tua setelah melihat produk-produk kreatif siswa yang dipamerkan. Mengelola masalah riil yang dihadapi siswa menjadi produk yang bernilai secara ekonomis, menjadi acuan dalam kegiatan itu. Semoga dengan metode PBL ini siswa, bukan menjadi konsumen yang konsumtif tetapi mampu menghasilkan dan menciptakan produk yang diminati pasar. 

Tulisan ini menjadi HL di Kompasiana, silahkan click di sini

04 Agustus 2011

Naik-naik ke Puncak Mahawu (2)

l
Cerita tentang "pengungsian ini" bisa dibaca di sini ini
http://edukasi.kompasiana.com/2011/08/06/sepenggal-kisah-pengungsi-gunung-lokon//


28 Agustus 2010

MOS Siswa Martikulasi T.P. 2010/2011: PROGRAM PENGENALAN LINGKUNGAN SISWA-SISWI LPMAK SMA LOKON

Berdoa sebelum berangkat
Tomohon - Jumat, 27 Agustus 2010. Cuaca hari Jumat ini tampak cerah. Wajah-wajah 19 para siswa Martikulasi juga tampak cerah. Mengenakan Kaos Olah Raga berwarna kombinasi Putih dan Biru berlogo SMA Lokon, dengan celana jeans dan bersepatu olah raga, 13 siswa putra dan 6 siswa putri tampak berbaris rapih di depan Lobby untuk mendapat pengarahan dari Koordinator Mitra Pendidikan LPMAK - SMA Lokon, Bapak Eldad Tambun, Spd.

Mereka dibagi dalam tiga kelompok. Tiga kendaraan Mikrolet warna biru siap mengantar mereka. Dengan dibuka dengan doa. Rombongan mulai bergerak. Bp. Marselino Datu, Bp. Stephanus Poluan dan Bapak Tri ikut bergabung mendampingi mereka dan masuk dalam masing-masing kendaraannya. Pukul 08.00 lebih sedikit rombongan tiga kendaraan mikrolet plus mobil sekolah bergerak meninggalkan kampus SMA Lokon menuju ke jalan lingkar Timur di Tomohon Utara. Setiap jalan dan tempat dilewati dicatat oleh siswa. Catatan ini penting untuk bahan evaluasi bersama dan sekaligus untuk penyerapan lokasi dan tempat yang dikunjungi.


Pasar Beriman Tomohon
Ikan Mujahir Ikan yang disukai siswa
Berdialog dengan penjual daging
Setelah parkir di terminal, kami foto bersama di terminal dengan latar belakang Gunung Lokon. Kemudian, kami masuk pasar dari sebelah Timur. Masyarakat berjualan buah-buah dan sayur mayur. Berbagai jenis pisang dijual oleh mereka. Sayuran khas pegunungan seperti Wortel, Sayur Paku, Kol, Labu Siam dll banyak dijual di pasar. Selain itu, bumbu-bumbu dapur seperti rica, bawang merah dan putih, dll tidak ketinggalan dijajakan di pasar. Setelah melewati para penjual itu, kami berjalan di los pasar berikutnya yang menjual berbagai macam pakain "cabo" dan perlengkapan rumah tangga seperti sapu, pel, loyang dll. Salah satu siswa putri nampak serius berbicara dengan pedagang pakain. Mungkin dia membutuhkan pakaian.

Di los pasar berikutnya, kami masuk di tempat orang berjualan daging-daging. Istilah masyarakat daging itu disebut ikang. Kami melihat dan bertanya pada para penjual ikang paniki (kelelawar), babi hutan, sapi, rw, mouse, dan daging sapi satu persatu. "Ini apa pak?" "Ini ikan rw yang sudah dipotong-potong. Kalau ini kelelawar atau orang bilang paniki". Siswa yang bertanya sedikit geli melihat barang itu yang darahnya tercecer di sekitarnya. "Kau so boleh makang barang ini kang?" Tanya pembimbing pada para siswa. Mereka tidak menjawab. Hanya senyum kecil mereka tunjukkan. 

Setelah melewati penjual buah, sayuran dan daging, rombongan menyebrang ke penjual ayam dan ikan-ikan tawar seperti mujahir, nike dan ikan laut seperti mobara, mengail, tongkol dll. Kami sempat melihat ikan mobara bintang yang cukup besar dijual di tempat itu. Kami sempat foto di ikan yang berukuran besar ini.