LOSNITO - “Amuba!” teriak salah satu Panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah) kepada para siswa baru yang sedang berbaris. Serentak para amuba merespon dengan menghentakkan kakinya tiga kali dan kemudian dengan tangannya, memberi hormat kepada Senior sambil menjawab “Siappp Kakkk!”
Dibuka Siswa Baru SMP-SMA Lokon 2023-2024
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP-SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon TA. 2023-2024 TELAH DIBUKA
Raih Medali Perunggu Kebumian OSN 2024
Raih Perunggu Kebumian OSN 2024. Emily mendapat pujian dari Sekolah dan teman-temannya.
Siswa Lokon sabet Juara di STIBA
Juara 1 Pidato Bhs Inggris, Juara 2 Puisi Bhs Inggris dan Juara 2 Siswa Teladan Iven STIBA 2024
6 Siswa Raih Medali Perak di Ajang GYIIF 2025
Tim SMA Lokon meraih Medali Perak di ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 kategori Social Science (Secondary)
Siswa Lokon Raih Banyak Prestasi
Banyak selamat atas prestasi yang diraih siswa/i SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, atau biasa disebut Losnito selama 2 minggu ini
Tampilkan postingan dengan label outbound. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label outbound. Tampilkan semua postingan
23 Juli 2013
MOS Itu, Awal dari Pembentukan Karakter Lho!
LOSNITO - “Amuba!” teriak salah satu Panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah) kepada para siswa baru yang sedang berbaris. Serentak para amuba merespon dengan menghentakkan kakinya tiga kali dan kemudian dengan tangannya, memberi hormat kepada Senior sambil menjawab “Siappp Kakkk!”
Suara panggilan ke amuba, berikut jawabannya itu terus
berlangsung selama sepekan sejak Senin hingga Jumat (19/7). Suasana kampus
sekolah SMP/SMA selama sepekan menjadi riuh seru karena penyelenggaraan MOS
itu.
Ada korban? Ada bullying? Ada tindakan anarkis? Ada arogansi
para senior? Pertanyaan-pertanyaan ini memang dirasakan sangat miris bagi dunia
pendidikan. Tak urung, penyelenggaraan MOS menuai pro dan kontra ketika ada
peserta yang meninggal dunia saat melaksanakan kegiatan itu.
Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana MOS dikelola
dengan semangat kekeluargaan dan berkelanjutan di lingkungan sekolah berasrama.
Panitia MOS
Panitia untuk MOS Amuba (siswa baru kelas X) diserahkan ke
kakak kelasnya yaitu siswa kelas XII. Atau dua angkatan di atasanya. Seperti
kemarin yang menjadi Amuba adalah angkatan XII, sedangkan panitianya dari
angkatan X (Excellent).
Dengan cara demikian, tercipta hubungan “kakak-adik” seperti
dalam keluarga. Tak jarang dengan model ini terjalin ikatan emosional dan
psikologis yang berguna ketika amuba ditempatkan di ruang tidur bersama kakak
kelasnya. Oh ya setiap kamar di asrama di isi enam siswa dan setiap kamar ada
tutornya (kakak kelas).
Kegiatan MOS
Karena sekolah berasrama (boarding school) maka kegiatan MOS
diselenggarakan agak berbeda dengan sekolah yang tak berasrama. Saat MOS, posisi
amuba sudah menghuni di asrama dan praktis dibiasakan mengikuti jadwal harian
di asrama dan sekolah. Kondisi seperti ini memudahkan untuk menyusun kegiatan
MOS yang tak jauh berbeda dengan MOS tahun lalu.
“Saya menekankan bahwa kegiatan MOS itu adalah awal dari
proses pembentukan karakter sebagai Siswa Lokon” kata Ignas Gumansalangi, ketua
Panitia MOS SMA 2013-2014 yang sekaligus Ketua OSIS.
Karakter yang dimaksud itu, tak lebih dari upaya pihak
sekolah melalui panitia MOS untuk membiasakan para siswa baru dengan lingkungan
baru yang nantinya akan dia huni hingga tiga tahun ke depan. Karena lingkungan
“baru” nya itu lingkupnya luas dan melibatkan hampir 600 orang, maka dibutuhkan
pembiasaan-pembiasaan untuk siswa baru agar tidak kaget dengan lingkungan yang
dihadapi.
Budaya Menyapa
Tak usah heran, jika anda berpapasan dengan siswa Lokon,
anda akan disambut dengan sapaan seperti ini, “Selama Pagi, Pak. Selamat Pagi,
Bu. Selamat Pagi Kak”.
Budaya menyapa ini menjadi awal dari sebuah komunikasi. Karena
itu dibutuhkan keberanian untuk berbicara lebih dahulu. Keberanian inilah yang
kemudian dikembangkan menjadi berani berbicara di hadapan umum dan menanamkan
dalam diri anak sikap pro aktif dan suka bertanya (bukan sekedar bertanya).
Para tamu sekolah tak jarang merasa senang diperhatikan
dengan sapaan ini oleh semua penghuni di kampus. Begitulah kami membangun
sebuah budaya.
Kebiasaan Antri
Antri tak lagi dilihat sebagai kondisi giliran saja tetapi
sudah menjadi budaya dimana-mana. Dalam kehidupan bersama seperti di asrama dan
sekolah, siswa tak jarang harus antri karena situasi menuntutnya untuk antri.
Misalnya, saat mengambil makan yang ditata denan model prasmanan, keluar dari
ruang pertemuan melalui satu pintu, ujian lisan, dll.
“One line. Jalan berbaris menuju ke ruang makan” teriak
salah satu Panitia MOS memberi aba-aba untuk ke dining room, karena waktu untuk snak telah tiba. Baris satu-satu
(one line) menjadi salah satu cara untuk menanamkan budaya antri yang baik.
Motivasi Training
Dr. Chatief Kunjaya,
Presiden IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysic) memberikan
semacam motivation training di hadapan para amuba SMA/SMP di sporthall.
Kehadiran Dr. Chatief Kunjaya, yang juga pemangku Obervatoirum Bosscha dan
dosen ITB, ke sekolah Lokon dalam rangka
mempersiapkan Olimpiade Astronomi Asia Pasifik (APAO), 23-30 November 2013 yang
akan diselenggarakan di kampus Lokon.
Para alumni (Angkatan 9) yang sedang kuliah di berbagai
tempat baik di luar negeri dan Indonesia juga hadir untuk sharing pengalaman
suka dukanya mengikuti kuliah.
Outbound
Selain pengenalan berbagai fasilitas sekolah dan asrama serta
operasionalnya, siswa juga diajak untuk kegiatan outbound atau aktivitas di
luar kampus. Kegiatan outbound merupakan puncak dari fun-games yang diadakan
sebelumnya.
Panitia MOS menganggap outbound ini merupakan kegiatan klimaks
dari seluruh rangkaian acara MOS selama sepekan. Karena itu, setting acara
memang dipersiapkan dengan baik tanpa meninggalkan tujuan utamanya adalah
kepemimpinan, kerja sama, kekompakkan, persaudaraan, kekeluargaan, sportifitas
dan rekreasi.
Siswa diajak berjalan kaki menuju ke sebuah taman luas yang
bisa menampun ratusan orang. Kebetulan kami memiliki taman Kelong yang berjarak
sekitar 30 menit dari sekolah. Mereka berjalan berbaris per kelompok.
Sesampainya di Kelong, panitia mengecek fisik setiappeserta.
Bahkan diumumkan bagi peserta yang fisiknya kurang sehat, diharap untuk tidak
ikut kegiatan dan beristirahat di tenda dalam perawatan tim medis.
Kenyataannya, dari 150 siswa peserta MOS hanya ada lima yang tidak ikut
berjalan kaki dan ada dua yang tidak ikut outbound dengan alasan sakit. Masalah
kesehatan para peserta menjadi perhatian panitia MOS dan berada dalam
monitoring tim medis sekolah.
Acara pertama adalah masing-masing kelompok menampilkan
Yel-yel. Supaya tidak mononton, biasanya panitia memanggil satu peserta untuk “menghibur”
para pendamping. Ini bukan bullying tetapi cara ini adalah salah satu usaha
panitia mencari siswa-siswa yang berbakat dalam memimpin. Ada target setelah
MOS, akan terpilih satu orang pemimpin untuk angkatannya dan ini sudah diseleksi
sejak MOS dimulai.
Yang masuk dalam nominasi biasanya “digoda” dan diplonco
untuk menunjukkan keberaniannya, tanggungjawab dan sportifitasnya. “Seorang
pemimpin harus berwibawa di hadapan teman-temanya” lanjut Ignas.
Selain yel-yel, masing-masing kelompok menjalani permainan merayap
di tanah becek, mencium bumi pertiwi, memindahkan air lumpur dari depan ke belakang.
Pakaian menjadi kotor sudah merupakan bagian dari outbound.
Puncaknyanya adalah pembalasan kepada panitia atau seluruh
siswa kelas XII yang berkumpul dalam satu tempat dan kemudian diserbu oleh
peserta untuk dikotori dengan lumpur. Bagian ini diberi waktu hanya 8 menit
saja. Tak boleh lebih. Ini bagian MOS yang paling seru dan setelah itu tak ada
lagi balas dendam. Hubungan kakak adik dalam keluarga besar mengunci kegiatan
MOS dalam semangat persaudaraan.
Penutupan MOS ini melihatkan para guru, pamong dan staf
Yayasan. Bahkan, seluruh siswa kelas XI wajib datang karena tahun depan
merekalah yang akan menjadi panitia. Diharapkan, dengan melihat penutuan MOS, mereka
bisa merancang kegiatan MOS tahun depan lebih kreatif dan bermanfaat. Suasana
penutupan MOS makin menarik dengan kehadiran alumni angkatan 9 (yang dulu
memberi MOS buat panitia) juga hadir menyaksikan.
Kegiatan MOS ini menjadi awal untuk kegiatan lanjutan lainnya
seperti LKTD, Bakti Sosial, Live-in, dan Retreat. Begitu seterusnya, sehingga
MOS menjadi bagian dari program pembentukan karakter.
30 April 2012
Foto BW Pendidikan Nasional (Liputan Character Building)
Entah mengapa. Setiap kali teman-teman Kamprets berbicara
tantangan foto BW (Hitam Putih), pikiran saya selalu tertuju pada pendidikan di
Indonesia. Apakah karena menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal
2 Mei nanti (dua hari lagi)? Atau karena perasaan saya saja yang ingin
mengatakan bahwa bukan hanya foto yang BW tetapi dunia pendidikan kita pun juga
ada BW-nya?
Yang jelas aroma Hardiknas sudah terasa di sekitar saya.
Jumat dan Sabtu kemarin saya diminta untuk mengisi session “Character Building” bagi 112 siswa kelas X, Angkatan 10th,
SMA Lokon berasrama. Dalam dua hari itu, saya disuruh untuk membentuk karakter
para remaja itu dengan sebaik-baiknya. “Pokoknya terima beres”, kata salah satu
guru BK sekolah itu.
Bukan tanpa alasan kalau sekolah menunjuk saya untuk
“mengisi” kegiatan Character Building. Mulai dari angkatan 5 hingga angkatan 9,
saya bersama tim selalu mendampingi dalam setiap kegiatan outbound dari pagi
hingga sore. Seakarang mereka minta untuk dua hari. Siang, sore dan malam harus
ada kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter.
Ketika sedang menjamu guru BK dan Wakasek Bidang Kesiswaan
itu, tedengar dari kejauhan suara marching band yang sedang latihan. “Nah,
suara marching band itu menjadi tanda bahwa Hardiknas makin dekat. Biasa,
setiap Hardiknas ada pawai pendidikan. Siap-siap marching band, drum band,
musik bambu, kolintang dan tarian tradisional dari setiap sekolah, ikut pawai”
kata pak Tommy, Wakasek Bidang
Kesiswaan, saat ketemu dengan saya untuk acara Character Building.
Apakah kegiatan Character Building ini juga dalam rangka untuk
memperingati Hardiknas? Yang jelas memang dari segi waktu berdekatan dengan
Hardiknas, 2 Mei. Setelah mereka pulang,
lalu saya mulai berpikir tentang materi pembentukan karakter bagi 112 siswa
sekolah berasrama itu.
Kemudian saya ingat ada seorang dosen filsafat yang
mengatakan bahwa “Hidup yang berhasil itu
berbeda dengan hidup yang bermakna. Lazimnya keberhasilan seorang diukur dari
apa yang dicapai dan diperoleh. Sedangkan seseorang hidupnya bermakna terletak
pada kemampuannya untuk memberi. Jadi, seorang guru yang sejati adalah seorang
pribadi yang ingin memberikan dirinya agar hidup orang lain (siswa) menjadi
bermakna”.
Tak jauh dari arti itu, pepatah dalam bahasa Latin
menyebutnya, “Non scholae sed vitae
discimus” (saya belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup). Karena
itu, pemaknaan tentang pendidikan tak hanya untuk meraih prestasi setinggi
mungkin di bidang akademis, (termasuk lulus UN 100%) tetapi aspek budi pekerti,
etika moral, spiritual dan fisik termasuk dalam ranah intelgensia yang penting
untuk pembentukan kepribadian siswa.
“Pendidikan memang harus diprioritaskan oleh negara. Saat ini yang dibutuhkan adalah revitalisasi persekolahan dan pendidikan secara umun untuk kembali pada tujuannya. Karena itu, ada tiga syarat agar negara ini bisa maju. Yang pertama, pendidikan. Yang kedua, pendidikan dan yang ketiga pendidikan.” kata Om Ronald, owner sekolah berasrama. “Mengapa pendidikan? Karena esensi dari pendidikan itu adalah pembentukan anak cucu bangsa yang utuh dan berkualitas serta takut akan Tuhan. Kalau pendidikannya saja tidak berkualitas, mana bisa membentuk manusia secara utuh dan berkualitas sebagai penerus bangsa ini?” lanjutnya dengan nada sedkit menggerutu terhadap sikon pendidikan di Indonesia dewasa ini.
Referensi itu, lalu saya jadikan bahan dasar untuk membuat
materi pembentukan karakter selama dua hari itu. Hari pertama peserta yang terbagi
dalam 10 kelompok, saya ajak untuk mengikuti Mahawu Jungle Trekking di hutan kaki Gunung Mahawu. Dalam trekking
itu, setiap kelompok harus melalui 10 pos dan di setiap pos setiap kelompok mengerjakan
tugas seperti asah otak, jembatan manusia, kapal pecah, estafet balon, menara
air dll.
Dalam kegiatan itu, metode learning
by doing atau sering disebut juga Experiential
Learning kami pakai karena dengan cara itu, peserta bisa belajar banyak hal
seperti leadership, kekompakan, team work, kecepatan memecahkan masalah,
kepedulian, kebersamaan, motivasi, kreativitas, bela rasa dll. Sejauh
pengamatan saya, saat mereka mendapatkan tugas di pos, setiap kelompok bisa
menunjukkan sebagai team work dan leadership yang bagus.
Sebelum makan malam, diadakan
pengayaan dan refleksi atas kegiatan trekking, di ruang meeting. Tema “Global
Warming” dipilih terkait dengan kegiatan pengalaman perjalanan mereka di hutan.
Kemudian benang berah trekking dan global warming diolah dan diekspresikan pada
sebuah lukisan di atas karton Manila yang sesudah makan malam dipresentasikan. Monitoring
pembentukan karakter dilakukan dengan cara menayangkan lewat proyektor
foto-foto kegiatan mereka tadi.
Hari kedua , kegiatan berfokusn pada pembentukan karakter berbasis angkatan, bukan kelompok-kelompok lagi. Di Amphiteater terbuka, semua kegiatan seperti oposite, Pedang Samurai, Maju Mundur, Bangun bersama, Komunikasi, Folding Carpet, Labirin, dll dilaksanakan hingga sore hari.
Malam harinya kami adakan api
unggun untuk menilai Yel-yel terbaik dan pementasan setiap kelompok. Hadiah
bagi yang terbaik sudah kami siapkan dan kami beritahu sejak awal untuk
memotivasi mereka bahwa fun games itu sebuah permainan namun tidak
main-main. Sebelum api unggun, dikumpulkan
di ruang meeting untuk merefleksikan melalui foto-foto kegiatan pagi hingga
sore hari. Sesudah itu, saya mengajak mereka untuk bergandengan sambil
menyanyikan lagu-lagu kebersamaan.
Proses pembentukan karakter itu
tidak semudah membalik tangan. Menjadi sebuah tantangan besar ketika saya
mengetahui bahwa asal-usul siswa berasal dari Timika, Kaimana, Jayapura,
Manado, Maluku, Makasar, Palu, Kotamobagu, Bitung, Sangir Talaud, Jawa,
Kalimantan. Dalam pluralitas itulah pembentukan karakter harus dijalankan agar
mereka paham bahwa untuk menjadi seorang pemimpin mereka harus bisa memimpin
dirinya sendiri kendati keanekaragaman budaya, ekonomi, bahasa, watak itu berbeda-beda.
Saya pun terpaksa dengan nada
marah menggertak siswa-siswa yang berbicara sendiri ketika temannya sedang
mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Masuk melalui telinga kiri keluar dari
telinga kanan, dan tidak peduli serta kurang berpatisipasi terhadap setiap
kegiatan, sudah saya pikirkan sejak awal seiring dengan perkembangan keremajaan
mereka yang masih labil dan emosional.
Cerita pendidikan ini rasanya tak sesuai bagi mereka yang karena miskin lalu tidak bisa bersekolah. Miris memang jika mendengar bahwa sekolah itu mahal, sementara jumlah orang miskin makin bertambah seiring dengan minimnya lapangan pekerjaan. Kendati ada istilah arisan pendidikan, namun toh bukan solusi instan. Lebih ironis, apabila diketahui, subsidi pendidikan yang seharusnya untuk memajukan pendidikan dan memberikan pendidikan gratis bagi yang tidak mampu, ujung-ujungnya dikorupsi. Hati siapa yang tak galau ketika tersiar kabar dana BOS dipakai untuk plesiran ke luar negeri oleh segelintir wakil rakyat? (trilokon)
03 Agustus 2011
01 Desember 2010
LKTD Angkatan IX SMA Lokon
| "Positive - Active - Smart" |
| Yel-yel kami!!! |
Jalannya LKTD
Hari pertama, 4 Nopember 2010
Hari kedua, 5 Nopember 2010
| "Ayo bikin huruf pakai badanmu!" |
Pada hari ketiga ini, peserta LKTD diajak untuk mendalami materi kepemimpinan di arena outbound. Setiap kelompok memulai kegiatan di pos pertama di pintu masuk Jalan Salib Mahawu. Masing- masing kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan materi dan sekaligus menampilkan yel-yel yang sudah disiapkan. Kemudian, melanjutkan ke pos berikutnya. Setiap pos diberikan tugas. Yang menarik dari pos itu adalah menggunakan jalur "trekking" melewati perbukitan sehingga masing-masing kelompok harus kerjasama mengatasi rintangan alam secara bersama. Adventure betul, jalur yang dilewati.
Bagian kedua dari kegiatan outbound adalah Fun Games yang tidak kalah menantangnya. Kelompok harus kompak, tahu siapa yang memimpin, harus tahu siapa yang dipercaya untuk mengendalikan. Permainan outbond bukan sekedar fun saja melainkan ada makna yang diperoleh.
| Instruktur , Pemenang Fun Games dan Yel-yel terbaik |








.jpeg)



