SEKOLAH LOKON ST. NIKOLAUS SD-SMP-SMA : Hardiknas

Losnito Com

Advertorial

Dibuka Siswa Baru SMP-SMA Lokon 2023-2024

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP-SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon TA. 2023-2024 TELAH DIBUKA

Raih Medali Perunggu Kebumian OSN 2024

Raih Perunggu Kebumian OSN 2024. Emily mendapat pujian dari Sekolah dan teman-temannya.

Siswa Lokon sabet Juara di STIBA

Juara 1 Pidato Bhs Inggris, Juara 2 Puisi Bhs Inggris dan Juara 2 Siswa Teladan Iven STIBA 2024

6 Siswa Raih Medali Perak di Ajang GYIIF 2025

Tim SMA Lokon meraih Medali Perak di ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 kategori Social Science (Secondary)

Siswa Lokon Raih Banyak Prestasi

Banyak selamat atas prestasi yang diraih siswa/i SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, atau biasa disebut Losnito selama 2 minggu ini

Tampilkan postingan dengan label Hardiknas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hardiknas. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2017

SMA Lokon Sabet Juara Umum Kejuaraan Atletik Se-Kota Tomohon

Korenvian Jawame (SMA Lokon) Juara 10Km, 1500m, 800m

LOSNITO NEWS - Walikota Tomohon Jimmy F. Eman didampingi Ketua PASI Tomohon Stefanus BAN Liow dan Ketua Dekot Vicky Wenur, membuka kejuaraan Atletik Pelajar SD, SMP, SMA/SMK Se-kota Tomohon, Jumat pagi tadi (12/5) di Lapangan Olah Raga SMA St. Nikolaus Tomohon.

Juara 1,2,3 Lomba Lari 10.000 meter Putra SMA/SMK
"Kejuaraan ini bertujuan untuk mencari bakat-bakat anak muda di bidang atletik yang kemudian diperhatikan dan dibina oleh PASI Tomohon untuk dipersiapkan pada kejuaraan tingkat Propinsi dan tidak menutup kemungkinan ke Nasional. Meski demikian, pepatah latin "Mens sana in corpore sano" yang artinya "Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat", juga menjadi tujuan dari kejuaraan oleh raga ini" tegas Jimmy F. Eman dalam sambutannya pada kejuaraan atletik se-Kota Tomohon.

Sambutan Walikota Tomohon, Jimmy F. Eman

Bendera Start Lari Tingkat SD

Usai sambutan, Walikota mengangkat bendera start untuk lomba tingkat SD. Setelah itu, kegiatan berjalan hingga selesai.

Esok harinya diadakan lomba lari berjarak 10 km dan 5 km yang start dari Tumatang dan Finish di SMA Lokon. Dari hasil kejuaraan itu, SMA Lokon menyabet 13 Emas, 13 Perak dan 10 Perunggu, dengan nilai Total 36. SMA PGRI Rururkan sebagai juara umum kedua memperoleh 4 emas saja.

Nomor 100 meter
Putra:
  1. Imanuel Onawame (SMA Lokon)
  2. Fernando Jarinap (SMA Lokon)
  3. Rivaldo Paat (SMA Lokon)
Putri:
  1. Philia Kalalo (SMA PGRI Rurukan)
  2. Atmey Batudaka (SMA Negeri 1)
  3. Abigail Sasaw (SMA Lokon)
Nomor 200 Meter 
Putra
  1. Fernando Jarinap (SMA Lokon)
  2. Yohanes Turang (SMK Kristen 3)
  3. Peter Takumansang (SMA Lokon)
Putri
  1. Anastasia Ruata (SMA Lokon)
  2. Nadine Kawengian (SMA Lokon)
  3. Ipma Wantik (SMA Lokon)
Nomor 400 meter 
Putra:
  1. Bernadus Mahera (SMA Lokon)
  2. Clement Oniowa (SMA Lokon)
  3. Marcelindo Kolompoy (SMA Lokon)
Putri
  1. Anastasia Ruata (SMA Lokon)
  2. Erika Kawengian (SMA Lokon)
  3. Ipma Wantik (SMA Lokon)
    Nomor 800 meter 
    Putra:
    1. Korenvian Jawame (SMA Lokon)
    2. Ronaldo Kamukupeyan (SMA Lokon)
    3. Melinus Magal (SMA Lokon)
    Putri
    1. Philia Kalalo (SMA PGRI Rurukan)
    2. Abigail Sasaw (SMA Lokon)
    3. Ipma Wantik (SMA Lokon)
      Nomor 1.500 meter 
      Putra
      1. Korenvian Jawame (SMA Lokon)
      2. Vitalis Nakiaya (SMA Lokon)
      3. Risman Tumoka (SMK Kristen 3)
      Putri
      1. Anggi Langitan (SMA Negeri 1)
      2. Yesika Kuada (SMA Lokon)
      3. Helmy Kasiha (SMK Kristen 2)
      Nomor 5.000 meter Putri
      1. Philia Kalalo (SMA PGRI Rurukan) - 28 menit 58 detik
      2. Anggi Langitan (SMA Negeri 1 Tomohon) - 33 menit 33 detik
      Nomor: 10.000 meter Putra
        1. Korenvian Jawame (SMA Lokon) - 36 menit 44 detik
        2. Trifilis Lopulalan (SMK Negeri 1) - 38 menit 29 detik
        3. Risman Tumoka (SMK Kristen 3) - 40 menit 20 detik
        TOLAK PELURU
        Putra
        1. Stefano Tinangon (SMK Negeri 1)
        2. Ronaldo Kamukupeyan (SMA Lokon)
        3. Clement Oniowa (SMA Lokon)
        Putri
        1. Yohana Oprawiri (SMA Lokon) - 17,71 m
        2. Anggi Langitan (SMA Negeri 1) - 17,40 m
        3. Ipma Wantik (SMA Lokon - 6,60 m
        LEMPAR CAKRAM
        Putra
        1. Imanuel Onawame (SMA Lokon)
        2. Melinus Magal (SMA Lokon)
        3. Oktaviano Welang (SMA Negeri 1)
        Putri
        1. Yohana Oprawiri (SMA Lokon)
        2. Ipma Wantik (SMA Lokon)
        3. Clarienta Pangalila (SMA Negeri 1)
        LEMPAR LEMBING
        Putra
        1. Clement Oniowa (SMA Lokon)
        2. Stefano Tinangon (SMK Negeri 1)
        3. Fidelis Amisin (SMA Lokon)
        Putri
        1. Virginia Pontoh (SMK Kristen 2)
        2. Clarienta Pangalila (SMA Negeri 1)
        3. Helmy Kasiha (SMK Kristen 2)
        LOMPAT JAUH
        Putra
        1. Ronaldo Kamukupeyan (SMA Lokon)
        2. Marcelindo Kolompoy (SMA Lokon)
        3. Timoty Tangkawarow (SMK Kristen 2)
        Putri
        1. Philia Kalalo (SMA PGRI Rurukan)
        2. Nadine Tumewu (SMA Lokon)
        3. Atmey Batudaka (SMA Negeri 1)
        Foto Bersama: Para Atlet Lari
        Tampil sebagai juara umum untuk tingkat SD adalah SD Katolik Wailan yang merebut 3 Emas, 1 Perak dan 2 Perunggu. Untuk tingkat SMP, juara umum diperoleh SMP Kristen Tomohon dengan 6 Emas, 7 Perak dan 6 Perunggu. Tingkat SMA dan SMK, juara umum SMA Lokon dengan 13 Emas, 13 Perak dan 10 Perunggu. (Sumber: Persatuan Atletik Selururh Indonesia (PASI) Kota Tomohon.)

        " Dari hasil ini akan diseleksi untuk mengikuti Pekan Olahraga Kota (Porkot) ke-3 Kota Tomohon Juli mendatang dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Oktober mendatang di Kabupaten Minahasa" tegas Stefanus BAN Liow, Ketua PASI Tomohon sekaligus Anggota DPD RI.

        12 Mei 2017

        Losnito Ikut Pawai Defile Hardiknas Tomohon

        Marching Band SMA Lokon 2017

        LOSNITO NEWS - “Atas nama pemerintah, saya menyampaikan penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh insan pendidikan di tanah air, mereka adalah yang telah mengabdi dan berkorban demi kemajuan pendidikan, juga telah membuahkan hasil yang menggembirakan, sekalipun di sana-sini masih banyak masalah dan menimbulkan ketidakpuasan, sedang adanya masalah yang belum terselesaikan dan ketidakpuasan yang ada, justru semakin melipat-gandakan energi, kehendak dan ikhtiar untuk menemukan terobosan-terobosan baru,” ucap Walikota Tomohon Jimmy F. Eman membacakan sambutan Mendikbud saat memimpin upacara Hardiknas (9/5/2017) di lapangan Walikota Woloan.



        Field Commander

        Marching Band SMP Lokon

        “Marilah kita bersama-sama menggerakkan reformasi pendidikan nasional demi kemajuan dan keunggulan pendidikan nasional kita pada satu sisi lain demi kelangsungan dan kelanggengan Bangsa Indonesia di tengah bangsa-bangsa lain. Hardiknas 2017 ini, mari kita singsingkan lengan baju untuk menggerakkan reformasi pendidikan nasional demi anak cucu kita,” lanjut Eman.



        Setelah dibuka dengan upacara, Walikota beserta jajarannya menuju ke pusat kota Tomohon untuk menyaksikan defile Hardiknas yang diikuti oleh Sekolah Dasar sebanyak (32 Sekolah), Sekolah Menengah Pertama (15 Sekolah,  serta Tingkat Sekolah Menengah Atas sebanyak (11 sekolah).

        Seperti biasanya, Marching Band SMP Lokon dan SMA Lokon ikut dalam defile. Start dari Lapangan Parasamya Walian menuju ke Pusat kota di depan Supermarket Grand Central.

        Warga Tomohon di sepanjang jalan yang dilewati oleh peserta pawai, tampak antusias menanti kebolehan yang diperagakan oleh siswa-siswa. Selain bendera merah putih, Marching band, baju adat Minahasa dalam bentuk tarian Kabasaran dan Maengket juga mewarnai pawai hingga terkesan beragam budaya. 

        03 Mei 2013

        Suasana Peringatan Hardiknas 2013 Tomohon



        LOSNITO - Kami, 2 Mei 2013, Upacara peringatan Hardiknas dipusatkan di Stadion Parasamya, Wailan, Tomohon Selatan. SMP/SMA Lokon, seperti tahun lalu, ikut dalam upacara itu bersama 112 SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi se-kota Tomohon.

        Keramaian khas anak-anak sekolah terjadi menjelang dan selama upacara itu. Cuaca yang cerah dan matahari tidak terlalu terik karena tertutup oleh awan, bukan menjadi halangan para peserta berdiri di atas lapangan rumput.

        Beberapa siswa berada di luar arena upacara. Mereka sibuk sendiri dengan peralatan drumband dan marching bandnya, Yang lain berteduh di bawah pohon entah apa yang mereka tunggu, Sementara beberapa petugas, driver, dan pedangan asongan masing-masing bertugas untuk memanfaatkan fungsinya.



        Upacara itu hanya seremonial saja yang terus diulang-ulang seperti tahun lalu. Sementara itu tema Hardiknas, "Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan" hanyalah bersifat informatif dan cenderung pamer kekuasaan yang didukung dengan dana 7,8 trilun untuk mengimplementasikan program-program yang katanya berpihak kepada rakyat miskin.

        Memang tak ada diskusi tentang tema itu, tetapi fakta di lapangan mereka menjadi pendengar informasi yang tak perlu didengar secara serius, mungkin sikon yang kurang pas.

        Setelah upacara selesai, para peserta melanjutkan pawai menuju ke pusat kota yang berjarak 10 km lebih dan finish di panggung kehormatan di mana Walikota dan jajaran Pemkot sudah menunggu semua peserta hingga terakhir.


        SMP Lokon diurutan ke 21. Dan SMA Lokon diurutan ke 2. Karena itu bisa berjalan beriringan dalam pawai pendidikan. Selain kelompok baris berbaris juga marching band dengan seragam sederhana dan musik yang sudah dihafal berupaya menghibur masyarakat Tomohon.
         
        Ada baiknya, pawai pendidikan setiap 2 Mei ini menjadi kesempatan yang berharga untuk memperkenalkan sekolah dan kekhasan sekolah berasrama. Sorenya, karena beberapa siswa lulus seleksi mewakili kota Tomohon diajang OSN tingkat Provinsi Sulut, mereka menerima penghargaan dan peneguhan dari Walikota di Bukit Inspirasi.

        30 April 2012

        Foto BW Pendidikan Nasional (Liputan Character Building)



        Entah mengapa. Setiap kali teman-teman Kamprets berbicara tantangan foto BW (Hitam Putih), pikiran saya selalu tertuju pada pendidikan di Indonesia. Apakah karena menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei nanti (dua hari lagi)? Atau karena perasaan saya saja yang ingin mengatakan bahwa bukan hanya foto yang BW tetapi dunia pendidikan kita pun juga ada BW-nya?

        Yang jelas aroma Hardiknas sudah terasa di sekitar saya. Jumat dan Sabtu kemarin saya diminta untuk mengisi session “Character Building” bagi 112 siswa kelas X, Angkatan 10th, SMA Lokon berasrama. Dalam dua hari itu, saya disuruh untuk membentuk karakter para remaja itu dengan sebaik-baiknya. “Pokoknya terima beres”, kata salah satu guru BK sekolah itu.

        Bukan tanpa alasan kalau sekolah menunjuk saya untuk “mengisi” kegiatan Character Building. Mulai dari angkatan 5 hingga angkatan 9, saya bersama tim selalu mendampingi dalam setiap kegiatan outbound dari pagi hingga sore. Seakarang mereka minta untuk dua hari. Siang, sore dan malam harus ada kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter.

        Ketika sedang menjamu guru BK dan Wakasek Bidang Kesiswaan itu, tedengar dari kejauhan suara marching band yang sedang latihan. “Nah, suara marching band itu menjadi tanda bahwa Hardiknas makin dekat. Biasa, setiap Hardiknas ada pawai pendidikan. Siap-siap marching band, drum band, musik bambu, kolintang dan tarian tradisional dari setiap sekolah, ikut pawai” kata pak Tommy,  Wakasek Bidang Kesiswaan, saat ketemu dengan saya untuk acara Character Building.


        Apakah kegiatan Character Building ini juga dalam rangka untuk memperingati Hardiknas? Yang jelas memang dari segi waktu berdekatan dengan Hardiknas, 2 Mei.  Setelah mereka pulang, lalu saya mulai berpikir tentang materi pembentukan karakter bagi 112 siswa sekolah berasrama itu.

        Kemudian saya ingat ada seorang dosen filsafat yang mengatakan bahwa “Hidup yang berhasil itu berbeda dengan hidup yang bermakna. Lazimnya keberhasilan seorang diukur dari apa yang dicapai dan diperoleh. Sedangkan seseorang hidupnya bermakna terletak pada kemampuannya untuk memberi. Jadi, seorang guru yang sejati adalah seorang pribadi yang ingin memberikan dirinya agar hidup orang lain (siswa) menjadi bermakna”.

        Tak jauh dari arti itu, pepatah dalam bahasa Latin menyebutnya, “Non scholae sed vitae discimus” (saya belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup). Karena itu, pemaknaan tentang pendidikan tak hanya untuk meraih prestasi setinggi mungkin di bidang akademis, (termasuk lulus UN 100%) tetapi aspek budi pekerti, etika moral, spiritual dan fisik termasuk dalam ranah intelgensia yang penting untuk pembentukan kepribadian siswa.



        “Pendidikan memang harus diprioritaskan oleh negara. Saat ini yang dibutuhkan adalah revitalisasi persekolahan dan pendidikan secara umun untuk kembali pada tujuannya.  Karena itu, ada tiga syarat agar negara ini bisa maju. Yang pertama, pendidikan. Yang kedua, pendidikan dan yang  ketiga pendidikan.” kata Om Ronald, owner sekolah berasrama. “Mengapa pendidikan? Karena esensi dari pendidikan itu adalah pembentukan anak cucu bangsa yang utuh dan berkualitas serta takut akan Tuhan. Kalau pendidikannya saja tidak berkualitas, mana bisa membentuk manusia secara utuh dan berkualitas sebagai penerus bangsa ini?” lanjutnya dengan nada sedkit menggerutu terhadap sikon pendidikan di Indonesia dewasa ini.

        Referensi itu, lalu saya jadikan bahan dasar untuk membuat materi pembentukan karakter selama dua hari itu. Hari pertama peserta yang terbagi dalam 10 kelompok, saya ajak untuk mengikuti Mahawu Jungle Trekking di hutan kaki Gunung Mahawu. Dalam trekking itu, setiap kelompok harus melalui 10 pos dan di setiap pos setiap kelompok mengerjakan tugas seperti asah otak, jembatan manusia, kapal pecah, estafet balon, menara air dll.

        Dalam kegiatan itu, metode learning by doing atau sering disebut juga Experiential Learning kami pakai karena dengan cara itu, peserta bisa belajar banyak hal seperti leadership, kekompakan, team work, kecepatan memecahkan masalah, kepedulian, kebersamaan, motivasi, kreativitas, bela rasa dll. Sejauh pengamatan saya, saat mereka mendapatkan tugas di pos, setiap kelompok bisa menunjukkan sebagai team work dan leadership yang bagus.

        Sebelum makan malam, diadakan pengayaan dan refleksi atas kegiatan trekking, di ruang meeting. Tema “Global Warming” dipilih terkait dengan kegiatan pengalaman perjalanan mereka di hutan. Kemudian benang berah trekking dan global warming diolah dan diekspresikan pada sebuah lukisan di atas karton Manila yang sesudah makan malam dipresentasikan. Monitoring pembentukan karakter dilakukan dengan cara menayangkan lewat proyektor foto-foto kegiatan mereka tadi.



        Hari kedua , kegiatan berfokusn pada pembentukan karakter berbasis angkatan, bukan kelompok-kelompok lagi. Di Amphiteater terbuka, semua kegiatan seperti oposite, Pedang Samurai, Maju Mundur, Bangun bersama, Komunikasi, Folding Carpet, Labirin, dll dilaksanakan hingga sore hari.

        Malam harinya kami adakan api unggun untuk menilai Yel-yel terbaik dan pementasan setiap kelompok. Hadiah bagi yang terbaik sudah kami siapkan dan kami beritahu sejak awal untuk memotivasi mereka bahwa fun games itu sebuah permainan namun tidak main-main.  Sebelum api unggun, dikumpulkan di ruang meeting untuk merefleksikan melalui foto-foto kegiatan pagi hingga sore hari. Sesudah itu, saya mengajak mereka untuk bergandengan sambil menyanyikan lagu-lagu kebersamaan.

        Proses pembentukan karakter itu tidak semudah membalik tangan. Menjadi sebuah tantangan besar ketika saya mengetahui bahwa asal-usul siswa berasal dari Timika, Kaimana, Jayapura, Manado, Maluku, Makasar, Palu, Kotamobagu, Bitung, Sangir Talaud, Jawa, Kalimantan. Dalam pluralitas itulah pembentukan karakter harus dijalankan agar mereka paham bahwa untuk menjadi seorang pemimpin mereka harus bisa memimpin dirinya sendiri kendati keanekaragaman budaya, ekonomi,  bahasa, watak itu berbeda-beda.

        Saya pun terpaksa dengan nada marah menggertak siswa-siswa yang berbicara sendiri ketika temannya sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Masuk melalui telinga kiri keluar dari telinga kanan, dan tidak peduli serta kurang berpatisipasi terhadap setiap kegiatan, sudah saya pikirkan sejak awal seiring dengan perkembangan keremajaan mereka yang masih labil dan emosional.



        Cerita pendidikan ini rasanya tak sesuai bagi mereka yang karena miskin lalu tidak bisa bersekolah. Miris memang jika mendengar bahwa sekolah itu mahal, sementara jumlah orang miskin makin bertambah seiring dengan minimnya lapangan pekerjaan.  Kendati ada istilah arisan pendidikan, namun toh bukan solusi instan. Lebih ironis, apabila diketahui, subsidi pendidikan yang seharusnya untuk memajukan pendidikan dan memberikan pendidikan gratis bagi yang tidak mampu, ujung-ujungnya dikorupsi. Hati siapa yang tak galau ketika tersiar kabar dana BOS dipakai untuk plesiran ke luar negeri oleh segelintir wakil rakyat? (trilokon)

        18 Mei 2010

        PAWAI PENDIDIKAN DI MANADO

        Setelah makan siang diajukan pada pukul 10.00, seluruh siswa dan guru pendamping yang terbagi dalam  kelompok MB Lokon, Team Basket DBL, Team Basket Putri-Putra, Team Sepak Bola, NOAH, Pramuka, PMR, Siswa kelas, Guru dan Karyawan serta pembawa spanduk masuk ke bis masing-masing. Ada 10 bis yang disewa untuk mengantar SMA Lokon menuju ke Lapanan Olah Raga KONI di Sario, Manado. Sesampainya di lapangan, masing-masing-masing kelompok berbaris dan berbaur dengan kelompok lain. Kali ini peserta pawai pendidikan dalam rangka Mukernas BMPS (Badan Musyawarah Pendidikan Swasta) 59 SD, 52 SMP, 22 SMA se Sulut. Kegiatan pawai pendidikan ini lebih dari 8 tahun baru kali ini diadakan.

        Siang jam 12, hampir semua peserta sudah berkumpul di lapangan. Saat itu cuaca memang cukup panas tapi kemudian tidak lama gerimis dan hujan. Tampak peserta berlarian mencari tempat teduh. Baru setelah cuaca terang satu-persatu kelompok masuk kembali ke lapangan. Tidak lama kemudian Marching Band SMA Lokon diminta untuk latihan dan uji coba lapangan untuk display di depan panggung kehormatan. Saat uji coba berlangsung tampak formasi para pemain MB Lokon masih belum bagus penampilannya. Ini dikarenakan lapangan yang tidak rata dan berpasir. 

        MC melalui mikrofonnya memberitahukan ke seleuruh peserta agar besiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan yang akan di hadiri oleh Wakil Ketua MPR RI, Sekjen Kemendiknas, Gubenur Sulut, Diknas Sulut dan Ketua BMPS. Sebelum sambutan-sambutan berlangsung, Marching Band Lokon tampil dalam formasi display untuk memeriahkan acara pembukaan. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Sekolah SMA Lokon untuk memberikan buku "Kurikulum Berbasis Kehidupan"-nya Ronald Korompis, owner dan Ketua Umum YPL. Para pejabat yang menerima buku nampak berseri-seri saat menerima buku ini. Semoga pendidikan menjadi perhatian serius kita semua.

        Bendera start pawai sudah diangkat oleh Gubenur Sulut SH Sarundayang. Marching Band Lokon mulai bergerak mengawali pawai yang kemudian diikuti oleh SD, SMP dan SMA.  Perjalanan pawai dari KONI Sario menuju Mega Mall diwarnai dengan hujan deras. Meski kemudian hujan berhenti, namun sempat membasahi seluruh pakain peserta sehingga tampak basah kuyup para peserta pawai. Memang kemudian hujan reda dan panas mulai merekah. Pakaian basah menjadi kering karena panas. Namun pengalaman ini membuat kulit tidak terlalu terbakar oleh teriknya mentari kota Manado yang biasanya panas menyengat.

        Semangat mengikuti pawai di tengah kota Manado masih tampak hebat. Keletihan yang dialami  oleh sebgaian peserta seakan tenggelam bersamaan dengan "show of force" SMA Lokon kepada publik masyarakat Manado. Di pinggir jalan yang dilalui, tampak masyarakat sangat antusias menonton penampilan Marching Band Lokon yang menggunakan seragam hitam berbalut warna emas merah dengan  4 mayorette berpakain pink kombinasi putih yang menyolok.



        03 Mei 2010

        HARDIKNAS dan MB Lokon

        Tomohon - Mesin mobil-mobil "Mikrolet Biru" yang parkir di sport hall mulai satu persatu dihidupkan. Bunyi kendaraan angkutan umum Tomohon itu makin terdengar sedikit keras karena dihidupkan bebarengan. Tak lama kemudian mikrolet biru itu dipenuhi oleh para pemain, official, pendamping Marching Band Lokon. Tampak ikut gabung dalam rombongan itu beberapa guru. Ini rombongan terakhir. Sementara rombongan Siswa dan guru lain sudah berada di lapangan Parasamya Walian untuk mengikuti upacara Hardiknas yang diperingati Hari Senin (3/5) ini.

        Langit begitu cerah tapi sedikit berawan. Sesampainya di dekat lapangan Wailan, MB Lokon tidak langsung masuk ke arena lapangan tetapi warming up dulu di Panti Asuhan Nazareth yang letaknya tidak jauh dari stadion. Ketika ada informasi rombongan SD sudah mulai habis gilirannya untuk pawai, baru MB Lokon mulai memasuki lapangan upacara. 

        Memang sudah menjadi tradisi di Tomohon, setiap peringatan Hardiknas selalu ada pawai yang melibatkan sekolah-sekolah se-Tomohon. Menariknya adalah banyak sekolah mengandalkan "drum band" atau "marching band". Karena itu, tidak heran terjadi semacam perang gengsi sekolah melalui penampilan drum band atau marching bandnya. Di lain pihak inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat sepanjang jalan yang dilalui oleh peserta pawai dari SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Masyarakat terus menilai penampilan Marching Band mana yang paling bagus baik dari sisi musiknya maupun kostumnya. Ini fenomena menarik yang patut ditonton karena masyarakat akan menilai sekolah mana yang layak dan pantas menjadi barometer perkembangan musik lewat marching band.

        Ternyata perkiraan waktu urutan pawai meleset. Berangkat sekitar jam 9 baru mulai start dari lapangan jam 14.00 lebih. Itu pun MB Lokon selalu diurutan terakhir. Selain sudah biasa begitu, panitia meminta supaya dengan iklas MB Lokon dan sekolah berada diurutan terakhir. Ada kekawatiran kalau Lokon lebih dulu berjalan nanti masyarakat bubar. Memang kehadiran MB Lokon sampai sekarang ini masih ditunggu oleh masyarakat karena bagus dan enak ditonton serta menghibur masyarakat. Hal ini sesuai dengan predikatnya sebagai Juara Umum Marching Ban Isuzu Cup 2009. Tapi, Lokon tidak sendirian. Ada group Marching Band dan Drumb Band yang baik juga seperti MB Xaverius Seminari, dan SMP Gonzaga, SMP Kristen Tomohon.

        Panasnya udara Tomohon membuat kemerah-merahan pada sebagian pipi pemain Marching. Keringat bercucuran dan perut lapar sudah biasa dialami oleh rombongan pawai yang baru start pada jam dua siang ini. Nama besar dan penantian masyarakat mampu mengalahkan letih lapar para penggiat Marching Band Lokon ini. Mereka tampil luar biasa dengan formasi yang rapih, teratur, kostum hitam kombinasi merah kuning emas dengan tobi koboi dan musik yang enak didengar. Penampilan yang luar biasa ini memuncak di muka panggung kehormatan. Pesona MB Lokon menjadi magnet bagi masyarakat yang berdesakan menonton MB Lokon. Kilatan foto dan video baik dari ponsel maupun kamera profesional nampak mengarah serentak pada penampilan MB Lokon. Sepanjang perjalanan melalui jalan raya Tomohon, orang-orang berdecak kagum sambil berbisik ke sampingnya "barometer perkembangan musik Marching Band masih menjadi milik Lokon". Pujian ini tentu membuat senang bagi Civitas Akademika Lokon tapi kemudian menjadi tantangan ketika yang sudah baik itu menjadi hebat (good to great).