SEKOLAH LOKON ST. NIKOLAUS SD-SMP-SMA : astronomi

Dibuka Siswa Baru SMP-SMA Lokon 2023-2024

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP-SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon TA. 2023-2024 TELAH DIBUKA

Raih Medali Perunggu Kebumian OSN 2024

Raih Perunggu Kebumian OSN 2024. Emily mendapat pujian dari Sekolah dan teman-temannya.

Siswa Lokon sabet Juara di STIBA

Juara 1 Pidato Bhs Inggris, Juara 2 Puisi Bhs Inggris dan Juara 2 Siswa Teladan Iven STIBA 2024

6 Siswa Raih Medali Perak di Ajang GYIIF 2025

Tim SMA Lokon meraih Medali Perak di ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 kategori Social Science (Secondary)

Siswa Lokon Raih Banyak Prestasi

Banyak selamat atas prestasi yang diraih siswa/i SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, atau biasa disebut Losnito selama 2 minggu ini

Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

28 Mei 2021

Siswa Lokon Amati Gerhana Bulan dan Super Blood Moon (26 Mei 2021)


Tomohon, LOSNITO NEWS - Bayangan Bumi menutup seluruh permukaan Bulan, itulah peristiwa gerhana Bulan. Posisi Bumi saat itu berada pada satu garis lurus yang sama di antara Matahari dan Bulan. Dalam situasi itu, tentu sinar Matahari terhalang mencapai Bulan karena Bumi menutupinya.

“Gerhana bulan muncul bila Bulan sedang beroposisi dengan Matahari. Namun, karena kemiringan bidang orbit Bulan terhadap bidang ekliptika sebesar 5°, maka tidak setiap oposisi Bulan dengan Matahari akan mengakibatkan gerhana bulan.”

Perpotongan bidang orbit Bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan dua buah titik potong yang disebut node, yaitu titik tempat Bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan akan terjadi saat Bulan beroposisi pada node tersebut.

Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya, gerhana bulan akan diikuti dengan gerhana Matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara Matahari dengan Bumi.

“Ketika gerhana bulan total terjadi, posisi matahari, bumi, dan bulan sejajar sehingga membuat bulan masuk ke umbra bumi. Sementara supermoon adalah istilah masyarakat untuk menandai bulan yang berada pada titik terdekat dengan bumi, karena tampak sangat besar dan sangat cerah”

Rabu (26/5/2021), saya dan beberapa siswa, yang sedang training untuk mengikuti Kompetisi Sain Nasional (KSN) tingkat Kota.Kabupaten, berkumpul di Mout Lokon Observatory (MLO) milik sekolah kami, SMA Lokon.

Sejak pukul 17.00 WITA kami sudah mempersiapkan teleskop untuk dipakai pengamatan dan sekaligus mengabadikan detik-detik Gerhana Bulan Total hingga menikmati merahnya Super Moon Blood (BulanMerah).


“Karena gerhana bulan total ini hanya terjadi setiap 195 tahun” jelas Mario Kojoingan, guru Astronomi yang mendamping para siswa.

20 Agustus 2016

SMA Lokon Koleksi Prestasi 2016

Elisabeth Korwa: The Best Design Themes TIFF 2016

Tomohon, LOSNITO - Apa yang dikuatirkan banyak pihak bahwa Kurikulum k-13 menghambat prestasi siswa dalam mengikuti lomba-lomba, tak terbukti.

"Siswa yang terlibat dalam kegiatan wewakili sekolah akan mendapat perhatian khusus. Seperti mengikuti marching band, mengikuti basket dalam DBL dan lainnya" kata Kepsek Stephanus Poluan di hadapan siswa saat pelepasan tim Marching Band untuk mengikuti pawai 17 Agustus 2016, di Tomohon.

Cristofer J. Gozali: Jawara di OSP Astronomi dan Kebumian

Berikut torehan prestasi siswa-siswa SMA Lokon hingga Agustus 2016

Februari 2016
  1. Best Photografer DBL Sulut 2016 : Holly Maria Lala
  2. 2nd Journalis Competititon DBL Sulut 2016: Christina Eka prilia dan Holly Lala
  3. Juara Olimpiade Sains Tingkat Kota Tomohon : Matematika (2); Fisika (2); Biologi (1), Komputer (4); Astronomi (2); Kebumian (2); Ekonomi (1); Geografi (2)
Maret 2016
  1. Juara Olimpiade Sains Tingkat Propinsi : Cristofer J. Gozali (Astronomi)
April 2016
  1. Juara 1 ISMOC Matematika: Gabby G. Chandra
  2. Juara 1 Kompetisi Matematika UNSRAT: anggota tim - Gabby, Chang, Kelvin, Goldraug, Daniel Tandayu, Feni Mariska, Rosari LE, Audreen S Goni
Mei 2016:
  1. Juara 1 Modeling Xpressi Party: Christofel B. Pinontoan
Juni 2016 (libur semester)

Juli 2016
  1. Juara 1 Cerdas Cermat Kebumian dalam rangka Festival Panas Bumi KKN UGM:  Cristofer J. Gozali, dkk
  2. Juara 1 Tingkat SMA Lomba Lari 5km Tomohon Linow Lake: Korem Jamawe
  3. Juara 1 Duta Gigi Sehat PDGI Expo Manado 2: Christofel B. Pinontoan
Agustus 2016
  1. The Best Design Themes TIFF 2016: Elisabet Korwa
  2. Juara III Basket Putra Rex Mundi Cup 2016
  3. Juara II Tim Journalist Rex Mundi Cup : Prasye Rombe dan Kezia Wungouw
  4. Best Photographer Journalist Rex Mundi Cup 2016: Kezia Wungouw
Selamat buat para juara. Raihlah cita-cita setinggi langit!

16 Oktober 2013

The IX Asian-Pacific Astronomy Olympiad


LOSNITO - Para peserta APAO 2013 mulai mendaftarkan diri. Tercatat negara-negara yang sudah mendaftar adalah China, Kasakhstan, Korea Selatan, Rusia, Bangladesh (21/9). Setiap negara ada yang mengirim hingga 10 peserta. Tapi ada yang datang hanya sebagai observer saja.

Rencananya APAO IX kali ini akan diikuti oleh 10 negara Asia Pasific. Selain yang disebut di atas, negara-negara yang akan hadir adalah Kyrgyztan, Lamboja, Nepal, Singapura, Siberia dan Thailand. SMA Lokon St. Nikolaus ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan The IX Asian Pacific Astronomy Olympiad, 23 November hingga 2 Desember 2013. Karena itu, paniia lokal sudah menyiapkan diri menyambut kedatangan para peserta.

Olimpiade Astronomi tingkat Asia Pasifik pertama kali digelar di Irkutsk, Siberia, 4-11 Desember 2005. Tujuan diadakan APAO antara lain untuk memperkuat peranan Asia dalam olimpiade sains.


Link: http://www.issp.ac.ru/iao/apao/2013/ap13fees.html




Akhir September lalu, Dr. Michael Gavrilov, Presiden Astronomi International dan Dr. Chatief Kunjaya, Presiden of International Olympiade on Astronomy dan Astrophysics datang secara khusus ke SMA Lokon untuk mengecek persiapan APAO.


Selam kehadirannya di Tomohon diadakan seleksi untuk para peserta dari Indonesia yang akan mengikuti APAO. Tak hanya itu, berdua juga mengadakan observasi ke lokasi-lokasi yang nanti akan dipakai untuk fieldtrip.

Lokasi yang direncanakan akan dikunjungi oleh para peserta dan offisial adalah Bukit Doa Mahawu, Puncak Mahawu, Geothermal Lahendong, Danau Linow, Bunaken, Pulau Lihaga dan sightseeing Manado.

Salah satu alasan penting mengapa SMA Lokon menjadi tuan rumah APAO IX karena SMA Lokon memiliki Mt. Lokon Observatory, teropong bintang yang dimiliki oleh satu-satunya SMA di Sulut.

Sumber: The IX APAO



23 Juli 2013

MOS Itu, Awal dari Pembentukan Karakter Lho!


LOSNITO - “Amuba!” teriak salah satu Panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah) kepada para siswa baru yang sedang berbaris. Serentak para amuba merespon dengan menghentakkan kakinya tiga kali dan kemudian dengan tangannya, memberi hormat kepada Senior sambil menjawab “Siappp Kakkk!”


Suara panggilan ke amuba, berikut jawabannya itu terus berlangsung selama sepekan sejak Senin hingga Jumat (19/7). Suasana kampus sekolah SMP/SMA selama sepekan menjadi riuh seru karena penyelenggaraan MOS itu.

Ada korban? Ada bullying? Ada tindakan anarkis? Ada arogansi para senior? Pertanyaan-pertanyaan ini memang dirasakan sangat miris bagi dunia pendidikan. Tak urung, penyelenggaraan MOS menuai pro dan kontra ketika ada peserta yang meninggal dunia saat melaksanakan kegiatan itu.

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana MOS dikelola dengan semangat kekeluargaan dan berkelanjutan di lingkungan sekolah berasrama.

Panitia MOS
Panitia untuk MOS Amuba (siswa baru kelas X) diserahkan ke kakak kelasnya yaitu siswa kelas XII. Atau dua angkatan di atasanya. Seperti kemarin yang menjadi Amuba adalah angkatan XII, sedangkan panitianya dari angkatan X (Excellent).
Dengan cara demikian, tercipta hubungan “kakak-adik” seperti dalam keluarga. Tak jarang dengan model ini terjalin ikatan emosional dan psikologis yang berguna ketika amuba ditempatkan di ruang tidur bersama kakak kelasnya. Oh ya setiap kamar di asrama di isi enam siswa dan setiap kamar ada tutornya (kakak kelas).

Kegiatan MOS
Karena sekolah berasrama (boarding school) maka kegiatan MOS diselenggarakan agak berbeda dengan sekolah yang tak berasrama. Saat MOS, posisi amuba sudah menghuni di asrama dan praktis dibiasakan mengikuti jadwal harian di asrama dan sekolah. Kondisi seperti ini memudahkan untuk menyusun kegiatan MOS yang tak jauh berbeda dengan MOS tahun lalu.

“Saya menekankan bahwa kegiatan MOS itu adalah awal dari proses pembentukan karakter sebagai Siswa Lokon” kata Ignas Gumansalangi, ketua Panitia MOS SMA 2013-2014 yang sekaligus Ketua OSIS.
Karakter yang dimaksud itu, tak lebih dari upaya pihak sekolah melalui panitia MOS untuk membiasakan para siswa baru dengan lingkungan baru yang nantinya akan dia huni hingga tiga tahun ke depan. Karena lingkungan “baru” nya itu lingkupnya luas dan melibatkan hampir 600 orang, maka dibutuhkan pembiasaan-pembiasaan untuk siswa baru agar tidak kaget dengan lingkungan yang dihadapi.
Budaya Menyapa
Tak usah heran, jika anda berpapasan dengan siswa Lokon, anda akan disambut dengan sapaan seperti ini, “Selama Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu. Selamat Pagi Kak”.  
Budaya menyapa ini menjadi awal dari sebuah komunikasi. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk berbicara lebih dahulu. Keberanian inilah yang kemudian dikembangkan menjadi berani berbicara di hadapan umum dan menanamkan dalam diri anak sikap pro aktif dan suka bertanya (bukan sekedar bertanya).
Para tamu sekolah tak jarang merasa senang diperhatikan dengan sapaan ini oleh semua penghuni di kampus. Begitulah kami membangun sebuah budaya.

Kebiasaan Antri
Antri tak lagi dilihat sebagai kondisi giliran saja tetapi sudah menjadi budaya dimana-mana. Dalam kehidupan bersama seperti di asrama dan sekolah, siswa tak jarang harus antri karena situasi menuntutnya untuk antri. Misalnya, saat mengambil makan yang ditata denan model prasmanan, keluar dari ruang pertemuan melalui satu pintu, ujian lisan, dll.
“One line. Jalan berbaris menuju ke ruang makan” teriak salah satu Panitia MOS memberi aba-aba untuk ke dining room, karena waktu untuk snak telah tiba. Baris satu-satu (one line) menjadi salah satu cara untuk menanamkan budaya antri yang baik.

Motivasi Training
Dr. Chatief Kunjaya, Presiden IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysic) memberikan semacam motivation training di hadapan para amuba SMA/SMP di sporthall. Kehadiran Dr. Chatief Kunjaya, yang juga pemangku Obervatoirum Bosscha dan dosen ITB,  ke sekolah Lokon dalam rangka mempersiapkan Olimpiade Astronomi Asia Pasifik (APAO), 23-30 November 2013 yang akan diselenggarakan di kampus Lokon.
Para alumni (Angkatan 9) yang sedang kuliah di berbagai tempat baik di luar negeri dan Indonesia juga hadir untuk sharing pengalaman suka dukanya mengikuti kuliah.  

Outbound
Selain pengenalan berbagai fasilitas sekolah dan asrama serta operasionalnya, siswa juga diajak untuk kegiatan outbound atau aktivitas di luar kampus. Kegiatan outbound merupakan puncak dari fun-games yang diadakan sebelumnya.

Panitia MOS menganggap outbound ini merupakan kegiatan klimaks dari seluruh rangkaian acara MOS selama sepekan. Karena itu, setting acara memang dipersiapkan dengan baik tanpa meninggalkan tujuan utamanya adalah kepemimpinan, kerja sama, kekompakkan, persaudaraan, kekeluargaan, sportifitas dan rekreasi.

Siswa diajak berjalan kaki menuju ke sebuah taman luas yang bisa menampun ratusan orang. Kebetulan kami memiliki taman Kelong yang berjarak sekitar 30 menit dari sekolah. Mereka berjalan berbaris per kelompok.

Sesampainya di Kelong, panitia mengecek fisik setiappeserta. Bahkan diumumkan bagi peserta yang fisiknya kurang sehat, diharap untuk tidak ikut kegiatan dan beristirahat di tenda dalam perawatan tim medis. Kenyataannya, dari 150 siswa peserta MOS hanya ada lima yang tidak ikut berjalan kaki dan ada dua yang tidak ikut outbound dengan alasan sakit. Masalah kesehatan para peserta menjadi perhatian panitia MOS dan berada dalam monitoring tim medis sekolah.

Acara pertama adalah masing-masing kelompok menampilkan Yel-yel. Supaya tidak mononton, biasanya panitia memanggil satu peserta untuk “menghibur” para pendamping. Ini bukan bullying tetapi cara ini adalah salah satu usaha panitia mencari siswa-siswa yang berbakat dalam memimpin. Ada target setelah MOS, akan terpilih satu orang pemimpin untuk angkatannya dan ini sudah diseleksi sejak MOS dimulai.

Yang masuk dalam nominasi biasanya “digoda” dan diplonco untuk menunjukkan keberaniannya, tanggungjawab dan sportifitasnya. “Seorang pemimpin harus berwibawa di hadapan teman-temanya” lanjut Ignas.

Selain yel-yel, masing-masing kelompok menjalani permainan merayap di tanah becek, mencium bumi pertiwi, memindahkan air lumpur dari depan ke belakang. Pakaian menjadi kotor sudah merupakan bagian dari outbound.
Puncaknyanya adalah pembalasan kepada panitia atau seluruh siswa kelas XII yang berkumpul dalam satu tempat dan kemudian diserbu oleh peserta untuk dikotori dengan lumpur. Bagian ini diberi waktu hanya 8 menit saja. Tak boleh lebih. Ini bagian MOS yang paling seru dan setelah itu tak ada lagi balas dendam. Hubungan kakak adik dalam keluarga besar mengunci kegiatan MOS dalam semangat persaudaraan.

Penutupan MOS ini melihatkan para guru, pamong dan staf Yayasan. Bahkan, seluruh siswa kelas XI wajib datang karena tahun depan merekalah yang akan menjadi panitia. Diharapkan, dengan melihat penutuan MOS, mereka bisa merancang kegiatan MOS tahun depan lebih kreatif dan bermanfaat. Suasana penutupan MOS makin menarik dengan kehadiran alumni angkatan 9 (yang dulu memberi MOS buat panitia) juga hadir menyaksikan.

Kegiatan MOS ini menjadi awal untuk kegiatan lanjutan lainnya seperti LKTD, Bakti Sosial, Live-in, dan Retreat. Begitu seterusnya, sehingga MOS menjadi bagian dari program pembentukan karakter.

08 September 2012

OSN XI Jakarta 2012, SMA Lokon Sabet 3 Perunggu

TOMOHON by Losnito - Raih 4 Perunggu 1 Perak Di OSN XI, Kualitas Pendidikan Sulut Terangkat Sambil masing-masing memegang medali dan senyum ceria yang terpancar dari wajah mereka, ke empat siswa SMA utusan dari Propinsi Sulut tampak bahagia setelah diumumkan meraih medali perunggu di bidang Fisika, Astronomi, Kimia dan Ekonomi dalam ajang OSN XI yang diselenggarakan di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta tadi malam (7/9).

Keberhasilan mereka meraih perunggu dalam ajang OSN XI kali ini menjadi catatan sejarah bagi dunia pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di Sulut. Tak hanya itu, Sulut juga membawa pulang medali perak Matematika untuk SD. Dengan tambahan medali ini, Sulut menorehkan prestasi di ajang OSN XI Jakarta dengan 1 medali perak dan 4 perunggu.

“Baru sekarang, kita mendapat 3 medali sekaligus. Biasanya, hanya dapat satu saja bahkan kadang tidak sama sekali.” tulis Agnito, guru pendamping OSN 6 siswa utusan Sulut dari SMA Lokon St. Nikolaus di status FB-nya tadi malam setelah diumumkan para peraih medali OSN. Apa yang ditullis oleh Agnito itu, yang diharapkan dibaca oleh para pemerhati pendidikan dan penyelenggara pendidikan di Sulut.

Para peraih medali perunggu OSN XI tingkat SMA dari kontingen Propinsi Sulawesi Utara adalah Louis Putra Pandy (Kimia), Wiken Lengkong (Astronomi), Rhesa Tendean (Fisika), Igbal Taher (Ekonomi). Kecuali Igbal Taher yang berasal dari SMA Binsus Manado, ke tiga siswa lain peraih medali perunggu itu berasal dari SMA Lokon St. Nikolaus.
Louis Putra Pandi (Kimia), Bp. Fery Doringin, PhD (Kepsek SMA Lokon), Wiken Lengkong (Astronomi), Bp. Anton Tangketasik (Guru Fisika) dan Rhesa Tendean (Fisika) - photo by Agnito Moningka

Prestasi mereka di ajang OSN tahun ini selain mengukir sejarah baru di dunia pendidikan Sulut, juga menjadi barometer kualitas pendidikan di Indonesia Timur yang selama ini tenggelam oleh sekolah-sekolah yang berada di Indonesia bagian Barat, khususnya Jawa. Sejak OSN dimulai pada tahun 2002 hingga sekarang, juara umum selalu diraih oleh kontingen dari Jawa, seperti Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan di Jawa lebih maju daripada di luar pulau Jawa.

 “Membentuk generasi emas yang inovatif, berbudaya dan berdaya saing” ditetapkan menjadi tema OSN kali ini. Bahkan ketika pawai pendidikan tanggal 2 Mei 2012 di Tomohon, saya melihat banyak peserta membawa banner bertuliskan tema itu. Keseriusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia dibuktikan dengan mengadakan pembinaan berkelanjutan.

"Ya, kami melakukan pembinaan berkesinambungan untuk para juara OSN. Selain dikirim ke level internasional mereka juga mendapat kesempatan masuk PTN tanpa tes," kata Totok Suprayitno, Dirjen Kemendikbud, seperti yang ditulis dalam Kompas.com baru-baru ini. Perguruan Tinggi yang sudah bersedia menampung “pembinaan berkelanjutan” itu adalah UI, ITB, IPB, ITS dan UGM. “Kenyataannya program itu terkendali bukan dari pemerintah tetapi dari siswa sendiri. Ada yang meraih emas bidang matematika tetapi yang bersangkutan justru memilih jurusan biologi. Kami berharap agar siswa tetap konsisten pada bidang mata pelajaran yang disukai” ungkap Muhammad Nuh, Menteri Dikbud RI menjelaskan soal pembinaan itu sebagai bentuk penghargaan bagi para peraih medali emas OSN.

Meski ada perhatian dan penghargaan dari pemerintah, beberapa siswa yang ikut OSN menceritakan bahwa perjuangan untuk lolos di tingkat Nasional tak mudah. Dibutuhkan ketekunan, keuletan, semangat tinggi dan doa untuk bisa lolos ke tingkat Nasional meski diakui bahwa untuk meraih medali masih tergantung dari para juri dan Tuhan sendiri. Mereka juga bersyukur karena sekolah dan para guru pendamping juga andil dalam pembinaan dan pendampingan mereka melalui klub-klub sains setelah pulang sekolah di sore hari.

Wiken dan Michael, Louis Pandi, Rhesa Tendean - photo by Aginito

Kontribusi foto oleh Agnito Moningka, Wakasek TI Pembelajaran SMA Lokon
Tulisan ini dimuat di Kompasiana, silahkan klik di sini.

27 Agustus 2011

Obervatorium SMA Lokon




MANADO, KOMPAS.com - Sebuah observatorium memiliki sejumlah teleskop dan teropong canggih berlokasi di Sekolah Menengah Atas Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara, diresmikan penggunaannya, Senin (24/10/2011). Pendirian observatorium bernama Mount Lokon Observatory adalah terobosan pengelola SMA Lokon Tomohon menghadirkan ilmu astronomi kepada generasi muda, terutama di kalangan pelajar di Sulawesi Utara.

Ketua Yayasan SMA Lokon Ronald Korompis mengatakan, observatorium memberi manfaat besar bagi generasi muda dan pelajar Sulawesi Utara untuk pengembangan ilmu pengetahuan teknologi, terutama astronomi.
”SMA Lokon satu-satunya SMA di Indonesia yang memiliki fasilitas observatorium,” kata Ronald Korompis.


Guru SMA Lokon, Dr Mezak Ratag, mengatakan, Mount Lokon Observatory dibangun selama enam bulan dengan biaya sekitar Rp 5 miliar. Ia mengatakan, pembangunan kubah observatorium merupakan kemajuan besar bidang pendidikan astronomi di Sulawesi Utara.

”Untuk melihat dan meneliti bintang tak perlu jauh-jauh ke Observatorium di Bosscha, Bandung, Jawa Barat. Siswa cukup ke SMA Lokon di Tomohon,” kata Mezag Ratag, mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Dia mengatakan, beberapa teropong dan teleskop Mount Lokon Observatory adalah hasil teknologi canggih.

Di kubah observatorium berdiameter 5 meter itu, misalnya, ditempatkan teleskop otomatik Meade LX-200 GPS serta teleskop manual jenis Hunter yang didatangkan dari Australia. Keistimewaan Mount Lokon Observatory adalah dapat terkoneksi dengan teleskop luar angkasa milik NASA.

”Seluruh fasilitas yang ada bisa terkoneksi, termasuk dengan teleskop-teleskop lain yang masuk dalam jaringan World Wide Telescop,” kata Mezak Ratag. (zal)
sumber berita: Kompas Cetak